
Akhirnya Agil mau tidur, walaupun seseorang yang di tunggu ya tak kunjung pulang ke rumah.
"Ayah dimana, kenapa gak puyang," Agil yang mengigau dalam tidur.
Nina yang melihat Agil mengigau dalam tidurnya, hatinya seperti tersayat pisau. Baru kali ini, Agil tidur tidak bersama ayahnya.
"Suatu hari nanti, kamu akan mengerti dengan apa yang terjadi hari ini," gumam mamah Nina dalam hati.
Akhirnya Nina tertidur, setelah melewati hari yang sangat panjang. Nina terlelap sambil memeluk Agil yang sudah tidur lebih dulu, dan sudah terbang ke alam mimpi.
"Sayang... jaga Agil ya, sayangi dia meski tanpa aku disampingmu. Aku sudah belikan hadiah untuk Agil, nanti berikan saat dia berulang tahun dengan memasuki usia 3 tahun. Aku disini akan selalu menjaga kalian dan aku akan selalu ada untukmu," ucap Agasa yang masuk ke dalam mimpi Nina.
Nina langsung terbangun, setelah bermimpi suaminya. Nina melihat jam dinding di kamar, dan menunjukkan jam 3 subuh. Nina bangun dari tidur untuk melakukan ritual solat malam.
"Ya Allah... ya Tuhanku, jagalah suamiku di sampingmu. Aku dan Agil akan bahagia disini, aku berjanji untuk menjaga Agil, mamih dan ibu disini. Karna merekalah, aku akan kuat tanpamu di dunia nyataku," ucapan doa Nina dalam solat malamnya.
Ritual solat malam pun telah dilakukan, Nina melihat sang putri yang masih tertidur. Nina harus kembali berjuang untuk membiayai anak semata wayangnya, mamih tercinta yang ada di Kalimantan, dan ibu mertua yang ada disini.
Adzan subuh sudah berkumandang, Tiba-tiba Agil terbangun dan langsung memeluk mamahnya.
"Kenapa bangun?" tanya mamah Nina.
"Agiy mau colat cubuh," ucap Agil.
Mamah Nina terharu, karna tidak pernah memaksa untuk Agil solat. Namun sang ayah selalu membangunkan Agil untuk solat subuh, dan hari ini Agil ingin solat subuh.
Mamah Nina mengajak Agil untuk mengambil wudhu, Agil sudah lancar wudhu sendiri. Agil selalu diajarkan wudhu yang baik dan benar oleh sang ayah, hingga Agil sudah bisa wudhu sendiri.
Akhirnya ritual solat subuh pun sudah selesai, si akhir solat Agil selalu diajarkan untuk berdoa pada Allah SWT.
" Ya Allah... Agiy cuman mau minta toyong, bawa ayah puyang ke yumah. Agiy yindu cekali cama ayah, ya Allah jagain ayah dimana pun ayah beyada, Agiy cuman mau ayah puyang ke yumah dengan cehat," ucap Agil yang mengadahkan kepala ke atas sambil mengangkat kedua tangannya.
Agas merupakan sosok seorang ayah yang baik untuk istri dan anaknya, Agasa selalu mengajarkan agama Islam untuk Agil. Agar kedepannya Agil menjadi wanita yang baik dan tau agama.
"Mah... boyeh tiduy yagi gak?" tanya Agil yang mungkin masih mengantuk.
"Boleh sayang, bobo yang nyenyak ya. Mamah keluar kamar dulu ya," ucap mamah Nina.
Agil yang merasakan matanya masih mengantuk, tak butuh waktu lama untuk Agil terlelap dalam tidurnya lagi. Agil sudah kembali bermimpi, kali ini Agas mendatangi Agil dalam mimpi.
"Agil sayang... ayah akan selalu ada untuk Agil, Agil janji sama ayah ya. Agil harus jadi anak yang baik, jangan cengeng, selalu bantu mamah dan nenek di rumah, Agil harus jadi gadis yang mandiri tanpa ayah, dan jangan lupa untuk solat, rajin ngajinya. Ayah akan selalu ada buat Agil, ayah akan selalu ada di hati Agil. Ayah harus pergi dulu, tapi ayah akan selalu hadir di dalam mimpinya Agil," ucap ayah Agasa yang hadir ke dalam mimpi Agil.
Agil langsung bangun dan berteriak memanggil ayah.
"Ayaaaaaaaaaaaaah," teriak Agil sambil menangis.
__ADS_1
Mamah Nina dan sang nenek langsung ke kamar, setelah mendengar Agil berteriak.
"Kenapa nak?" tanya mamah Nina.
"Agiy mimpi ayah," ucap Agil sambil menangis.
"Ayah bilang apa?" tanya mamah Nina.
"Kata ayah gak boyeh cengeng, hayus jadi anak baik, bantu mamah dan nenek di yumah, yajin coyat, yajin ngaji, hayus jadi anak mandiyi, dan ayah biyang kayo ayah akan celalu jagain Agiy dan celalu ada di hati Agiy," ucap Agil sambil menangis dan menjabarkan isi mimpinya.
"Agil harus doakan ayah, biar ayah selalu bahagia. Karna ayah akan selalu jagain Agil dan selalu ada di hati Agil," ucap mamah Nina.
Agil yang masih menangis, hanya mendengarkan ucapan sang mamah. Agil pun hanya menganggukkan kepala, setelah sang mamah berucap.
"Anak pintarnya mamah, nanti Agil di rumah sama nenek ya. Mamah mau nyari kerja dulu. Agil jangan rewel, bantuin nenek di rumah ya," ucap mamah Nina.
"Iya mah, Agiy janji gak akan nangis dan akan bantu nenek di yumah," ucap Agil.
Mamah Nina bangga pada anaknya, yang akan baru mau 3 tahun. Tapi bisa diberitahu dan sudah pintar untuk menjadi anak baik.
Mamah Nina sedang bersiap-siap untuk pergi ke sebuah perusahaan, yang dimana disana ada sahabat waktu SMA dengan menawarkan lowongan kerja untuk Nina.
Nina pun berangkat menggunakan ojek online, karna motor yang di pakai oleh almarhum suaminya sudah hancur, saat kecelakaan kemarin.
Akhirnya Nina tiba di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi bangunan, Nina belum tau akan bekerja apa di perusahaan ini.
"Selamat pagi mbak, saya Nina Apriliani ingin bertemu dengan pa Hendra," ucap Nina.
"Apa ibu sudah membuat janji dengan pa Hendra?" tanya pegawai front office.
"Sudah mbak, saya disuruh datang kesini jam 9 pagi," ucap Nina.
"Baik, saya telepon pa Hendra dulu," ucap pegawai front office.
Nina pun menunggu di lobi perusahaan, Nina duduk di salah satu kursi yang tersedia disana.
"Mari bu, saya antarkan ke ruangan pa Hendra," ucap salah satu pegawai front office.
Nina pun berjalan mengikuti pegawai tersebut, dan tibalah di sebuah ruangan. Diketuklah pintu itu.
"Silahkan masuk," ucap Hendra.
"Selamat pagi pa, saya mau mengantarkan tamu untuk bapak," ucap pegawainya.
"Suruh masuk, dan kamu boleh kembali bekerja," ucap Hendra.
__ADS_1
"Terima kasih pa," ucap Pegawainya.
Nina pun dipersilahkan masuk, dan akhirnya Nina bertemu kembali dengan sahabat lamanya. Sebenarnya Nina, Agasa, dan Hendra ini bersahabat waktu SMA. Hendra sempat menyukai Nina, namun Nina menolak Hendra. Nina memilih Agasa untuk menjadi suaminya saat itu, akhirnya mereka menikah.
"Hai sahabatku apa kabar?" tanya Hendra.
"Allhamdulilah baik," ucap Nina.
"Agas apa kabar?" tanya Hendra, karna Hendra tidak mengetahui kalau sahabatnya itu sudah meninggal.
"Mas Agas meninggal 2 hari yang lalu," ucap Nina dengan lirih.
"Innalillahi wa innaillahi rojiun, Agas kenapa? jujur aku tidak tau, kalau Agasa meninggal," ucap Hendra.
"Mas Agas meninggal setelah pulang kerja, dan habis membeli hadiah untuk Agil tahun depan ulang tahun," ucap Nina.
"Ya Allah... aku turut berduka cita ya, jujur aku gak tau. Aku jarang hadir di grup, jadi aku tidak tau ada berita duka ini," ucap Hendra.
"Gak apa-apa, doakan saja untuk sahabatmu itu," ucap Nina.
"Aku akan selalu mendoakan untuk sahabatku, makanya aku kaget saat kemarin kamu menanyakan apa ada lowongan kerja atau tidak. Sebenarnya ada lowongan sebagai sekertaris pribadi saya, karna sekertaris yang kemarin mengundurkan diri," ucap Hendra.
"Apa aku bisa melamar kerjaan itu, tapi aku hanya lulusan SMA!" ucap Nina.
"Mana CV nya?" tanya Hendra.
Nina memberikan surat lamaran kerja itu, Hendra melihat banyak pengalaman kerja Nina saat sebelum menikah dengan Agasa.
"Besok mulai kerja, pakai pakaian yang sopan untuk bekerja. Masuk kerja jam 8, usahakan sebelum jam 8 sudah ada di kantor," ucap Hendra.
Hendra menelepon front office untuk meminta seluruh karyawan/karyawati untuk berkumpul di ruang meeting sekarang.
Semua karyawan/karyawati sudah berkumpul di ruang meeting, Hendra akan mengumumkan sekertaris terbaru.
"Selamat pagi semua, saya akan mengumumkan sekertaris terbaru. Ini namanya Nina Apriliani yang akan menjadi sekertaris pribadi saya," ucap Hendra.
"Selamat pagi semua, perkenalkan nama saya Nina Apriliani. Saya sekertaris baru untuk pa Hendra, saya mohon bantuan dari teman-teman semua," ucap Nina.
Semua karyawan/karyawati pun satu per satu berkenalan dengan Nina, perkenalan pun telah selesai. Semua kembali kerja pada bidangnya masing-masing, dan Nina mengikuti Hendra kembali ke ruangannya.
"Agil apa kabar?" tanya Hendra.
"Agil semakin cerewet dan pintar," ucap Nina.
"Ini kamu pelajari dulu berkas-berkas untuk meeting, nanti kamu yang menyiapkan segalanya. Apa kamu bisa dan siap?" tanya Hendra.
__ADS_1
"Insya Allah bisa," ucap Nina.
Hari sudah semakin siang, Hendra akan mengajak Nina untuk makan siang. Setelah makan siang akan mengantarkannya pulang.