My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 9 - USG Dedek Bayi


__ADS_3

4 bulan kemudian


Hari ini usia kehamilan Nina memasuki usia kandungan 28 minggu atau 7 bulan, Hari ini jadwal pemeriksaan. Nina, Hendra, dan Agil sudah bersiap untuk pergi untuk bertemu dokter Feby Maharani.


"Mamah... hari ini kaka udah bisa liat dedek lagi ya," ucap Agil.


"Iya kaka... bentar lagi dedek bayi akan keluar ke dunia, kaka sudah siap untuk jaga dedek bayi?" tanya mamah.


"Kaka sudah siap untuk jaga dedek dan mamah nanti," ucap Agil.


Akhirnya mereka tiba di klinik dokter kandungan, dan sekarang sudah berada di ruangan dokter Feby.


"Selamat datang semua," ucap dokter Feby.


"Hai ibu dokter, kaka lagi menjaga mamah untuk memeriksa kondisi dedek bayi," ucap Agil.


"Wah... kaka Agil semakin pintar saja, hari ini kita akan liat, jenis kelamin dedek bayi. Kaka Agil mau punya dedek bayinya berjenis kelamin apa?" tanya dokter.


"Mau apa aja ibu dokter, yang penting dedek bayi sehat dan mamah juga sehat," ucap Agil.


Semua yang ada di ruangan terharu lagi dengan ucapan gadis kecil yang umurnya baru akan 4 tahun.


"Silahkan bu, tiduran disini," ucap suster.


Nina mengikuti arahan dari suster, suster pun menyiapkan alat USG dan membalurkan gel (jel) di atas perut Nina.


Dokter Feby sudah siap, untuk memberikan informasi perkembangan kondisi dedek bayi di dalam perut Nina.


"Allhamdulilah ibu, kondisi dedek bayi sangat sehat, berat badan dan panjangnya juga sesuai usia kandungan. Berat 1800gram dan panjang 36cm, dan jenis kelaminnya laki-laki," ucap Dokter Feby.


"Allhamdulilah ya Allah...makasih ya Allah, udah kabulin doa Agil yang minta dedek bayinya laki-laki," ucap Agil.


"Kenapa kaka pengen adiknya laki-laki?" tanya mamah.


"Biar nanti, kalau kaka udah gede. Ada yang jagain mamah, kalau pas kaka lagi gak ada di samping mamah," ucap Agil.


Nina dan Hendra terharu mendengar penuturan ucapan Agil, yang semakin hari semakin dewasa. Tau mana yang baik dan mana yang gak baik, Agil pun sudah tau harus seperti apa nantinya.

__ADS_1


"Makasih ya anak pertama mamah yang hebat, baik, semakin dewasa, dan semakin mandiri," ucap mamah.


"Ayah bangga sama kaka, yang semakin cantik," ucap ayah.


"Selamat ya bu, dapat anak sulung yang hebat. Jarang banget ada anak pertama yang mau menerima adiknya. Tapi ibu dan bapak juga harus tetap perhatian sama Agil, soalnya takut ada kecemburuan sosial," ucap dokter Feby.


"Insya Allah dok, kami akan selalu bersikap adil sama anak-anak kami kelak," ucap Hendra.


"Oh iya dok, kalo dokter praktek dimana saja selain disini?" tanya Nina.


"Saya praktek di rumah sakit Borromeus, kalau disana saya stay setiap hari ada," ucap dokter Feby.


"Wah... kalau begitu, nanti saya lahiran disana sama dokter aja ya," ucap Nina.


"Bisa sekali bu, nanti hubungi saja saya kalau udah ada tanda-tanda mau lahiran," ucap dokter Febby.


"Baik dok! kalau nanti saya akan lahiran, saya hubungi dokter. Terima kasih untuk sebelumnya," ucap Nina.


"Ibu dokter, Agil pamit pulang dulu ya," ucap Agil sambil menyalami tangan dokter Feby.


Nina, Hendra, dan Agil pun pamit pulang. Dalam perjalanan pulang Agil melihat banyak sekolah-sekolah.


"Mah... Agil pengen sekolah," ucap Agil.


Nina dan Hendra bengong, setelah Agil berkata ingin sekolah.


"Kan umur Agil belum 4 tahun, kenapa Agil ingin sekolah?" tanya mamah.


"Agil pengen bisa baca, biar nanti pas dedek bayi lahir bisa bacain dongeng buat dedek," ucap Agil.


Hendra dan Nina yang mendengar ucapan anaknya, merasa bangga dan terharu karna keinginannya.


"Ya udah besok, kita ke sekolah. Tapi kalau kaka gak kuat sekolahnya, jangan di paksa ya," ucap ayah.


"Iya ayah... makasih ayah," ucap Agil sambil memeluk ayahnya dari belakang, karna terhalang jok di mobil.


"Sama-sama sayang, sekarang kaka duduk. Karna kita akan ke rumah eyang. Di sana ada Onty Ocha dan adek Rizal," ucap ayah.

__ADS_1


"Horeeee ketemu adek Rizal," ucap Agil.


Agil duduk dengan manis, namun karna perjalanan sedikit macet. Agil mulai tertidur di car seatnya sambil memeluk guling kesayangannya.


"Aku tak menyangka, akan punya anak sedewasa dan semandiri seperti Agil," ucap Nina.


"Aku pun tak menyangka, yang aku pikir Agil akan rewel, akan bikin kita pusing. Ternyata dia membuat kita selalu terharu dan bahagia karna ucapan dan tingkah lakunya," ucap Hendra.


"Iya mas, aku pun begitu," ucap Nina.


"Nasehat Agas selalu melekat di dalam hati dan pikirannya. Agas selalu bilang jangan cengeng, harus mandiri. Agas berhasil membentuk Agil menjadi gadis cilik yang mempunyai pribadi yang baik," ucap Hendra.


"Mas Agas selalu mengatakan itu untuk Agil, dan Agil mampu menerapkan dalam kehidupannya. Mungkin dengan sekolah, dia bisa jadi gadis yang lebih baik lagi," ucap Nina.


"Iya kita akan mencari sekolah bermain, tapi tetap mengajarkan untuk membaca, menulis, dan agama islamnya kuat. Biar Agil bisa jadi gadis yang punya pribadi baik dan semakin sholehah," ucap Hendra.


"Makasih ya mas, udah jadi ayah yang baik untuk Agil. Selalu menjadi orang yang paling favorit untuk Agil, awalnya aku takut kalau mas tidak bisa menerima kehadiran Agil. Namun nyatanya mas, seperti ayah kandungnya Agil. Mas tak pernah membedakan Agil," ucap Nina.


"Aku tau gimana rasanya, kalau seorang anak tiba-tiba ada kehadiran orang yang di luar keluarganya. Aku pun masih belajar untuk menjadi ayah yang baik, insya Allah kalau nanti anak kita lahir. Mas akan selalu bersikap adil untuk Agil dan calon bayi kita," ucap Hendra.


Hendra dan Nina akhirnya tiba di rumah orang tuanya Hendra, namun Agil masih tertidur dengan pulas. Hendra pun menggendong Agil yang masih tidur, lalu Hendra masuk ke dalam rumah sambil menggendong Agil. Karna Hendra tau, kalau Agil akan menangis bila di rebahkan dan terbangun di tempat yang bukan dia kenali tempatnya.


"Kaka Agil bangun," ucap Rizal.


"Kaka Agil nya masih bobo, mungkin sebentar lagi bangun," ucap Hendra.


Rizal pun memandangi Agil yang sedang tidur, lalu Rizal tersenyum ketika melihat Agil yang sudah mulai membuka matanya.


Agil pun membuka matanya, lalu melihat berada dimana. Ternyata Agil sudah sampai di rumah eyang.


"Anak ayah udah bangun, enak bobonya?" tanya ayah.


Agil hanya menganggukkan kepala, lalu menyandarkan kepalanya lagi di dada ayahnya. Mungkin Agil masih mengantuk.


"Kita ke kamar mandi dulu yu, kaka buang air kecil dan cuci muka dulu," ucap ayah.


Agil hanya menganggukkan kepalanya, lalu menuruti perintah ayahnya. Setelah dari kamar mandi, mamah Nina memberikan gelas yang berisi air putih untuk Agil.

__ADS_1


__ADS_2