
Matahari sudah mulai meninggi, Agil sedang sarapan. Hari ini Agil sekolah lagi, Agil sekolah di TK A. Namun Agil ingin masuk TK B atau masuk sekolah dasar.
"Ayo nak kita berangkat," ucap ayah.
"Bentar yah, kaka pamit sama adek dulu," ucap Agil.
Agil berjalan ke arah mamah dan Fahmi, karna Agil ingin pamit dulu.
"Adek... kaka berangkat sekolah dulu ya! adek jangan rewel ya," ucap Agil sambil memeluk Fahmi dari belakang.
Fahmi pun langsung melihat ke arah sang kaka, sambil menjulurkan tangan. Agil pun menjulurkan tangan, ternyata Fahmi menyalami dan mencium tangan Agil.
Hendra dan Nina di buat terkejut melihat gerakan yang dibuat oleh Fahmi, Agil pun terkejut dengan gerakan Fahmi. Agil langsung memeluk Fahmi, namun Fahmi tak memberontak ketika ada yang memeluknya. Berbeda sekali ketika orang tua memeluk Fahmi, Fahmi tidak mau di peluk.
Hendra dan Agil pun berangkat sekolah, Hendra ingin berbicara dengan pihak sekolah tentang nilai-nilai Agil selama di sekolah.
Agil langsung menuju kelas, untuk bertemu dengan teman-temannya. Sudah banyak teman yang menunggu kehadiran Agil. Jam pelajaran pun di mulai, Hendra bertemu dengan kepala sekolah.
"Selamat pagi bu," ucap Hendra.
"Selamat pagi pa Hendra, silahkan masuk. Ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala sekolah.
"Begini bu, saya ingin menanyakan perkembangan Agil di sekolah," ucap Hendra.
Kepala sekolah pun mengambil berkas-berkas milik Agil.
"Agil merupakan siswi yang aktif, baik pada semua teman, hafalan doanya sangat baik, membacanya sudah lancar, menulisnya pun sudah lancar," ucap Kepala sekolah.
"Allhamdulilah... begini bu, apa bisa umur 6 tahun nanti, Agil bisa masuk sekolah dasar?" tanya Hendra.
"Insya Allah bisa pa," ucap Kepala sekolah.
"Iya saya ingin mendaftarkan di sekolah dasar, sepertinya Agil sudah mulai bosan sekolah di TK," ucap Hendra.
"Di coba saja pa, biasanya kalau sekolah swasta ada ujian atau tes dulu untuk anaknya nanti," ucap kepala sekolah.
"Baik bu, saya obrolkan dulu dengan istri dan anak saya. Saya pamit dulu bu, assalamu'alaikum," ucap Hendra.
"Walaikumsalam pa Hendra," ucap Kepala sekolah.
Karna tanggung untuk pulang, Hendra menunggu Agil hingga pulang sekolah di dalam mobil. Hendra mencari sekolah dasar yang mengedepankan agama Islam, dan ada beberapa sekolah. Tapi Hendra penasaran dengan SD AlAl-Azhar Cairo, karna sekolah ini bisa membuat siswanya menjadi tahfidz al-Qur'an dan sekolahnya bertaraf internasional.
Hendra pun mencari alamat dan kontaknya, untuk Hendra mencari lebih tahu tentang sekolahnya. Hendra tertarik dengan pendidikan disana, karna Hendra menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Akhirnya jam sekolah Agil sudah selesai, Agil pun berlari ke arah depan dan sudah ada sang ayah.
"Assalamu'alaikum ayah," ucap Agil.
"Walaikumsalam Agil," ucap ayah.
__ADS_1
"Dadah Agil," ucap beberapa temannya.
"Dadah semua," ucap Agil.
Agil sudah naik mobil, dan sudah siap untuk pulang.
"Nak mau gak kalau sekolah di sekolah dasar yang beragama Islam dengan bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Di tambah akan banyak hafalan doa," ucap ayah.
"Mau sekali yah, tapi pasti mahal yah. Jangan sekolah yang mahal-mahal yah, ayah juga kan butuh biaya buat Fahmi," ucap Agil.
Hendra kaget dengan ucapan anaknya, memang biaya Fahmi tidak murah. Tapi Hendra juga ingin anak pertamanya menjadi gadis yang lebih baik lagi.
"Nak... uang bisa di cari, ayah ingin yang terbaik untuk anak-anak ayah. Kalau kaka pintar, kan bisa ajarin Fahmi," ucap Ayah.
"Ya udah gimana ayah aja, Agil ikut apa kata ayah aja," ucap Agil.
Hendra semakin bangga dengan pemikiran anaknya yang semakin dewasa, namun Agil dewasa sebelum waktunya. Tapi itu semua bukan kemauan orang tuanya, ini semua Agil yang memiliki pemikiran dewasanya.
Akhirnya mereka tiba di rumah, Agil sudah rindu pada adiknya.
"Assalamu'alaikum," ucap Agil.
"Walaikumsalam, anak mamah udah pulang!" ucap mamah.
"Adek mana mah?" tanya Agil.
"Adek bobo," ucap mamah.
"Gak rewel! kaka ganti baju, wudhu, solat. Nanti kita makan siang bareng," ucap mamah.
"Okay mah," ucap Agil.
Agil pun pergi ke kamarnya untuk ganti baju, wudhu dan solat.
"Fahmi gak rewel?" tanya Hendra.
"Gak yah, pelukan Agil dan ucapan Agil sepertinya nerap dalam ingatan Fahmi. Hari ini gak ada drama apa-apa," ucap Nina.
"Allhamdulilah, tadi ayah udah ngobrol sama kepala sekolahnya kaka. Tadi ayah ngobrol tentang perkembangan sekolahnya kaka, katanya kaka itu baik, nilai-nilainya juga baik. Ayah mau daftarin sekolah dasar buat kaka, menurut mamah gimana?" tanya Hendra.
"Ya mamah setuju aja, tapi jangan yang mahal-mahal. Biaya untuk Fahmi juga lumayan yah," ucap Nina.
"Tadinya ayah mau daftar ke Al-Azhar Cairo, tapi setelah di pikir-pikir biayanya lumayan juga. Nanti ayah cari lagi sekolah islam untuk kaka," ucap Hendra.
"Udah ayah solat dulu, nanti kita makan siang bareng," ucap Nina.
Saat Hendra baru selesai solat, melihat Fahmi sudah bangun.
"Anak ayah udah bangun," ucap Hendra.
__ADS_1
"Kaka," ucap Fahmi.
"Kaka lagi solat dulu, adek sama ayah dulu ya," ucap ayah.
"Kaka," ucap Fahmi.
"Iya kita ke kaka," ucap ayah.
"Kaka," ucap Fahmi.
Hendra pun menggendong Fahmi, karna Fahmi mencari Agil.
"Adek," ucap Agil.
"Kaka," ucap Fahmi.
"Kaka makan dulu ya, nanti main lagi sama adek. Adek disini dulu sama mbak Entun, jangan rewel ya dek," ucap Agil sambil memeluk Fahmi dari belakang.
Fahmi pun melihat Agil langsung mengagukkan kepala dan tersenyum, Hendra dan Nina sangat terkejut melihat kedekatan anak mereka. Fahmi akan nurut sama ucapan Agil, ucapan Agil pun banyak membuat banyak gerakan yang tak pernah Fahmi tunjukkan.
Akhirnya makan siang pun telah selesai, Agil membawa banyak buku bergambar. Agil ingin mengajari untuk Fahmi, agar Fahmi menjadi anak pintar.
"Gajah," ucap Agil sambil menunjukkan gambarnya.
"Jah," ucap Fahmi.
Nina dan Hendra sangat bangga pada Agil yang memiliki kecerdasan yang baik, memiliki hati yang sangat sabar dalam mengajari adiknya.
Agil yang baru mau umur 6 tahun, namun sudah menunjukkan banyak hal yang membuat adiknya bisa lebih tenang dan tidak tantrum.
"Kucing," ucap Agil.
"Cing," ucap Fahmi
Hari ini Agil mengajarkan banyak hewan, beberapa kali Agil memberitahu nama hewan.
"Kaka udah kasih tau nama hewan, dan sekarang kaka tunjuk hewannya. Adek sebut namanya ya," ucap Agil.
Agil menunjuk gambar gajah.
"Jah," ucap Fahmi.
Agil menunjuk gambar kucing.
"Cing," ucap Fahmi.
"Wah adek pintar, udah bisa sebut nama hewan yang kaka tunjuk," ucap Agil.
Agil memeluk Fahmi dari belakang, dan mengecup pipinya Fahmi. Fahmi pun tersenyum.
__ADS_1
Nina dan Hendra bahagia melihat banyak perkembangan yang terjadi pada Fahmi, itu semua berkat Agil yang sabar mengajari untuk Fahmi.