
"Mamah dan ayah gak pernah mengajarkan kamu untuk bolos sekolah, kalau ku sudah tidak mau sekolah bilang aja," ucap mamah.
"Maaf mah, Agil hari ini memang lagi gak pengen sekolah. Karna Agil pengen tau sama orang yang dekat sama Fahmi," ucap Agil.
"Apa urusan kamu nyari orang yang dekat dengan Fahmi?" tanya ayah dengan nada tinggi.
"Takutnya orang itu jahat sama Fahmi, hanya memanfaatkan Fahmi," ucap Agil.
"Kalau kamu tidak tau siapa orang nya, gak usah berpikiran seperti itu. Azahra itu anaknya dari temen ayah dan mamah, dan kami sepakat untuk menjodohkan mereka," ucap ayah.
"Jangan yah, jangan jodohkan Fahmi sama dia. Tapi sama Agil yah, Agil jatuh cinta sama Fahmi," ucap Agil.
Plak
Hendra yang sudah menahan emosi sejak dari tadi, dengan rasa khilaf. Hendra menampar Agil.
Mamah Nina yang mendengar ucapan Agil, merasa kesal. Karna tak seharusnya seorang kaka yang jatuh cinta pada adiknya.
"Kamu tau kan, kamu dan Fahmi itu saudara kandung. Lahir dari rahim mamah, walaupun kalian beda ayah," ucap mamah.
"Pokoknya Agil jatuh cinta sama Fahmi, dan tak boleh di jodohkan dengan siapapun," ucap Agil.
"Mamah bingung sama kamu, kamu belajar agama Islam. Tapi hasilnya kaya gini, mamah akan pindahkan sekolah kamu ke Pesantren biar kamu semakin tau tentang islam," ucap mamah.
"Gak mau, pokoknya Agil akan tetap disini. Dan Agil akan tetap berjodoh dengan Fahmi," ucap Agil.
Hendra sudah kehilangan kesabaran, baru kali ini Hendra menampar anaknya tirinya yang selalu di anggap anak kandung selama ini.
Nina membawa Agil ke kamar, dan mengunci Agil dari luar. Teriakan Agil di hiraukan oleh Hendra dan Nina, mereka kecewa dengan sikap Agil.
"Yah, kita pindahkan Agil ke pesantren yang ketat. Biar anak itu kembali lagi ke jalan yang benar," ucap mamah.
"Iya mah, akan ayah carikan pesantren yang super ketat dan disiplin untuk Agil," ucap ayah.
Hendra mencari pesantren untuk Agil, Nina hanya bisa menangis melihat kelakuan anak sulungnya.
"Mas... Apa aku selama ini salah mendidik Agil? Aku tidak sanggup lagi dengan kelakuannya, maafkan aku mas! Mungkin aku harus memindahkan Agil ke pesantren," gumam Nina dalam hati.
Hendra sudah mendapatkan pesantren yang di cari, Hendra sudah mendaftarkan untuk Agil. Hendra memilih dengan tingkatan Kulliyatul Mu'allimat Al-Islamiyyah (KMI) adalah Lembaga pendidikan khusus santri putri tingkat menengah, dengan masa belajar 6 tahun, setingkat Tsanawiyah dan Aliyah.
"Mah, ayah udah daftar Agil di pesantren Gontor. Dia akan belajar selama 6 tahun, dan besok kita urus kepindahan sekolahnya Agil. Dan besok kita mengobrol sama mamah, tapi jangan bilang sama Fahmi. Dan kamar Agil jangan di buka, kecuali kalau mau anter makan," ucap Hendra.
"Iya yah, semoga setelah 6tahun disana. Dia bisa jadi lebih baik," ucap Nina.
__ADS_1
🥰🥰🥰
Keesokan paginya, Hendra mengurus Agil yang akan pindah sekolah. Hendra mendatangi pihak sekolah, terutama kepala sekolah.
"Selamat pagi bu," Ucap Hendra.
"Owh pa Hendra, silahkan masuk. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kepala sekolah.
"Saya kesini mau mengurus kepindahan sekolah untuk Agil," ucap Hendra.
"Sebentar saya meminta staff untuk memanggil Wali kelasnya," ucap Kepala sekolah.
Wali kelasnya Agil pun datang, dengan membawa sejumlah nilai-nilai dan beberapa masalah yang dibuat oleh Agil beberapa hari yang lalu.
"Selamat pagi pa Hendra," ucap Wali kelas.
"Selamat pagi bu, saya ke sini mau mengurus kepindahan Agil. Mau saya masukan ke pesantren di Gontor," ucap Hendra.
"Begini pa, nilai-nilai UTS Agil pun anjlok. Nilainya di bawah 70 atau di bawah nilai standar, dan Agil pun beberapa kali di mata pelajaran sering tidak ikut pelajaran, mengobrol saat jam pelajaran, dan bahasanya pun sekarang sedikit kasar," ucap Wali kelas.
Hendra yang mendengar itu semua, rasanya ingin mengamuk. Namun itu bukan haknya, karna Agil bukan anak kandung bagi Hendra. Agil hanya anak tiri, jadi Hendra tak berani untuk memarahinya.
"Iya pa, saya sebagai kepala sekolah sangat sedih melihat kelakuan Agil seperti ini. Ntah apa yang membuat Agil jadi seperti ini," ucap Kepala sekolah.
"Ini pa berkas-berkasnya, sudah saya persiapkan. Semoga Agil bisa kembali lagi jadi Agil yang lebih baik lagi," ucap Kepala sekolah.
"Iya pa, semoga Agil bisa jadi lebih sholehah lagi dalam berucap dan bersikap," ucap Wali kelas.
"Aamiin bu, saya juga berharap seperti itu. Maaf saya tidak bisa membawa Agil ke sini untuk berpamitan pada guru-guru dan teman-teman, karna sedang saya hukum. Di tambah besok akan melakukan perjalan ke Gontor, kalau begitu saya sekalian pamit. Maaf bila Agil selama ini ada salah yang di sengaja atau tidak di sengaja untuk semuanya," ucap Hendra.
"Iya pa, kami memaklumi itu semua. Karna anak remaja yang sedang mencari jati diri dan masa puber," ucap Kepala sekolah.
Hendra pun segera pulang ke rumah mamahnya untuk memberitahukan semua ini, Hendra pun sudah memberitahu pada mamahnya apa yang terjadi di rumah antara Fahmi dan Agil.
Hendra pun sudah tiba di rumah, rasanya lelah sekali hari ini. Padahal hanya ke sekolah dan ke rumah sang mamah, tapi rasanya cape dan lelah sekali.
"Gimana mas beres?" tanya Nina.
"Allhamdulilah beres! lusa kita berangkatberangkat naik pesawat, nanti turun di Jogja. Dari sana kita naik mobil, perjalanan sekitar 4 jam," ucap Hendra.
"Baiknya kita bicarakan sama Agil," ucap Nina.
"Ya udah kita ke kamar Agil, apa anak itu sudah makan?" tanya Hendra.
__ADS_1
"Sudah, tadi mamah antar dan menemani dia makan. Mamah gak banyak bicara sama Agil," ucap Nina.
Hendra dan Nina pun menuju kamar Agil, membuka kunci pintu kamar Agil. Karna Agil masih dalam masa hukuman, jadi AgilAgil.
"Agil...mamah dan ayah mau mengobrol sama kamu," ucap ayah.
"Ada apa sih yah, emang penting ya?" tanya Agil.
"Kamu bicara yang sopan, dan liat orang yang sedang mengobrol sama kamu itu," ucap mamah.
"Apa sih mamah itu kolot banget," ucap Agil.
Plak
Mamah Nina menampar pipi anak sulungnya, yang sekarang sudah berbeda. Mungkin karna pergaulan, ntah karna apa.
"Kamu jadi kurang ajar, mamah gak pernah mengajari kamu untuk seperti itu. Lusa akan mamah antar kamu ke Gontor buat pesantren selama 6 tahun di sana," ucap mamah.
"Gak mau mah, Agil gak mau jauh dari kalian," ucap Agil yang menangis sambil bersujud di kaki mamahnya.
"Maaf nak, itu udah keputusan mamah. Biar kamu jadi lebih baik lagi, dan tau mana yang baik dan yang buruk," ucap mamah.
"Yah, titip salam buat Fahmi. Maafin kaka yang pernah memaksa Fahmi untuk melakukan hal itu," ucap Agil.
"Iya kak, nanti ayah sampaikan sama Fahmi. Maafin Fahmi juga ya, yang pernah melakukan itu sama Agil," ucap ayah.
"Agil mau deh masuk pesantren, mungkin selama ini pergaulan Agil udah salah. Karna Agil pun sempat berpikir, kenapa kelakuan Agil jadi seperti ini," ucap Agil.
"Iya ayah juga, udah dengar dari Wali kelas dan kepala sekolah tentang keburukanmu di sekolahsekolah," ucap ayah.
"Ayah gak marah?" tanya Agil.
"Apa boleh ayah marah sama kamu? ayah takut kalau ayah marah sama kamu, nanti kamu merasa marah. Karna ayah bukan ayah kandungmu, tapi ayah berani memarahimu," ucap ayah.
Agil yang mendengar ucapan sang ayah, Agil langsung memeluk sang ayah. Agil menangis dalam pelukan sang ayah.
"Maafin Agil ya yah, ayah boleh kok marah sama Agil. Kan selama ini ayah yang udah mengurus, menyayangi, melindungi Agil selama ini," ucap Agil.
Hendra pun memeluk dan mengecup kening anak sulungnya itu.
"Ya udah kamu minta maaf sama mamah, dan bereskan semua baju untuk di bawa ke sana. Karna pulangnya setahun sekali, pergunakan waktu untuk kalian berdua," ucap ayah.
Mereka bertiga pun berpelukan, namun rasanya kurang. Karna Fahmi tak ada di sini.
__ADS_1