
Akhirnya Fahmi masuk sekolah dasar, Fahmi bersekolah di SD Istiqomah. Fahmi bersekolah dengan sang kaka, Agil sangat menyetujui jika Fahmi bersekolah yang satu sekolah dengan dirinya.
Fahmi kelas 1 dan Agil kelas 5
Flashback On
Hendra yang mencoba mendatangi sekolah SD Istiqomah, untuk menanyakan apa disekolah ini menerima anak autis.
"Assalamu'alaikum, selamat siang bu," ucap Hendra.
"Walaikumsalam pa Hendra, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kepala sekolah.
"Begini bu, saya mau bertanya. Apa di sekolah ini menerima anak autis untuk bersekolah disini?" tanya Hendra.
"Bisa sekali pa, disini juga ada guru psikolog yang mau mendampingi anak autis dengan orang tua. Jadi disini bisa sekali, apabila ada anak autis yang mau bersekolah disini. Hanya saja akan kami tes membaca, menulis, dan beberapa doa pendek yang biasa rutin dilakukan," ucap Wali kelas.
"Allhamdulilah, jadi bisa ya bu," ucap Hendra.
"Kalau boleh saya tau, siapa yang akan bersekolah disini dengan kondisi autis?" tanya Kepala sekolah.
"Anak kedua saya, baik kapan bisa untuk di tesnya?" tanya Hendra.
"Besok jam 10, bawa guru pendamping atau suster yang bisa membuat percaya diri dan semangat untuk sekolah," ucap Kepala sekolah.
"Baik bu, paling nanti saya bawa guru pendampingnya dan nanti saya meminta ijin untuk Agil menemani adiknya," ucap Hendra.
"Agil itu anak yang berhati mulia, ada satu temannya yang autis juga. Tapi Agil mampu menghadapinya, di saat teman-temannya menjauhi teman mereka yang autis, Agil memberi semangat dan jangan mendengarkan apa yang mereka katakan tentang kekurangan teman Agil yang autis itu," ucap Kepala sekolah.
Hendra terkejut dan bangga sekali dengan prestasi yang ditorehkan anak sulungnya, nilai-nilai pelajaran Agil jangan ditanya berapa nilainya. Justru Hendra bangga dengan Agil yang mempunyai teman autis, hingga Agil membantu teman yang autis itu percaya diri dan membantu jangan mendengarkan apa kata orang yang menghinanya.
"Allhamdulilah, itulah Agil bu. Di rumah saja, dia sangat telaten membantu adiknya dalam belajar," ucap Hendra.
"Agil dikelas itu aktif, membantu teman-temannya dalam pelajaran. Mengajari teman-temannya yang tidak bisa dalam pelajaran," ucap Kepala Sekolah.
"Terima kasih atas perhatian untuk Agil, baik bu besok saya akan datang kemari dengan anak saya yang kedua," ucap Hendra.
"Baik pa, saya tunggu," ucap Kepala sekolah.
"Saya pamit bu, sekalian nunggu Agil pulang. Assalamu'alaikum," ucap Hendra.
"Walaikumsalam pa," ucap Kepala sekolah.
"Ibu selalu bangga sama kamu nak, kamu itu murid yang gak banyak bertingkah. Tapi kamu menunjukkan dengan segudang prestasi dan segudang kebaikan yang kamu berikan untuk semua teman-temanmu," gumam Kepala sekolah dalam hati.
Hendra pun menunggu Agil yang sebentar lagi pulang sekolah, Hendra dengan setia menunggu Agil di dekat gerbang sekolah.
Akhirnya bell sekolah berdering, yang menandakan semua murid sudah pulang sekolah.
"Assalamu'alaikum putri cantiknya ayah," ucap Ayah.
__ADS_1
Agil yang kaget dengan suara yang Agil kenali dari arah belakang, ternyata sang ayah menjemput sekolah.
"Walaikumsalam ayah, ayah jemput kaka?" tanya Agil.
"Iya ayah jemput putri cantiknya ayah," ucap ayah.
Akhirnya Agil pulang bersama sang ayah, hingga di rumah di sambut oleh mamah Nina dan Fahmi.
Agil langsung masuk ke dalam rumah untuk ganti baju, solat, dan makan siang bersama.
Hendra menjelaskan kalau di sekolah dasar Istiqomah menerima anak autis, dan Nina pun mengerti harus berbuat apa pada Fahmi yang akan mengikuti tes besok hari.
🥰🥰🥰
Keesokan harinya, ayah Hendra membawa Fahmi, mamah Nina, kak Anisa untuk ikut ke sekolah. Hari ini Fahmi tes.
"Fahmi...kalau ditanya bu guru harus di jawab, jawabnya semampunya Fahmi. Kalau disuruh baca, Fahmi harus baca. Semua doa sudah kaka ajarkan untuk Fahmi, nanti kalau ditanya langsung jawab ya," ucap Anisa.
"Iya kak, do'ain Fahmi ya," ucap Fahmi.
"Tuh liat belakang Fahmi siapa," ucap Anisa.
Fahmi melihat kebelakang dan ternyata ada sang kaka, Fahmi langsung memeluk sang kaka.
"Semangat ya dek tesnya, adek pasti bisa menjalani tes ini. Biar kita bisa satu sekolah," ucap Agil.
"Kaka pasti do'ain untuk adek," ucap Agil.
Akhirnya Fahmi masuk ke dalam ruangan, dan mengikuti tes untuk masuk ke sekolah dasar Istiqomah dengan kondisi anak autis.
Fahmi sudah selesai untuk mengikuti tes, dan sekarang sedang menunggu hasil. Agil pun sudah kembali ke kelas, untuk kembali melanjutkan pelajaran di kelas.
Kepala sekolah pun keluar dari ruangan, dan sudah membawa hasil.
"Selamat pa Hendra, Fahmi diterima di sekolah ini. Fahmi akan masuk di tahun ini," ucap Kepala sekolah.
"Allhamdulilah," ucap semua yang ada disana mengucapkan syukur.
"Fahmi mempunyai IQ, EQ, dan SQ yang sangat baik," ucap Kepala sekolah.
"Allhamdulilah bu," ucap Hendra.
"Selamat menjadi siswa disini ya Fahmi, belajar yang rajin. Biar bisa berprestasi kaya kaka Agil," ucap Kepala sekolah.
"Insya Allah bu," ucap Fahmi yang lalu menyalami lalu mencium tangan Kepala sekolah.
"Baik bu, kami pamit dulu. Saya ucapkan banyak terima kasih, mau menerima Fahmi menjadi siswa disini," ucap Hendra.
"Sama-sama pak," ucap Kepala sekolah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum bu," ucap Hendra.
"Walaikumsalam pak," ucap Kepala sekolah.
Flashback Off
"Wah anak ayah udah ganteng, udah siap sekolah sama kaka Agil," ucap ayah.
"Iya yah, mau sekolah bareng kaka," ucap Fahmi.
"Fahmi senang bisa satu sekolah sama kaka?" tanya ayah.
"Fahmi senang banget yah," ucap Fahmi
"Hari ini ayah antar Fahmi sekolah," ucap ayah.
"Iya yah," ucap ayah.
Akhirnya Fahmi pergi sekolah bersama Agil, yang diantarkan oleh mas Ferry dan ayah.
"Ya Allah aku harus bersyukur atau apa, karna aku tidak pernah menyangka punya anak yang sehebat seperti mereka berdua. Meskipun Agil bukan darah daging ku, tapi dia darah daging dari sahabatku yang kini menjadi anakku. Aku bangga sama Agil, karna dia mampu membagi waktu antara belajar dan mengajari untuk adiknya yang sebenarnya dia juga punya tugas dan tanggung jawab yang besar. Aku pun bangga sama Fahmi yang mampu melewati ini semua dengan hal yang pasti berat bagi dirinya, tapi dia mampu menerimanya dengan baik. Semoga kalian selalu bisa bersama-sama ya nak, ayah akan lebih bahagia kalau kalian bisa menyayangi, mencintai, menjaga, dan melindungi satu sama lain. Kalau pun kalian nantinya jatuh cinta, akan ayah restui. Karna kalian tidak sedarah, ayah lebih percaya sama Agil, karna yang lain belum tentu bisa mencintai Fahmi dengan sungguh-sungguh," gumam ayah dalam hati, tanpa terasa air mata hampir turun. Tapi ayah segera menghapus air mata itu.
Akhirnya tiba di sekolah, hari ini adalah hari dimana tahun pengajaran baru akan segera dimulai. Agil akan masuk kelas 5 dan Fahmi akan masuk kelas 1, ayah akan berjaga-jaga seharian ini di sekolah. Karna takut ada apa-apa sama Fahmi, ayah takut kalau Fahmi akan tantrum.
"Adek, selamat sekolah ya. Jadi anak yang baik, nurut sama ibu guru atau bapak guru. Kalau ada yang Fahmi gak bisa jangan pake emosi dulu, tapi adek coba dulu. Dan ingat jangan pake emosi, nanti jam istirahat kaka ke kelas adek," ucap Agil sambil memeluk Fahmi dari belakang.
"Ayah, kaka ke kelas dulu ya," ucap Agil.
"Selamat kelas 5 anak ayah yang paling cantik, selamat belajar ya nak," ucap ayah sambil mengecup kening anak sulungnya.
Agil pun sudah bertemu dengan teman-temannya, dan mereka masuk kelas bersama.
Fahmi dari fisik tidak terlihat seperti anak autis, karna tidak ada kekurangan dalam fisiknya. Hanya saja dari sikap dan perilaku, tapi lambat laun Fahmi akan bisa mengatur semuanya dengan sendiri.
Fahmi di antar ke kelas dan bangku yang Fahmi pilih, Fahmi pilih duduk di bangku ke tiga dari depan dan berada dekat jendela.
Hari pertama sekolah pun dimulai, Fahmi menjadi siswa yang aktif di kelas, Fahmi banyak menjawab pertanyaan. Ibu wali kelas yang mengajar di kelas, sangat bangga sama Fahmi. Karna Fahmi sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung.
Hendra yang melihat Fahmi aktif di kelas merasa bangga, dan jam pelajaran hari pertama untuk anak kelas 1 sudah berakhir.
"Pak Hendra, di tingkatkan terus pengajaran untuk Fahmi. Saya tau Fahmi anak autis, tapi kalau di ajarkan terus menerus. Fahmi mampu menjadi yang siswa yang berprestasi, saya yakin Fahmi bisa menjadi yang terbaik di sekolah ini," ucap Ibu wali kelas.
"Terima kasih bu atas sarannya, insya Allah saya, Agil, dan guru pembimbing di rumah akan mengajari terus untuk Fahmi. Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum," ucap Hendra.
"Walaikumsalam," ucap Ibu wali kelas.
"Agil, Ibu bangga sama kamu mampu menjadi kaka yang baik untuk Fahmi. Dan kamu juga menjadi teman yang baik, untuk sahabatmu yang autis juga," gumam Ibu wali kelas.
Akhirnya Fahmi tiba di rumah, dan Fahmi langsung masuk kamar untuk mengganti baju. Hendra dan Nina melihat perubahan pada Fahmi yang mulai mandiri.
__ADS_1