My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 40 - Fahmi vs Azahra


__ADS_3

Hari ini hari ulang tahun pernikahan yang ke 30 tahun, serta ulang tahun mamahnya yang ke 45 tahun. Hendra dan sang ayah membuat acara makan malam di rumah, dengan mengundang orang-otang terdekat, terutama keluarga.


"Barakallah fii umrik eyang," ucap Fahmi sambil memeluk eyang.


"Terima kasih cucu eyang yang ganteng," ucap eyang.


Hendra, Nina, dan Agil datang ke rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Hendra.


"Walaikumsalam," ucap mamah.


Fahmi melihat orang tuanya datang bersama Agil, Fahmi langsung pergi ke kandang Sesil. Hendra melihat Fahmi yang begitu, hanya bisa menghela nafas.


Hendra mendekati Fahmi.


"Dek...jangan gitu dong, nanti gak enak kalau di liat banyak tamu," ucap ayah.


"Sekarang belum banyak tamu," ucap Fahmi sambil pergi meninggalkan Hendra.


Hendra tidak ingin membuat Fahmi emosi, akhirnya Hendra pun mengikuti Fahmi berjalan dari belakang. Fahmi langsung duduk di ruang TV, Tiba-tiba ada tamu datang.


"Assalamu'alaikum," ucap dokter Irwan.


"Walaikumsalam," ucap Hendra.


Fahmi seperti mendengar suara yang di kenal, ternyata itu dokter Irwan.


"Assalamu'alaikum dokter," ucap Fahmi.


"Walaikumsalam Fahmi, apa kabar?" tanya dokter Irwan.


"Allhamdulilah baik, kok dokter kenal sama ayah?" tanya Fahmi.


"Ayah, mamah, ayahnya ka Agil, dan om Irwan ini! dulu satu sekolah saat SMA," ucap ayah.


"Oh gitu, om sendiri?" tanya Fahmi.


"Sama anak om, tapi lagi ke toilet. Itu anak om," ucap Irwan sambil menunjuk ke arah belakang Fahmi.


Fahmi membalikkan tubuhnya ke arah belakang, untuk melihat anaknya om Irwan. Dan mereka pun terkejut.


"Azahra," ucap Fahmi.

__ADS_1


"Fahmi," ucap Azahra.


"Loh kok kalian saling kenal?" ucap Irwan.


"Yah... ini teman yang Azahra ceritakan, kalau dapat teman baru di sekolah dan teman sebangku," ucap Azahra.


"Oh Fahmi yang ini, yang kemarin di ceritakan," ucap Irwan


"Oh...om Irwan ayah kamu," ucap Fahmi.


"Iya, ini ayahku," ucap Azahra.


Akhirnya Fahmi mengobrol dengan Azahra, dengan mengajak di halaman belakang rumah eyang.


Agil merasa sedih, melihat Fahmi akrab dengan orang lain. Agil merasa kehilangan, karna kesalahannya.


Akhirnya acara makan malam di mulai, Fahmi mengajak Azahra untuk makan malam bersama. Mereka berdua mengambil banyak makanan, dan mereka duduk berdua di sebuah meja makan.


Mamah Nina menatap anak sulungnya yang sendirian, Fahmi masih marah. Kalau di paksa berbaikan, hasilnya tidak bagus untuk Fahmi.


Fahmi bercanda bersama Azahra, Fahmi menjadi teman yang baik untuk Azahra. Irwan melihat Azahra yang tertawa lepas, selama dua tahun ini Azahra sudah menjadi seorang gadis yang pendiam dan pemurung.


Fahmi hadir membawa kebahagiaan untuk Azahra.


"Semenjak ibunya meninggal, Azahra menjadi orang yang pendiam, pemurung, dan sulit tertawa. Tapi hari ini, aku lihat dia tertawa lagi, setelah menemukan teman yang pas baginya," ucap Irwan.


"Selama ini juga, Fahmi bukan tipe anak yang mudah dekat dengan orang baru. Disekolah pun, Fahmi gak punya teman," ucap Nina.


"Gimana kalau kita jodohkan saja," ucap Hendra.


"Aku sih gimana mereka aja, lagian mereka baru kelas satu SMA juga," ucap Irwan.


"Justru itu, semakin sering di dekatkan. Siapa tau mereka bisa saling sayang, dan nantinya bisa saling jatuh cinta," ucap Hendra.


"Yang terpenting sekarang pendidikan saja dulu, dan Fahmi sembuh dulu," ucap Irwan.


Agil mendengar semua obrolan orang tuanya, mereka mau menjodohkan Fahmi dan Azahra, namun Agil mendengar, kalau Fahmi sakit.


"Fahmi sakit! tapi sakit apa," gumam Agil dalam hati.


Agil sedih mendengar, kalau Fahmi akan di jodohkan dengan perempuan lain. Tapi kalau pun Agil berpacaran dengan Fahmi pun, hasilnya tidak akan dapat restu.


Agil melihat kebahagiaan di mata Fahmi, Agil melihat Fahmi tertawa lepas. Agil rindu dengan keberadaan dan kebersamaan bersama Fahmi, kini semua itu hilang atas kesalahan Agil yang belum termaafkan oleh Fahmi.

__ADS_1


🥰🥰🥰


"Kamu kenapa bisa pindah ke SMA Cendekia?" tanya Azahra.


"Waktu itu aku dapat beasiswa ke SMAN 3, tapi setelah sekolah disana gak nyaman," ucap Fahmi berbohong.


"Gak nyaman gimana?" tanya Azahra.


"Agama islamnya kurang, aku mau sekolah yang agama islamnya itu full," ucap Fahmi berbohong.


"Owh begitu, eh kita ambil deseert yu," ucap Azahra.


Azahra menarik tangan Fahmi, lalu menggandeng tangan Fahmi. Mereka terlihat begitu mesra, seperti orang yang berpacaran.


Para orang tua yang melihat Fahmi dan Azahra yang akrab seperti itu, mereka hanya bisa tersenyum dan berdoa untuk mereka.


Agil hanya bisa menahan rasa sakit hati, saat Azahra menggandeng tangan Fahmi. Agil menangis dalam diam, setelah melihat kejadian barusan.


"Aku rindu kamu, aku rindu di peluk kamu, dan aku juga rindu di pegang-pegang sama kamu," gumam Agil dalam hati.


Akhirnya acara makan malam telah usai, para tamu satu per satu sudah pulang.


"Fahmi...aku pulang dulu ya, sampe ketemu hari Senin di sekolah ya," ucap Azahra.


"Siap Azahra, sampai ketemu hari Senin ya. Dadah Azahra," ucap Fahmi.


"Hendra, Nina...saya pulang dulu ya," ucap Irwan.


"Ati-ati di jalan ya," ucap Hendra.


"Assalamu'alaikum," ucap Irwan.


"Walaikumsalam," ucap Hendra.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, melihat Agil yang sedang duduk di ruang TV.


"Yah, mah... Fahmi masuk kamar dulu ya," ucap Fahmi.


"Mamah dan ayah juga udah mau pulang, kamu baik-baik disini ma dua eyang yang udah tua ya," ucap Hendra sambil tersenyum.


Akhirnya mereka berpamitan dengan bersalaman, giliran Agil yang terakhir akan bersalaman dengan Fahmi. Fahmi pergi meninggalkan mereka semua ke atas, semua yang melihat hanya bisa menghela nafas.


Mau sekeras apapun, mereka mencoba untuk Fahmi agar mau memaafkan Agil. Saat itu pula, Fahmi akan semakin keras untuk tidak mau memaafkan Agil.

__ADS_1


__ADS_2