My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 4 - Flashback


__ADS_3

Flashback On


Nina dan Hendra memang sudah dekat sejak jaman sekolah menengah atas, orang tua mereka pun sudah saling tau dan sidang saling mengenal satu sama lain.


Setahun ini Nina bekerja sebagai sekertaris pribadi Hendra, orang tua Hendra pun mengetahui jika anaknya mendekati Nina. Namun sebenarnya, orang tua Hendra awalnya menentang Hendra untuk menikahi Nina yang sudah memiliki status janda.


"Nak... pilih istri tuh yang masih single, bukan yang janda," ucap mamah.


"Apa bedanya yang single dan janda?" tanya Hendra.


"Gak ada bedanya, tapi lebih bagus yang single," ucap mamah.


"Mamah liat sendiri, kalau yang single hanya ingin hartanya Hendra. Nina gak mungkin seperti itu, karna Nina sudah punya usaha sendiri dan almarhum suami Nina juga meninggalkan banyak harta untuk Nina dan anaknya. Tapi kalau mamah tetep ingin Hendra menikah dengan yang single, okay akan Hendra turuti kemauan mamah," ucap Hendra.


"Okay mamah akan restui hubungan kalian, tapi jangan salahkan mamah jika Harta kamu habis," ucap mamah.


"Kalau harta ku habis untuk Nina dan Agil, gak jadi masalah mah. Toh aku yang kerja, ini harta ku bukan harta mamah," ucap Hendra yang sudah mulai emosi karna kelakuan mamahnya.


"Ini ada apa sih, pagi-pagi udah ribut?" tanya papah.


"Ini pah, mamah ngelarang Hendra buat nikah sama Nina. Hanya karna Nina sudah berstatus Janda," ucap Hendra.


"Kenapa dibahas lagi sih mah, kan papah bilang Nina itu gak mungkin merebut harta Hendra. Harta untuk mamah gak akan hilang, harta papah masih banyak," ucap sang suami.


"Mamah takut aja, nanti kita jatuh miskin," ucap mamah.


"Astagfirullah... mamah Islam bukan?" tanya papah.


"Ya islamlah," ucap mamah.


"Apa dalam islam, kita di ajarkan untuk menjadi umat yang gila harta? apa kita diajarkan untuk seudzon sama orang? apa kita diajarkan untuk menjadi orang yang pelit? ingat mah, semua harta ini hanya Allah yang kasih. Sewaktu-waktu Allah bisa mengambil harta ini, jika kita tidak menggunakan harta ini dengan baik, tidak berbagi pada orang yang membutuhkan, ingat itu mah! apa mamah mau semua harta ini hilang?" tanya papah.


Sang istri langsung terdiam dengan sederet pertanyaan dari sang suami, istrinya lupa akan asal dari mana harta ini. Sebelum menjadi seperti yang sekarang, mereka pun merintis usaha dari bawah. Sang istri langsung menangis setelah mendengar ucapan suaminya.


"Astagfirullah... maafkan mamah! mamah khilaf, ini semua hanya titipan Allah semata. Dulu pun kita merintis usaha dari bawah, saling berbagi sama Orang-orang yang membutuhkan. Makanya sekarang kita dititipkan banyak rezeki," ucap mamah.


"Itu mamah tau! jadi masih mau tidak merestui hubungan Hendra dan Nina?" tanya papah.


"Nak maafkan mamah ya, mamah kadang suka lupa diri karna harta yang kita punya," ucap mamah.

__ADS_1


"Iya mah, gak apa-apa. Hendra mengerti kok, mamah takut harta papah hilang. Karna ini semua usaha mamah dan papah yang rintis dari bawah. Tapi harus diingat mah, ini semua hanya titipan dari Allah," ucap Hendra.


"Iya nak... baiklah mamah akan merestui kalian, bawa Nina dan anaknya kemari. Mamah ingin mengenal lebih dekat dengan mereka," ucap Mamah.


"Besok Hendra jemput mereka," ucap Hendra.


Hendra merupakan anak dari pengusaha yang bergerak di bidang kuliner, Hendra merintis usaha pembangunan apartment setelah belajar dari sang papah.


Keesokan harinya, Hendra menjemput Nina dan Agil untuk dibawa ke rumah orang tuanya Hendra.


"Ayah... kita mau ke mana?" tanya Agil.


"Kita mau ke rumah orang tuanya ayah Hendra, nanti Agil panggilnya eyang ya," ucap mamah.


"Beyayti, Agiy akan nambah nenek yagi ya," ucap Agil.


"Iya sayang," ucap mamah.


Akhirnya mereka tiba di kediaman orang tua Hendra, karna Hendra sendiri sudah tidak tinggal bersama orang tuanya.


"Assalamu'alaikum," ucap Hendra.


"Ini mah, Nina dan Agil," ucap Hendra.


"Agil, salam dulu sama eyang," ucap mamah Nina.


Agil pun langsung menyalami dan mencium tangan mamahnya Hendra, orang tua Hendra terharu melihat anaknya Nina sangat sopan sekali.


"Silahkan masuk nak," ucap papah.


"Makasih om, tante udah mengundang Nina dan Agil kemari," ucap Nina.


"Jangan panggil tante dan om, tapi panggil mamah dan papah," ucap mamahnya Hendra.


Hendra dan papah tersenyum, mendengar mamah yang bicara seperti itu. Padahal tadi malam menentang hubungan ini, semua berubah karna kehadiran Agil yang mampu meruntuhkan pertahanan mamahnya Hendra.


"Ini namanya siapa?" tanya Eyang.


"Nama aku Agiy, eyang," ucap Agil.

__ADS_1


"Maaf mah, Agil belum lancar bicara. Huruf L dan R jadi huruf Y," ucap Hendra.


Orang tua Hendra pun mengerti dengan apa yang dikatakan anaknya, mereka sangat senang dengan kehadiran Agil. Agil merupakan gadis kecil yang baik, tidak rewel, dan mandiri.


"Mah... Agiy pengen pipis," ucap Agil.


"Sini sama eyang diantar ke kamar mandinya," ucap mamahnya Hendra.


Agil pun mengikuti kemana arah ke kamar mandi, Agil pun sudah bisa sendiri. Dan begitu hati-hati mengambil air dan menuangkan air dari dalam gayung. Mamahnya Hendra begitu terharu melihat calon cucunya yang sangat pintar dan sangat mandiri.


"Pintar sekali Agil, Nina berhasil menjadi orang tua yang baik untuk anaknya," gumam mamahnya Hendra dalam hati.


Akhirnya Agil sudah beres dari kamar mandinya, lalu Agil kembali duduk di samping mamah Nina.


"Nin... Agil umur berapa?" tanya mamahnya Hendra.


"Mau 3 tahun mah," ucap Nina.


"Ya sudah, mari kita makan siang dulu," ucap mamahnya Hendra.


Semua pun berjalan ke arah meja makan, Nina hanya mengambil makan untuk Agil selebihnya makan sendiri. Orang tua Hendra dibuat bangga melihat kepintaran dan kemandirian Agil yang bisa makan dengan sendiri.


Setelah makan siang bersama, Agil paling senang mendekati Hendra untuk minta di belai kepalanya. Ini sudah jamnya Agil untuk tidur, siang. Agil meminta di gendong sama Hendra.


"Ayah," ucap Agil.


Hendra sudah mengerti, bila Agil seperti itu. Agil pun di gendong dan Hendra mengelus punggung Agil, tak lama Agil pun tertidur dalam gendongan dan pelukan Hendra.


Orang tua Hendra bahagia, melihat Hendra yang begitu menyayangi Agil. Walaupun bukan anak kandungnya, tapi Hendra menyayangi Agil seperti anak kandungnya.


Nina mengambil kasur kecil dan guling kesayangan Agil dari mobil, dan merebahkan Agil di atas kasur sambil memeluk guling kesayangannya. Hendra masih mengelus punggung Agil dan membelai kepala Agil, karna Agil belum terlalu pulas tidur.


"Hen, kapan kamu akan menikahi Nina?" tanya mamah.


"Tahun depan mah, sekalian ulang tahun Agil," ucap Hendra.


Hendra sebelumnya memang sudah membicarakan hal ini dengan Nina, dan Nina menyetujui dengan keputusan itu.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2