My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 5 - Gara-gara Ocha


__ADS_3

Adzan subuh pun sudah berkumandang, sepasang suami istri masih tidur tanpa sehelai pakaian. Namun tubuh mereka tertutup oleh selimut, Nina pun segera bangun dan segera memakai baju. Nina membangunkan suaminya, untuk mandi dan solat subuh.


"Mas... bangun, udah subuh," ucap Nina.


"Kiss dulu mah," ucap Hendra.


"Semalam masih kurang?" tanya Nina.


"Kurang," ucap Hendra yang menggoda istrinya.


"Nanti malam di kasih lagi," bisik Nina di telinga suaminya.


Hendra langsung bangun, lalu mengajak istrinya ke kamar mandi.


"Mas dulu aja," ucap Nina.


"Berdua aja, biar sekalian," ucap Hendra yang menggoda sang istri.


"Gak mau mas," ucap Nina.


Akhirnya Nina masuk kamar mandi dengan buru-buru, karna takut Hendra menyusul masuk. Kini giliran Hendra yang masuk kamar mandi, setelah Nina keluar dari kamar mandi, dan sudah mengambil wudhu. Setelah solat, mereka berniat untuk membangunkan Agil untuk solat. Namun Agil sudah bangun, dan baru saja selesai solat. Kini Agil kembali tidur, karna itu kebiasaan Agil.


🥰🥰🥰


Setelah kejadian semalam, Hendra langsung menelepon adiknya untuk memperingatkan jangan asal bicara sama Agil.


"Halo assalamu'alaikum Cha," ucap Hendra.


"Walaikumsalam a, ada apa?" tanya Ocha.


"Kamu bilang apa saja sama Agil?" tanya Hendra.


"Gak bilang apa-apa a," jawab Ocha dengan gugup.


"Kamu jangan bohong Cha, semalam Agil bilang kalau mamah bisa hamil, kalau ayah yang bantu," ucap Hendra.


"Oh masalah itu," ucap Ocha yang langsung tertawa.


"Kamu tuh ya, jangan asal bicara sama Agil. Anak itu lagi senang mendengar ucapan Orang-orang, aa harap kamu jangan asal ngomong lagi sama Agil. Aa gak enak sama istrinya aa," ucap Hendra.

__ADS_1


"Iya a, maaf. Ocha kira omongan itu gak akan sampai ke a Hendra dan teh Nina," ucap Ocha.


"Lain kali, jaga ucapan di hadapan Agil ya," ucap Hendra.


"Iya a," ucap Ocha yang merasa bersalah.


"Ya udah salam untuk Rizal dan suami mu, assalamu'alaikum," ucap Hendra.


"Walaikumsalam a," ucap Ocha.


Hendra pun sedikit lega, setelah menegur kesalahan pada Ocha. Hendra dan Nina selalu menjaga berbicara, ketika berdekatan dengan Agil.


Hari ini adalah hari Minggu, harinya berkumpul bersama keluarga. Agil sedang bermain dengan Muezza di halaman belakang, Nina sedang menjemur pakaian.


"Agil," ucap ayah.


"Iya ayah," ucap Agil.


"Hari ini kita jalan-jalan yu," ucap ayah.


"Jalan-jalan kemana yah?" tanya Agil.


"Kita akan ke Lembang park and zoo," ucap ayah.


"Siapa kuna dan kuni?" tanya mamah.


"Itu halimau yang ada di video youtube ka Alshad Ahmad," ucap Agil.


"Bener banget, ya udah sekarang Agil mandi dulu," ucap ayah.


Agil pun segera memasukan Muezza ke kandang, tak lupa Agil memberi makan dan minum pada tempat yang sudah disediakan. Semua orang rumah akan ikut, dan sekarang sudah siap untuk berangkat.


Akhirnya mereka tiba di tempat wisata itu, untuk mengajarkan banyak hewan untuk Agil. Biar Agil semakin mengenal dan tau nama-nama hewan.


Agil sangat antusias dalam mengenal hewan-hewan, Hendra ingin anak gadisnya ini menjadi anak pintar. Kalau nanti punya adik, Agil bisa mengajari untuk adiknya kelak.


"Ayah," ucap Agil.


"Iya sayang," ucap ayah.

__ADS_1


"Makasih udah ajak Agil kesini, ini tempat yang Agil pengen datangin, Agil sayang banget sama ayah," ucap Agil sambil mengecup pipi sang ayah.


"Sama-sama sayang, nanti kalau Agil punya adik. Bisa ajarin buat adiknya Agil ya," ucap ayah.


"Agil mau punya adik yah?" tanya Agil.


"Do'ain aja ya, biar segera punya adik ya," ucap ayah.


"Iya yah, Agil akan beldoa sama Allah bial segelas punya adik," ucap Agil.


Hendra merasa bahagia, memiliki anak yang begitu pengertian dan pintar. Akhirnya acara jalan-jalan pun sudah selesai, sekarang waktunya pulang ke rumah.


Setiba di rumah, Agil langsung mandi dan solat Ashar. Nina yang melihat tingkah laku Agil yang semakin dewasa dan mandiri, merasa bahagia dan terharu melihat anak gadisnya sudah besar lagi.


"Anak mamah udah besar, ilmu yang almarhum mas Agas terapkan sejak dini sangat berguna untuk Agil saat ini. Makasih mas pernah hadir dalam hidupku dan untuk Agil, meski Allah lebih sayang mas Agas. Baik-baik di surga sana ya mas," gumam Nina dalam hati, saat melihat Agil masuk kamar.


Hendra yang baru saja masuk kedalam rumah, melihat sang istri yang melamun, Hendra berniat untuk mengagetkan dengan langsung menggendongnya.


"Mikirin apa sih?" tanya Hendra, sambil menggendong sang istri.


"Itu lihat Agil, yang semakin hari semakin mandiri dan dewasa. Tanpa diberitahu harus ngapain, tapi dia udah tau harus ngapain," ucap Nina.


"Itulah didikan Agas, masih terserap dalam ingatannya. Harus mandiri, jangan cengeng, ya Agil akan mengikuti apa yang pernah dikatakan sang ayah," ucap Hendra.


"Bener banget, Agil memiliki daya ingat yang cukup tinggi. Padahal almarhum mas Agas memberitahunya udah lama banget, tapi Agil masih ingat dengan semua ucapan almarhum mas Agas," ucap Nina.


"Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, Agas dan kamu memiliki daya ingat yang tinggi. Jaman sekolah, kalian selalu ingat dengan sesuatu hal yang sangat penting, padahal aku lupa," ucap Hendra.


Nina pun tersipu malu dengan ucapan Hendra, ya Nina dan Agas memiliki IQ yang tinggi. Di tambah daya ingat mereka pun sangat kuat, jadi wajar saja bila menurun pada Agil.


Agil merupakan gadis kecil yang mempunyai IQ yang tinggi, daya ingat yang tinggi. Semua itu turun dari orang tuanya yang sangatlah pintar, secara Agas dan Nina jaman sekolah itu selalu berada di peringkat satu atau dua. Hendra bisa di bilang, tidak terlalu pintar, tapi memiliki kreatifitas yang sangat tinggi.


"Iya mas, allhamdulilah mendapatkan anak yang luar biasa sekali. Pintar, cantik, mandiri, dan dewasa. Semoga kelak kita diberikan anak yang luar biasa juga ya mas, biar ada yang bisa jagain kakanya dari cowo-cowo gak jelas saat mereka dewasa nanti," ucap Nina.


"Aamiin mah, semoga aja kelak dapat anak yang luar biasa juga. Yang pintar, ganteng, mandiri dan dewasa juga. Biar nanti bisa jagain Agil dan mamah kelak, kalau suatu hari nanti ayah lagi pergi atau sudah tiada," ucap Hendra.


"Apa sih yah, bilang sudah tiada," ucap Nina.


"Ingat mah, umur kita gak gak ada yang tau. Kan ayah bilang kalau suatu hari nanti, bukan sekarang," ucap Hendra.

__ADS_1


"Udah ah jangan bahas gituan, serem ah," ucap Nina.


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah, dan siap-siap untuk solat maghrib.


__ADS_2