
Fahmi masih saja mengamuk, dan menangis dengan keras. Namun tak ada satu pun yang mendekati Fahmi, semua mengacuhkan Fahmi.
Akhirnya Fahmi lelah menangis, lambat laun Fahmi berhenti dari mengamuk dan menangisnya. Fahmi mulai anteng lagi bermain dengan mainannya, Tiba-tiba Fahmi memunguti satu per satu mainannya. Lalu semua mainannya di masukkan ke dalam keranjang, karna Fahmi terbiasa bila sudah membuat berantakan mainannya harus mau di bereskan sendiri. Semua itu ajaran dari sang mamah, yang selalu menerapkan pada Fahmi.
Semua pun terheran melihat apa yang di lakukan Fahmi, mamah Nina bangga pada anaknya yang mau membereskan mainannya.
Agil masih menangis, karna pukulan yang lumayan keras pada kepalanya dan jambakan rambut yang lumayanembuat Agil menangis.
Akhirnya Fahmi sudah membereskan semua mainannya, Fahmi terduduk dan mencari sang kaka.
Agil masih berada dalam pangkuan dan pelukan sang ayah, Agil masih menangis. Fahmi melihat Agil yang menangis, lalu Fahmi berjalan ke arah Agil dan memeluknya.
"Kaka maaf," ucap Fahmi.
Semua terkaget dengan Fahmi yang berbuat seperti itu, terutama Anisa sangat bangga akan Fahmi yang tau kalau salah.
"Adek kenapa marah-marah?" tanya Agil.
"Ayah jahat," ucap Fahmi.
"Ayah jahat gimana?" tanya Agil.
"Jemput kaka gak ajak Fahmi," ucap Fahmi.
"Ayah minta maaf ya, tadi kan Fahmi lagi bobo," ucap Ayah sambil mengecup kening Fahmi.
"Kaka maaf," ucap Fahmi.
"Iya, jangan gitu lagi ya. Kepala kaka sakit," ucap Agil.
"Mana sakit?" tanya Fahmi.
Agil menunjukkan yang sakit, dan Fahmi langsung mencium yang sakitnya. Orang tua mereka selalu mengajarkan kalau ada yang sakit langsung di cium di bagian yang sakitnya. Dan itu menerap pada ingatan Fahmi.
Orang tua Fahmi merasa bangga dengan Fahmi, lambat laun Fahmi mengerti apa yang di ajarkan pada Fahmi.
"Adek, kaka sering bilang jangan rewel. Kalau mau sesuatu bilang sama ayah atau mamah, kalau marah dan kesel jangan marah-marah dulu," ucap Agil.
"Maaf kaka," ucap Fahmi.
Anisa bangga dengan ilmu pengajaran yang diberikan untuk Fahmi dari Agil, maupun orang tuanya.
"Iya kaka maafin, lain kali jangan gini lagi ya. Kalau adek kaya gini di sekolah, nanti adek gak punya banyak temen. Nanti temen-temen adek, gak mau berteman sama adek," ucap Agil.
Agil dan Fahmi pun berpelukan yang penuh kasih sayang dan kehangatan. Anisa sangat bangga dengan Fahmi, walaupun autis tapi lambat laun bisa menerima apa yang di ajarkan untuknya.
"Fahmi mandi yu," ucap mamah.
__ADS_1
Fahmi pun hanya mengangguk, dan berjalan mengambil anduk di kamarnya. Agil pun mandi sore, solat, dan mengejamengejarkan tugas sekolahnya.
"Nak Anisa tunggu sebentar ya," ucap Mamah Nina.
"Baik ibu," ucap Anisa.
Akhirnya Agil yang sudah mandi, solat. Langsung menghampiri kaka Anisa.
"Kaka Agil belajar dari mana untuk membantu adek Fahmi dalam belajar?" tanya Anisa.
"Kaka baca dari internet, dan kaka baca di perpustakaan sekolah," ucap Agil.
"Wah kaka Agil hebat, teruskan semangat positif dan energi positif untuk adek Fahmi ya," ucap Anisa.
"Iya kak, Agil ingin adek bisa kaya anak normal lainnya. Biar gak di pandang sebelah sama orang-orang, biar gak di ejek sama orang-orang," ucap Agil.
Anisa, mamah Nina, dan ayah Hendra yang mendengar ucapan Agil. Hatinya tersentuh sekali, karna niat Agil yang sangat mulia.
Mamah Nina dan Ayah Hendra datang dari arah belakang, langsung memeluk anak sulungnya yang memiliki hati yang sangat baik.
"Semoga keinginan kaka dengan hati kaka yang mulia, dipermudahkan sama Allah untuk membuat Fahmi terlihat seperti orang yang normal. Kaka jangan pernah lelah membantu adek dalam belajar dan kaka jangan pernah lupa untuk berdoa ya," ucap ayah.
"Iya yah, do'ain aja semoga kaka selalu bisa mengajarkan untuk Fahmi. Dan kaka bisa menjaga emosi dalam menghadapi Fahmi," ucap Agil.
"Kalau kaka cape, bilang sama ayah atau mamah ya," ucap ayah.
"Iya, makanya ayah mau cari rumah yang halaman luas. Yang ada pohon gede buat bikin rumah pohon, biar kaka bisa belajar," ucap Ayah.
"Iya yah, makasih ya yah," ucap Agil.
"Kaka Anisa rumahnya dimana?" tanya Agil.
"Gak jauh dari sini, di belakang komplek ini," ucap Anisa.
"Pantesan tadi pas nelepon, gak lama langsung datang," ucap Mamah Nina.
"Kaka kuliahnya dulu dimana?" tanya Agil.
"Kaka kuliah di Upi jurusan pendidikan anak berkebutuhan khusus," ucap Anisa.
"Agil juga mau kuliah disana," ucap Agil.
"Masih jauh nak, yang penting sekolah kaka harus pinter, rajin belajar, harus selalu masuk 10 besar," ucap ayah
Maghrib pun tiba, mereka semua solat bersama. Setelah solat, makan malam bersama.
"Nak Anisa ngajar di Pelangi tiap hari?" tanya mamah Nina.
__ADS_1
"Saat ini mengikuti jadwal Fahmi, selebihnya bebas bu," ucap Anisa.
"Mau gak kalau ajari Fahmi di rumah, nanti saya baya," ucap Hendra.
"Boleh sekali pa," ucap Anisa.
Tiba-tiba Fahmi mendekati Anisa.
"Kaka cantik," ucap Fahmi.
Semua yang mendengar langsung tertawa, setelah mendengar ucapan Fahmi. Lalu mendekati Agil.
"Kaka jelek," ucap Fahmi.
Agil kaget dengan ucapan Fahmi, Agil pura-pura menangis.
"Kaka maaf," ucap Fahmi langsung menundukan kepala.
Ayah Hendra dan mamah Nina sudah terbiasa melihat mereka bercanda seperti ini.
"Nah... kaka Agil nangis, peluk kakanya," ucap ayah.
"Kaka maaf," ucap Fahmi.
Agil masih saja pura-pura menangis, dan Fahmi pun ikut menangis sambil memeluk Agil.
"Kak udah becandanya," bisik ayah.
"Baaaaaaaaa," ucap Agil.
Fahmi langsung tertawa, karna Fahmi juga pura-pura menangis.
"Indahnya keluarga ini, saya betah merasa disini. Andaikan keluarga saya masih utuh, mungkin akan sebahagia ini. Saya tidak akan pusing mencari biaya untuk Adik-adik dan ibu yang sakit-sakitan," gumam Anisa dalam hati.
"Nak Anisa berapa bersaudara?" tanya mamah Nina.
"Saya anak pertama, dan saya punya dua orang adik yang masih kecil," ucap Anisa.
"Orang tua masih ada?" tanya mamah Nina.
"Orang tua saya sudah pisah, saya tinggal bersama ibu saya," ucap Anisa.
"Nak Anisa masih kuliah atau sudah beres?" tanya mamah Nina.
"Bentar lagi selesai, makanya saya cari biaya untuk kuliah, kedua adik saya, dan ibu saya yang sakit," ucap Anisa.
Akhirnya mereka bercanda dan berkumpul.
__ADS_1