My Autism Brother

My Autism Brother
Bab 13 - Ternyata Fahmi Autis


__ADS_3

Hasil pemeriksaan atas Fahmi sudah keluar, ternyata Fahmi mengalami autis. Pihak keluarga harus bersabar ketika Fahmi sulit untuk di panggil, menangis dengan tantrum, dan bisa saja melukai orang disekitarnya.


"Apa autis bisa disembuhkan?" tanya Hendra.


"Disembuhkan tidak bisa, tapi kita bisa terapi agar Fahmi tidak terlalu parah," ucap dokter Felisya yang merupakan dokter spesialis anak.


"Apa ada tempat atau sekolah untuk Fahmi?" tanya Hendra.


"Ada pa, nama sekolahnya Bunda bening selakshahati," ucap Felisya.


"Kaka dokter, apa yang bisa Agil bantu buat adek Fahmi?" tanya Agil.


"Kaka harus sabar, kalau adek suka pukul kaka, suka lempar benda. Jangan kaka balas ya, karna adek tidak sadar melakukan itu. Kaka kasih aja rasa sayang yang kaka miliki untuk Fahmi, apa kaka Agil bisa melakukannya?" tanya dokter Felisya.


"Kaka pasti bisa untuk menjaga adek, kaka akan sayang sama adek. Biar adek merasakan kasih sayang dari Agil," ucap Agil.


Semua yang di dalam ruangan, merasa terharu dengan ucapan Agil. Hendra tau kalau Agil selalu sayang sama Fahmi, Hendra semakin bangga memiliki Agil yang bisa menerima kondisi anaknya.


"Mamah bangga sama kaka, kaka yang sabar dalam menangani Fahmi ya," ucap mamah.


"Siap mah, Agil akan selalu sayang sama adek. Meskipun adek suka pukul kaka, suka cubit kaka, suka jenggut rambut kaka. Kaka akan selalu berikan kasih sayang untuk adek Fahmi," ucap Agil.


Dokter Felisya dan dokter Fauzi bangga melihat gadis kecil yang baru saja berusia 5 tahun, tapi sudah memiliki ucapan dan pemikiran yang dewasa dan mandiri.


Fahmi mulai kesal dan merasa bosan, mulai melemparkan semua barang di dalam ruangan periksa. Agil segera turun dan menghampiri Fahmi, Agil memeluk Fahmi dari belakang. Mendadak Fahmi terdiam dan tidak melempar barang-barang lagi.


"Adek mulai kesal ya, jangan di lempar-lempar lagi ya barangnya. Bentar lagi kita akan pulang, adek tunggu sebentar ya," ucap Agil sambil memeluk adiknya dari arah belakang.


Semua yang di dalam ruangan kaget melihat apa yang di lakukan oleh Agil, dan hal itu membuat Fahmi langsung terdiam. Setelah Fahmi mulai tenang, Agil melonggarkan pelukannya dan Agil menjauh dari Fahmi. Dan Fahmi sudah kembali tenang lagi.


Fahmi memang telat berbicara, kalau melihat sesuatu tidak fokus sama satu titik, Fahmi lebih suka menyendiri, Fahmi tidak suka dengan keramaian. Namun Agil semaksimal mungkin untuk membuat Fahmi untuk selalu tenang, karna Agil selalu punya usaha untuk membuat adiknya tenang.

__ADS_1


Akhirnya pulang ke rumah, sepanjang perjalanan Agil menjadi sasaran dari Fahmi. Hendra melihat Agil yang sedih, Hendra pun memeluk gadis ciliknya yang merasa sedih.


"Kalau kaka gak kuat, kaka bilang sama ayah ya," ucap ayah.


"Insya Allah kaka pasti bisa membuat Fahmi untuk tidak tantrum, dan membuat Fahmi bisa sedikit tenang," ucap Agil.


"Ayah bangga sama kaka, besok kaka sekolah lagi ya," ucap ayah.


"Iya yah, tapi boleh gak yah kalau kaka masuk TK B. Kan kaka udah lancar baca dan nulis," ucap Agil.


"Besok kita ke sekolah kaka, dan ayah akan berbicara sama bu guru dulu ya," ucap Ayah.


Agil langsung memeluk sang ayah, karna sang ayah yang bisa membuat Agil merasa tenang dan kuat untuk menghadapi Fahmi. Tiba-tiba.


"Kaka," ucap Fahmi.


Ayah dan Agil mendengar ucapan Fahmi, ayah dan Agil saling menatap.


"Tadi bilang apa dek?" tanya Agil.


"Kaka," ucap Fahmi.


Agil berlari ke dalam rumah, dan mencari mamahnya.


"Mah... mamah, adek bisa bilang kalimat kaka," ucap Agil.


"Yang benar kak?" tanya mamah.


"Iya mah, tadi kaka dengar sama ayah," ucap Agil.


Mamah Nina merasa bahagia, karna sekian lama Fahmi tidak pernah mengeluarkan suara. Akhirnya Fahmi mengeluarkan suara dan berkata kaka.

__ADS_1


"Kaka, mandi dulu ya. Ini sudah sore, sebentar lagi kita akan solat maghrib. Dan nanti kita makan malam, besok kaka udah sekolah lagi," ucap Mamah.


"Iya mah," ucap Agil.


Agil berjalan ke arah depan, untuk menemui Fahmi sebelum Agil mandi.


"Dek... kaka mandi dulu ya, nanti kaka main lagi sama adek ya," ucap Agil sambil memeluk Fahmi dari arah belakang.


Fahmi pun hanya menganggukkan kepala, tanpa mengeluarkan suara. Hendra dan Nina merasa bahagia, karna Agil bisa membuat Fahmi jauh lebih tenang.


Agil pun segera pergi mandi, lalu wudhu untuk solat maghrib bersama. Kini ritual berdoa pun dilakukan.


"Ya Allah... jika diijinkan untuk Fahmi sembuh, maka sembuhkanlah Fahmi. Ya Allah salam buat ayah Agas dan nenek di surga, kaka kangen mereka," ucap Agil dalam doa.


Ritual solat dan berdoa pun telah dilaksanakan sekarang waktunya makan malam, sebenarnya Agil sudah lelah. Namun perut Agil tidak bisa diajak kompromi, Agil pun dengan segera menyelesaikan makan malam.


Makan malam pun telah selesai, Agil menghampiri Fahmi yang sudah selesai makan.


"Adek kesayangan kaka, jangan rewel ya dek. Udah makan, adek minum susu dan terus bobo. Kaka akan tidur juga, karna besok kaka akan sekolah. Kalau kaka gak ada disamping adek, adek jangan rewel. Kaka akan selalu sayang sama adek," ucap Agil sambil memeluk Fahmi dari belakang.


"Ini nak susu botol untuk Fahmi," ucap mamah.


Fahmi mengambil botol susu itu, dan meminumnya tanpa ada drama, Fahmi pun tiduran diatas ranjang yang ditemani oleh Agil.


Hendra dan Nina yang melihat Agil menasehati Fahmi seperti itu, dan Fahmi menuruti nasehat Agil merasa bahagia.


"Jadilah kaka yang baik untuk Fahmi, semoga kamu selalu memiliki kesabaran yang lebih untuk menjaga dan membantu Fahmi menjadi anak yang lebih baik lagi," gumam mamah dalam hati.


Hendra yang melihat anak sulungnya yang sudah dewasa, karna suatu keadaan dan kondisi yang membuat Agil menjadi kaka yang bijaksana.


"Semoga kelak, menjadi kaka yang baik, yang selalu bijaksana, dan selalu bisa menasehati untuk Fahmi. Ayah bangga sama kaka, meskipun ayah bukan ayah kandungnya kaka tapi ayah yakin ayah Agas pun pasti bangga melihatmu dari surga sana," gumam ayah dalam hati.

__ADS_1


Fahmi tidur tanpa ada drama, Agil pun yang sudah tertidur dalam gendongan sang ayah. Hendra mengusap kepala anak sulungnya, yang selalu memberikan kejutan yang hebat dalam merawat dan membantu Fahmi untuk menjadi anak yang lebih baik.


Nina yang melihat Agil tertidur dalam gendongan sang suami, mengecup pucuk kepala anak sulungnya yang selalu hebat dalam merawat Fahmi.


__ADS_2