
Flashback On
1 minggu sebelum Nina melahirkan, ibunya Agas meninggal dunia. Ibunya Agas kena serangan jantung mendadak, tiba-tiba pingsan saat lagi masak.
Saat di bawa ke klinik terdekat, ternyata ibunya Agas telah meninggal dunia. Meninggal ibunya Agas menyisakan kesedihan bagi Nina dan Agil, merekalah yang selama ini dekat dengan ibunya Agas.
Ibunya Agas sudah tidak punya sanak keluarga di Bandung, rata-rata di luar pulau Jawa. Karna aslinya Agas itu dari Kalimantan, dan masih banyak sanak keluarga di sana.
"Nek... jangan tinggalin kaka! kalau nenek pergi, siapa yang jaga kaka dan anter kaka sekolah," ucap Agil dengan menangis.
"Bu... tenang di alam sana ya, makasih ya bu selama ini udah menjaga Nina dan kaka Agil selama ini. Salam buat mas Agas di surga sana ya bu," ucap Nina sambil menangis.
Akhirnya acara pemakaman ibunya Agas telah selesai, namun Agil masih merasa kehilangan. Karna saat Nina sebelum menikah dengan Hendra, ibunya Agaslah yang menjaga Agil ketika Nina bekerja.
"Nak.. solat maghrib dulu yu, kita solat berjamaah," ucap ayah.
"Iya yah, kaka ambil wudhu dulu," ucap Agil.
Agil pergi ke kamar mandi, dan mengambil air wudhu untuk menjalankan solat maghrib. Ritual solat berjama'ah pun telah selesai, kini dilanjutkan berdoa.
"Ya Allah... kaka sangat kehilangan nenek, kalau nenek gak ada lagi disini! siapa yang anter kaka sekolah. Ya Allah tempatkan nenek di sisimu ya Allah, nenek orang baik. Ya Allah salam untuk ayah Agas, kaka sebentar lagi mau punya adik. Ya Allah sampaikan salam sayang untuk ayah Agas, kaka sayang banget sama ayah," ucap Agil dalam doa.
Nina dan Hendra terharu mendengar doa gadis kecilnya, ritual solat dan doa pun telah selesai. Kini waktunya makan malam, mbak Entun sudah menyiapkan makan malam.
Nina dan Hendra melihat Agil yang merasa kehilangan banget, jadi ikut sedih melihat anak gadisnya murung seperti ini. Nina dan Hendra akan berencana liburan, agar anaknya tak murung dan bersedih terus menerus.
Makan malam pun telah selesai, Hendra menggendong Agil agar tenang. Sejak makan malam, air mata Agil tidak berhenti. Mungkin Agil teringat lagi dengan neneknya yang baru saja meninggal.
"Sini ayah gendong yu," ucap ayah.
Agil pun di gendong oleh Hendra, hingga tertidur. Malam ini Agil di bawa tidur bertiga dengan orang tuanya, karna Hendra merasa sedih bila harus meninggalkan Agil untuk tidur sendiri.
"Sudah tidur?" tanya sang istri.
"Sudah, biarkan dia tidur disini ya. Aku tidak tega meninggalkan kaka tidur sendirian," ucap sang suami.
"Iya! lagian semenjak kita menikah, jarang banget tidur bertiga. Di tambah anaknya juga susah di ajak tidur bareng," ucap Nina.
"Dia udah mandiri, jadi susah buat tidur bareng lagi," ucap Hendra.
"Kita rencanakan liburan aja yu, biar kaka gak sedih terus," ucap Nina.
"Lagian sekolahnya kaka gak terlalu ketat, dan kaka masih di anggap anak bawang juga. Jadi bisa ijin beberapa hari untuk ke Bali, sekalian kita nengok Ocha disana bersama keluarga kecilnya," ucap Hendra.
__ADS_1
"Kaka pasti senang, akan bertemu Rizal dan Rindy," ucap Nina.
"Ya udah, mamah tidur! mamah juga harus banyak istirahat," ucap Hendra sambil mengecup kening sang istri.
Hendra masih berjaga, takutnya ada apa-apa sama Agil. Soalnya kalau hati Agil sedang tidak tenang, Agil sering terbangun.
Tanpa sadar, Agil memeluk sang ayah. Hendra pun dengan sigapnya memeluk anak gadisnya itu sambil mengecup kening anaknya.
🥰🥰🥰
Adzan subuh sudah berkumandang, Hendra dan Nina sudah bangun. Mencoba membangunkan Agil, namun tidak bangun. Hendra dan Nina pun tidak mempermasalahkan itu, lagian Agil masih kecil juga.
Nina langsung beres-beres di dapur, seperti rutinitas biasanya. Hendra menemani Agil di kamar.
"Nenek... nenek jangan pergi nek, kaka gak mau nenek pergi," Agil mengigau dalam tidurnya.
"Ya Allah nak, kamu masih merasakan kehilangan nenek," gumam Hendra dalam hati.
Hendra mencoba untuk mengecup kening Agil, namun Hendra kaget dengan suhu tubuh Agil yang demam. Hendra pun keluar kamar, untuk mencari istrinya.
"Mah...kaka demam!" ucap Hendra.
Nina segera menyiapkan kompresan yang langsung di tempel di kening, Nina juga menyiapkan obat untuk Agil.
"Yah... titip kaka ya, mamah mau bikin bubur untuk kaka," ucap Nina.
"Iya mah," ucap Hendra.
"Sayangnya ayah yang cantik, sakitnya jangan lama-lama ya. Ayah akan ajak kaka dan mamah liburan, jadi kaka cepet sembuh ya," ucap Hendra sambil memeluk anaknya dan mengecup keningnya.
Hendra pun ikut tidur di samping Agil, Agil masih tidur pulas. Tiba-tiba saja Agil terbangun.
"Yah.. ayah," ucap Agil.
Hendra pun terbangun, setelah mendengar suara Agil.
"Iya kak, kenapa?" tanya ayah.
"Kaka pengen pipis, tapi kepala kaka pusing," ucap Agil.
"Iya kaka demam, sini ayah bantu gendong ya," ucap ayah.
Agil pun di bantu ke kamar mandi, namun di dalam kamar mandi, Agil tetap sendiri.
__ADS_1
"Ayah udah," teriak Agil.
Hendra pun membantu Agil keluar dari kamar mandi, dan menempel dalam gendongan sang ayah.
"Kaka mau bobo lagi atau mau nonton tv?" tanya ayah.
"Nonton TV tapi di gendong sama ayah, sama bawa guling," ucap Agil.
"Iya boleh," ucap ayah.
Agil pun nyaman dalam gendongan sang ayah sambil memeluk guling, tak lupa Hendra menutup tubuh Agil dengan selimut kecil, agar tidak kedinginan.
Agil menonton sambil di gendong ayah, mamah Nina melihat anaknya yang manja pada Hendra. Nina merasa tenang, karna Hendra tidak pernah merasa keberatan dengan sikap dan tingkah laku Agil.
"Sayangnya mamah, mau makan bubur? biar minum obat, terus biar bisa cepet sembuh," ucap mamah.
Agil pun hanya bisa mengangguk, Nina langsung mengecup keningnya Agil. Mamah mau menyuapi Agil, namun Agil gak mau.
"Mau disuapin sama ayah," ucap Agil.
Hendra pun mengambil sendoknya, dan menyuapi Agil. Dengan lahapnya, Agil menghabiskan bubur satu mangkok.
Setelah makan bubur, Agil minum obat.
"Kaka cepet sembuhya! kalau kaka sembuh, nanti ayah bawa kaka ketemu onty Rosha, uncle Rendy, dedek Rizal, dan dedek Rindy," ucap Ayah.
Agil pun tidak banyak mengeluarkan suara, mungkin merasa ngantuk dan pusing. Agil pun kembali tertidur, Hendra niat membaringkan tubuh Agil di kasur. Namun Agil menangis, dan tak mau di rebahkan di atas kasur. Mau tak mau, Hendra menggendong Agil seharian.
"Maaf ya yah, kaka lagi manja," ucap Nina.
"Iya gak apa-apa, asal jangan tiap hari aja seperti ini," ucap Hendra.
Hendra memindahkan Agil ke mamahnya, karna Hendra ingin ke kamar mandi. Namun reaksi Agil ngamuk dan nangis. Hendra pun hanya bisa menghela nafas panjang, melihat anak sulungnya yang lagi manja.
Setelah tiga hari, akhirnya demamnya Agil sembuh. Yang tadinya mau ke Bali, namun Rosha dan keluarga kecilnya yang ke Bandung. Setelah mengetahui, kalau Agil sakit.
Setelah sembuh, Hendra mengajak keluarganya liburan ke villa di Puncak. Agil bahagia, dan terlihat lagi muka happynya. Setelah di tinggal neneknya meninggal dunia, kini muka gembiranya sudah kembali.
Agil berenang bersama Rizal, dan Rindy yang di temani oleh Hendra dan Rendy. Akhirnya liburan telah usai, semua sudah kembali ke rumah masing-masing.
Agil kembali demam, karna saking bahagianya sampe lupa kalau Agil baru saja sembuh dari demam. Kini Hendra menjadi sasaran manjanya Agil ketika lagi demam.
Flashback Off
__ADS_1