
Agil yang berada di dalam kamar, tak menghiraukan apa yang terjadi pada kepalanya yang tadi terbentur siku lemari.
Mamah Nina masuk kamar Agil, karna ingin mengajaknya untuk makan malam.
"Astagfirullah nak, itu keningmu kenapa berdarah?" tanya mamah.
Agil kaget, dengan ucapan sang mamah. Agil pun melihatnya di kaca. Agil tidak mungkin, kalau ini ulah Fahmi, ini pun kesalahannya karna memaksa Fahmi.
"Tadi kaka jatuh di kamar mandi, dan terbentur siku pintu kaca," ucap Agil berbohong.
"Ya Allah nak, lain kali hati-hati, ini sih harus ke dokter. Bentar mamah telepon ayah," ucap mamah.
Mamah melakukan video call ayah, dan ayah masih di rumah orang tuanya bersama Fahmi.
"Assalamu'alaikum yah, udah dimana?" tanya Nina dengan panik.
"Mamah kenapa panik gitu?" tanya ayah.
"Ini yah, keningnya Agil berdarah dan lukanya harus di bawa ke dokter. Katanya tadi kepeleset di kamar mandi, ayah cepet pulang,"ucap mamah sambil menunjukkan luka di keningnya Agil.
"Astagfirullah, ya udah bentar lagi ayah pulang. Dan nanti kita bawa ke dokter," ucap ayah.
Fahmi yang mendengar, panggilan telepon dari mamah. Fahmi pun merasa bersalah, karna tadi sudah mendorong Agil. Fahmi pun mendadak panik dan sulit mengontrol emosinya, Fahmi menonjokkan tangannya ke tembok sambil berteriak.
Hendra dan eyang yang melihat Fahmi begitu, mereka kaget dengan ulahnya Fahmi saat itu.
"Kenapa nak?" tanya ayah.
Fahmi pun memukul dirinya dengan tangan, tantrumnya Fahmi kembali lagi. Eyang yang mencoba menenangkan Fahmi, eyang ikut ke pukul dengan tangannya Fahmi.
"Mah...permisi, ini Fahmi tantrum lagi, aku juga bingung ini Fahmi kenapa," ucap Hendra.
Hendra yang melihat Fahmi tantrum lagi, bingung dengan apa yang Fahmi rasakan. Karna selama ini Fahmi tidak pernah tantrum, tetapi sekarang kembali tantrum.
Hendra mencoba memegang tangan Fahmi, agar Fahmi tak melukai dirinya. Hendra mencoba menelepon istrinya, untuk pergi ke rumah sakit sendiri.
"Assalamu'alaikum mah," ucap Hendra.
"Walaikumsalam yah, ada apa?" tanya Nina.
"Mamah ke rumah sakit aja sekarang, nanti ayah menyusul. Ini Fahmi mendadak tantrum lagi, ntah apa yang membuat Fahmi tantrum lagi. Tapi jangan bilang sama Agil ya," ucap Hendra.
"Iya yah, ya udah mamah ke rumah sakit sekarang," ucap Nina.
Telepon pun di matikan, mamah Nina membawa Agil ke rumah sakit. Hendra masih mencoba menenangkan Fahmi, namun bukannya mereda, justru tambah mengamuk. Hendra pun menelepon Anisa.
"Assalamu'alaikum Anisa," ucap Hendra.
"Walaikumsalam pa Hendra, ada apa pak?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Kamu bisa ke rumah ibu saya di jalan Aceh no 67, Fahmi tantrum lagi," ucap Hendra.
"Baik pa, Anisa kesana sekarang," ucap Anisa.
Telepon pun dimatikan, Fahmi masih mengamuk. Hendra berusaha memegang tangannya, dan eyang hanya bisa melihat Fahmi yang menderita autism atau autis.
"Apa nak yang membuat kamu seperti ini? Apa karna Agil yang sudah membuat kami seperti ini, tapi apa yang membuat Fahmi menjadi begini," ucap Hendra.
"Apa Fahmi sering begini nak?" tanya mamah.
"Sudah gak pernah mah, terakhir waktu Fahmi SD," ucap Hendra.
"Tadi kamu telepon guru pembimbingnya?" tanya mamah.
"Iya mah, biasanya kalau ada Anisa langsung tenang," ucap ayah.
"Iya semoga aja, mamah juga akan belajar dari Anisa. Biar mamah bisa memahami Fahmi," ucap mamah.
Fahmi mulai mereda emosinya, Hendra pun bisa melepaskan pelukannya. Namun di lepas, Fahmi kembali memukul-mukulkan kepalanya dengan tangan lagi.
Hendra pun kembali memeluk Fahmi dari belakang, dan bersolawat agar Fahmi tenang. Namun bukannya tenang malah makin menjadi, Hendra bingung dengan apa yang terjadi.
"Kamu kenapa sih nak? ayah bingung nak! Kamu kenapa dengar Agil terluka, kamu jadi tantrum," ucap ayah.
Fahmi tidak mungkin mengungkapkannya apa yang terjadi sesungguhnya pada Agil, Fahmi pun berteriak-teriak Sejadi-jadinya.
Akhirnya Anisa datang, dan melihat Fahmi tantrum lagi. Anisa pun bingung, harus bagaimana, karna selama ini Fahmi tidak pernah tantrum lagi.
"Fahmi," ucap Anisa.
Fahmi pun melihat ke arah yang memanggilnya, Fahmi menatap mata Anisa. Fahmi mulai tenang, dan berhenti berteriak.
"Fahmi kenapa?" tanya Anisa.
"Kening kaka karna Fahmi," ucap Fahmi.
Fahmi kalau sudah tantrum, kosa katanya jadi belibet lagi. Karna Fahmi susah berpikir lagi.
"Kenapa kening kaka?" tanya Anisa.
"Kaka sakit karna Fahmi," ucap Fahmi.
Hendra pun bingung dengan pernyataan sang anak, apa maksudnya.
"Emang Fahmi udah melakukan apa?" tanya Anisa.
"Fahmi dorong kaka, tapi Fahmi gak sengaja," ucap Fahmi.
Hendra mengajak Anisa dan Fahmi untuk mengobrol bertiga, Hendra membawa Anisa dan Fahmi ke kamar untuk menanyakan lebih lanjut.
__ADS_1
"Maksud adek apa?" tanya ayah.
Fahmi tak menjawab, namun hanya menundukkan kepala. Karna Fahmi bingung harus bercerita dari mana awalnya, semua karna Fahmi.
"Fahmi yang bikin kaka berdarah," ucap Fahmi.
"Lanjutkan ceritanya, ayah tidak akan marah sama Fahmi. Asalkan Fahmi jujur sama ayah," ucap ayah.
Fahmi pun bangkit dari duduknya, lalu mengambil amplop dari tasnya. Amplop itu di berikan pada ayahnya.
"Ini yah," ucap Fahmi.
Hendra menerima amplop dari Fahmi, lalu Hendra membuka amplop itu. Hendra kaget dengan hasil yang menunjukkan kalau Fahmi, positif terkena Libido.
Libido adalah memiliki gairah **** yang tinggi. Seseorang yang terkena Libido biasanya perubahan hormon karna pubertas.
Hendra langsung memeluk Fahmi, dan menangis saat memeluk Fahmi. Hendra sedih karna kondisi Fahmi yang terkena Autism atau autis, sekarang terkena Libido.
"Anisa, boleh keluar sebentar? soalnya saya mau ngobrol dulu berdua sama Fahmi," ucap Hendra.
"Boleh pa," ucap Anisa.
Anisa pun keluar kamar Fahmi, karna Anisa juga ingin memberikan waktu agar mereka bisa saling mengobrol.
"Fahmi cerita sama ayah, kenapa kaka bisa berdarah kaya gitu," ucap Fahmi.
Fahmi pun menceritakan dari awal yang terjadi, Hendra yang mendengarnya merasa bersalah karna Fahmi kurang perhatian saat ini.
"Kening kaka berdarah, karna Fahmi gak sengaja dorong kakak. Kaka minta maaf, lalu memeluk Fahmi sambil memegang anu nya Fahmi. Kenapa Fahmi minta pindah ke rumah eyang, karna Fahmi mau menjaga jarak sama kaka. Fahmi takut gelap mata, dan Fahmi takut menodai kaka lebih lanjut. Fahmi minta maaf!" ucap Fahmi sambil menunduk.
"Iya nak, udah gak apa-apa. Ini semua bukan salah kamu juga, ayah juga salah. Ayah belum sempat mengajarkan tentang reproduksi wanita dan seksualitas antara perempuan dan laki-laki, lain kali akan ayah ajarkan untukmu," ucap ayah.
"Maafkan Fahmi yah," ucap Fahmi.
"Sudah nak, ayah tak menyalahkanmu juga. Semua sudah terjadi, sekarang kamu disini aja. Jangan lakukan itu lagi pada wanita lain, lakukan nanti untuk istrimu nanti," ucap ayah.
"Iya yah, makasih udah mau memaafkan Fahmi. Fahmi janji akan menyembuhkan Libido ini, dan biarkan nanti ini semua untuk istri Fahmi nantinya," ucap Fahmi.
Tiba-tiba ponsel ayah berbunyi, ternyata sang istri yang menelepon.
"Assalamu'alaikum mah, gimana udah beres?" tanya Hendra.
"Walaikumsalam yah, Agil mendapatkan 5 jahitan di keningnya. Ayah dimana?" tanya Nina.
"Astafirullah, terus sekarang keadaannya gimana? ayah masih di rumah mamah, soalnya tadi ayah ketiduran," ucap ayah berbohong.
"Ya udah ayah tidur disana aja, ini mamah juga udah di jalan mau pulang. Salam untuk mamah dan Fahmi," ucap Nina.
"Iya mah," ucap Hendra.
__ADS_1
Telepon pun di matikan, Fahmi tau ayahnya berbohong. Harusnya ayah menyusul mamah ke rumah sakit, namun ayah masih disini.