My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 3 - Ayah Baru


__ADS_3

Setahun sudah Nina bekerja sebagai sekertaris pribadi Hendra, kedekatan mereka pun sudah tidak bisa di ragukan lagi. Akhirnya Hendra dan Nina menikah, karena tidak ingin menimbulkan fitnah. Hendra begitu sangat menyayangi Agil, karna Agil merupakan anak dari sahabatnya.


Semakin hari, kosa kata Agil dalam bicara sudah semakin baik dan benar. kedua neneknya Agil yang mengajarkan berbicara yang benar, sehingga Agil semakin cerewet dan banyak pertanyaan.


"Holeee Agil punya ayah lagi," ucap Agil.


Pernikahan Hendra dan Nina, tepat di hari ulang tahun Agil di tanggal 3 April, dan Nina ulang tahun di tanggal 10 April.


"Agil senang punya ayah lagi?" tanya mamah.


"Agil senang mah, punya 2 ayah. Ada ayah Agas yang sudah di samping Allah dan ayah Hendra," ucap Agil.


"Kalau Agil sayang sama ayah Hendra, kecup keningnya ayah," ucap mamah.


Agil pun berjalan mendekati Hendra, lalu memeluk sang ayah dan mengecup kening Hendra.


"Agil sayang sekali sama ayah Hendla," ucap Agil.


"Ayah juga sayang sekali sama Agil," ucap ayah yang sambil menggendong Agil.


Semua sedang menyiapkan syukuran ulang tahun Agil, hanya mengundang keluarga, tetangga, dan teman terdekat.


Syukuran ulang tahun Agil pun telah selesai, banyak kado yang di terima Agil. Agil senang sekali mendapatkan banyak kado, hadiah spesial dari orang tuanya berupa seekor kucing Angora campuran persia.


Agil pun membuka semua kado, dan terakhir membuka kado dari sang ayah yang sudah meninggal. Agil mendadak menangis, karna ini kado yang terakhir Agil minta pada sang ayah.


"Kenapa menangis nak?" tanya mamah.


"Ini kado yang Agil minta sama ayah Agas," ucap Agil sambil menangis.


Flashback On


"Ayah... kayo Agiy uyang tahun, Agiy mau minta kado yego beybi yang gede," ucap Agil.


"Ayah akan belikan, asalkan Agil harus jadi anak baik, jangan cengeng, harus rajin ngaji," ucap ayah.


"Agiy janji yah! Agiy akan tuyutin apa yang dikatakan ayah," ucap Agil.


Flashback Off


"Iya ini kado dari ayah Agas untuk Agil," ucap mamah.


"Ayah... Agil janji akan jadi anak baik, gak cengeng, lajin ngaji, lajin solat," ucap Agil.


Nina yang tak kuat menahan haru dengan ucapan anaknya, Nina langsung memeluk anak semata wayangnya yang semakin pintar ini.


"Biar Agil gak sedih lagi, ayah sama mamah mau kasih hadiah buat Agil. Tapi Agil tutup matanya," ucap ayah Hendra.


Agil pun langsung menutup matanya, karna hadiah dari orang tuanya sangat spesial untuk Agil.

__ADS_1


"Sekarang buka matanya," ucap ayah Hendra.


Agil membuka mata, dan melihat ada sebuah dus besar. Agil langsung membuka hadiahnya, dan Agil langsung berteriak dengan bahagia.


"Holeee... dapat meong," ucap Agil.


"Suka sama meongnya?" tanya mamah.


"Suka sekali mah, makasih mah," ucap Agil.


"Bilang juga sama ayah Hendra," ucap mamah.


"Makasih yah, untuk hadiah meongnya," ucap ayah.


"Di rawat, di urusin meongnya ya," ucap ayah.


"Iya yah, Agil janji akan lawat dan ulus meongnya," ucap Agil.


"Mau di kasih nama siapa?" tanya mamah.


"Namanya Muezza, kaya nama kucingnya nabi Muhammad," ucap Agil.


Agil membawa Muezza ke halaman belakang, mamah membantu Agil membawa kandang kucing ke belakang. Hendra melihat ketelatenan anak tirinya itu, yang begitu sayang sama kucingnya. Setelah memasukkan kucingnya ke kandang, Agil merapikan kado-kadonya di kamar Agil.


Agil sudah di biasakan untuk tidur di kamarnya, meskipun sebelum tidur harus di temani dulu oleh nenek atau omahnya. Hendra dan Nina merasa bahagia melihat anak gadisnya yang begitu mandiri, dan sudah tau akan tugasnya.


"Agil mandi dulu ya, ini udah sore," ucap mamah.


Selesai membereskan kamarnya, Agil segera mandi dan mengambil wudhu untuk solat Maghrib. Meskipun doa-doanya belum lancar dan hapal, tapi niatnya Agil tak pernah terlewatkan.


"Kita liat Agil yu mas," ucap Nina.


"Ayo mah, itu anak udah mandi atau belum," ucap Hendra.


Saat membuka pintu, Agil sedang berdoa.


"Ya Allah... makasih udah kasih Agil umul, sekalang Agil umul tiga tahun. Telima kasih ya Allah udah kasih ayah lagi untuk Agil, Agil bahagia sekali ya Allah. Ya Allah titip doa untuk ayah Agas, bial ayah Agas bahagia di sulga belsama Allah. Ya Allah kabulkan doa Agil ya, bilangin sama mamah, kalau Agil pengen adek. Ya Allah maaf ya, kalau Agil banyak maunya, kalna Agil cuman bisa beldoa sama Allah. Kabulkan doa Agil ya Allah," ucap Agil dalam doa.


Hendra dan Nina terharu mendengar doa dari anak gadisnya, yang tanpa diajarin cara berdoa sama Allah. Nina pun menghapus air matanya, dan menghampiri Agil.


"Assalamu'alaikum," ucap mamah.


"Walaikumsalam mamah," ucap Agil.


"Kita makan yu," ucap ayah.


"Bental yah, Agil belesin sejadah sama mukenanya dulu," ucap Agil.


Agil pun merapikan sejadah dan mukenanya, tanpa disadari Nina sudah meneteskan air matanya lagi, melihat Agil yang begitu dewasa dan mandiri.

__ADS_1


"Mamah kenapa nangis?" tanya Agil.


"Mamah bahagia punya Agil, karna semakin dewasa dan semakin mandiri," ucap mamah.


"Agil kan udah gede, jadi Agil halus mandili," ucap Agil.


Hendra yang mau menggendong Agil, Agil menolaknya.


"Agil udah gede yah, jadi gak mau di gendong lagi," ucap Agil.


"Oh iya ayah lupa, Agil udah besar. Maaf ya nak!" ucap Ayah.


"Iya ayah gak apa-apa," ucap Agil.


Akhirnya mereka bertiga keluar dari kamar Agil, untuk makan malam. Omah dan nenek sudah menunggu di meja makan.


Akhirnya mereka semua makan malam bersama tanpa suara, hanya ada suara dentingan garpu dan sendok di atas piring.


Semua melihat cara Agil makan, dan makannya tanpa berisik. Piring pun bersih, tidak ada sisa nasi sedikit pun.


Setelah makan, mereka berkumpul di ruang tamu. Agil memegang perut sang mamah.


"Kenapa nak?" tanya mamah.


"Semoga cepet ada dedek bayi ya mah," ucap Agil.


Semua pun terbengong dengan ucapan Agil, yang berdoa biar ada cepet dedek bayi.


"Agil tau dari mana, kalau nanti di perut mamah ada dedek bayi?" tanya mamah.


"Kata onty Ocha, nanti mamah hamil dan bisa kasih Agil seolang adik," ucap Agil.


Ocha adalah adik dari Hendra, saat ini Ocha sedang hamil anak kedua. Hendra pun hanya bisa tersenyum ke arah istrinya, karna ucapan Ocha yang terserap oleh Agil.


"Ayah... kata onty Ocha, hanya ayah yang bisa bikin mamah jadi hamil dan ada dedek bayi di pelut mamah," ucap Agil yang masih polos, dan belum mengerti hal yang bisa bikin hamil.


Hendra pun kaget mendengar ucapan Agil yang begitu, Hendra hanya bisa tersenyum ke arah sang istri.


"Astafirullah Cha, lu ngomong apa aja sama Agil. Hendra tau kalau Agil itu mudah menyerap omongan orang, harus di kasih tau nih si Ocha biar gak asal ngomong sama Agil," gumam Hendra dalam hati.


Agil yang masih terus mengusap perut sang mamah, tanpa terasa mata Agil mulai semakin berat untuk terbuka. Tidurlah Agil dalam pangkuan sang mamah, Hendra menggendong sang anak dan merebahkan tubuh anaknya di atas ranjangnya.


Nina dan Hendra pun keluar dari kamar Agil, dan masuk ke kamar mereka. Hari sudah semakin malam, hari ini pun bisa di bilang malam pertama bagi mereka.


"Mah... maafin ucapan Ocha ya, aku malu sama mamah. Agil jadi bilang yang aneh-aneh," ucap Hendra.


"Iya yah, gak apa-apa. Nanti kasih tau aja, jangan asal ngomong di hadapan Agil. Karena Agil lagi sering menyerap semua ucapan kita," ucap Nina.


"Besok, aku ngobrol sama Ocha!" ucap Hendra.

__ADS_1


Hendra pun menggendong tubuh sang istri ke atas ranjang, malam ini adalah malam pertama bagi mereka.


__ADS_2