My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 32 - Manja dan Emosi


__ADS_3

Fahmi mulai memperbaiki diri, dengan memohon ampun pada sang Maha pencipta, Fahmi sudah mandi bersih, dan sudah mengambil wudhu. Fahmi mau solat maghrib, selama ini Fahmi sudah melupakan solatnya dan jauh dari agama.


"Ya Allah, ampuni dosa-dosa Fahmi. Fahmi tau sudah salah, tapi kali ini Fahmi ingin menjadi laki-laki yang baik lagi. Fahmi janji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, Fahmi bertobat ya Allah," ucap Fahmi dalam doa.


Setelah solat, Fahmi turun ke bawah. Karna perut Fahmi sudah minta untuk makan. Mamah Nina masih menyiapkan makan malam, Fahmi duduk di sebalah ayah Hendra dan bergelayut manja.


"Kenapa nak?" tanya ayah.


"Fahmi kangen aja bermanja-manjaan sama ayah," ucap Fahmi.


Ayah Hendra bingung dengan sikapnya Fahmi, karna Fahmi tidak biasanya seperti ini. Mamah Nina yang melihat Fahmi manja, nampak bingung.


"Yah, rasanya Fahmi ingin kembali ke masa kecilnya Fahmi. Yang selalu di manja sama ayah, mamah dan kaka. Sekarang ayah sibuk kerja, kakak sibuk sekolah dan sibuk pacaran, terus Fahmi sama siapa?" tanya Fahmi.


Ayah yang mendengar pernyataan dan pertanyaan Fahmi, hanya bisa tersenyum.


"Emang adek pengen kaya gimana?" tanya ayah.


"Sekarang kaka gak pernah peluk Fahmi dari belakang lagi, kaka gak pernah kecup kening Fahmi lagi. Fahmi rindu itu," ucap Fahmi.


Agil yang baru saja turun di temani suster, mendengar keluh kesah Fahmi pun menjadi sedih.

__ADS_1


Agil berjalan ke arah Fahmi, dan memeluk Fahmi dari belakang. Dan mengecup pipi Fahmi.


"Maafin kaka ya, karna kesibukan kaka. Fahmi jadi merasa kehilangan kaka. Kaka gak akan pernah lupa sama kebiasaan kaka buat Fahmi," ucap Agil.


Fahmi pun langsung meneteskan air mata, karna rasa rindu yang sudah tak terbendung lagi. Ayah Hendra dan mamah Nina yang melihat adegan itu, membuat hatinya terharu, semua pun memeluk Fahmi.


"Maaf ya dek, kaka gak ada maksud buat melupakanmu," ucap Agil.


"Iya kak, mungkin Fahmi juga yang salah," ucap Fahmi.


Akhirnya makan malam bersama lagi, hari ini sudah tidak ada suster lagi untuk menjaga Agil. Agil ingin memutuskan hubungan pacaran dengan Rendy, setelah tau siapa Rendy sesungguhnya.


"Hai Ren, sorry ya! mungkin kemarin aku terlalu buru-buru menerima mu untuk jadi pacarku. Sekarang aku cuman mau bilang, lebih baik kita putus aja ya, karna aku sedang tidak ingin berpacaran. Apalagi setelah tau, kamu menyewa Sabila untuk memuaskan hasratmu. Semoga kamu bisa dapatkan wanita yang lebih baik dari ku," isi pesan Agil untuk Rendy.


"Dek berikan pelukan yang mesra itu untuk kaka, dan cium kaka lagi ya," ucap Agil sambil berbisik di telinga Fahmi.


Fahmi tak bisa menjawab, karna masih ada orang tua mereka. Fahmi pun hanya menganggukan kepala dan tersenyum, Fahmi bingung harus mengatakan apa pada sang kaka.


"Nak...besok mamah dan ayah mau ke Jakarta karna ada tugas kantor, mbak Entun juga mau ke rumah sodaranya dulu. Kalian di tinggal berdua di rumah gak apa-apakan!" ucap mamah.


"Iya mah gak apa-apa, makan juga paling tinggal beli online aja," ucap Agil.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang kalian tidur. Besok ayah dan mamah pergi subuh," mamah.


Agil dan Fahmi pun menaiki tangga, mereka berjalan berdua menuju kamar masing-masing.


"Met tidur kaka cantik," ucap Fahmi sambil mengecup kening Agil.


Namun Agil dengan sengaja membungkam mulut Fahmi, Fahmi yang terkaget langsung melepaskan bungkaman dari sang kaka.


Fahmi masuk kamar, Agil tidak pantang menyerah. Agil mengejar Fahmi, dan memeluk Fahmi dari arah belakang.


"Kaka mohon, berikan pelukan dan ciuman itu untuk yang terakhir kalinya," ucap Agil.


"Fahmi bilang gak bisa, ya gak bisa! gak usah maksa Fahmi," teriak Fahmi, untungnya kamar Fahmi kedap suara. Jadi teriakan Fahmi tidak akan terdengar keluar kamar.


Agil terkejut dengan teriakan Fahmi, baru kali ini Fahmi berteriak dan mengamuk.


"Sekarang keluar dari kamar Fahmi, jangan pernah paksa Fahmi," ucap Fahmi dengan nada tinggi.


Fahmi merupakan tipe anak yang gak bisa di paksa, jika tidak mau ya tidak mau. Maka dari itu, orang tuanya tidak pernah memaksa Fahmi.


Agil terkejut dengan nada tingginya Fahmi, baru kali ini lagi melihat Fahmi mengamuk. Agil pun keluar dari kamar Fahmi dengan rasa kecewa dan sedih, tapi Agil juga tidak bisa memaksakan keinginan Agil.

__ADS_1


Agil menangis saat keluar dari kamar Fahmi, Fahmi yang masih diliputi rasa emosi pun tidak peduli dengan apa yang terjadi pada kakanya.


__ADS_2