My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 21 - MBV -


__ADS_3

Satu minggu setelah ancaman mengerikan dari Jenderal Virendra membuat istana kembali sunyi, seolah tidak ada yang berani membuka suara.


Kehidupan Venus kembali tenang tanpa gangguan dan hasutan dari Putri Selena. Venus senang bisa menikmati kebebasan yang diberikan oleh Jenderal Virendra tanpa perlu khawatir akan kehadiran Putri Selena yang sangat mengganggu.


Saat ini Venus tengah menikmati waktu santainya di kediaman Bibi Martha, menikmati secangkir teh buatan Bibi Martha yang terasa begitu nikmat.


“Kau terlihat lebih bahagia saat ini.” Ucap Bibi Martha sembari mengelus rambut Venus penuh kasih.


“Benarkah, Bibi?” tanya Venus tidak percaya, dia merasa biasa saja tidak ada yang istimewa.


“Ya, kau terlihat lebih cantik. Apakah ini karena Jenderal memperlakukanmu dengan baik?” Bibi Martha kembali bertanya disetai senyum hangatnya.


“Iya, Bibi. Jenderal selalu bersikap baik dan mau mengajariku. Jenderal juga mau menerima pendapatku dan mau menuruti keinginanku.” Jawab Venus disertai senyum malunya, gadis itu bahkan kini terlihat merona.


Bibi Martha ikut tersenyum melihat wajah merona dan senyum malu milik Venus. Dia tidak menyangka gadis kecilnya kini sudah tumbuh dewasa dan mungkin sedang merasakan bunga-bunga cinta bermekaran dihati.


"Bibi bahagia melihat kau bahagia. Ingat pesan Bibi, apapun yang akan terjadi dimasa depan tetap percayalah pada Jenderal. Hanya dialah yang bisa melindungimu." Ucap Bibi memberi nasehat yang entah mengapa terdengar seakan ada sebuah peristiwa yang mungkin mengancam pernikahan Venus dan Jenderal Virendra.


*


*


Jenderal Virendra tersenyum tipis, sangat tipis bahkan hampir tidak terlihat seperti sebuah senyuman. Di depan sana terlihat Venus sedang menunggu kedatangan Jenderal Virendra untuk makan malam bersama.


Seperti kesepakatan sebelumnya, mereka akan mulai membuka hubungan ini dan itu semua dimulai dari makan malam bersama.


"Kau sudah menunggu lama?" tanya Jenderal Virendra tiba-tiba mengejutkan Venus yang tengah melamun.


Venus tersenyak kaget, gadis itu segera berdiri dan segera menghampiri Jenderal Virendra.


"Jenderal, maaf seharusnya Venus menyambut di depan pintu." Ucap Venus penuh sesal seraya mengikuti langkah kaki Jenderal Virendra menuju meja makan.

__ADS_1


"Tidak apa, aku sengaja datang tanpa memberitahu. Ayo segera makan, jam makan malam sudah hampir lewat."


Keduanya makan dengan tenang dan damai, menikmati makan malam tanpa bersuara. Barulah setelah makan malam mereka memutuskan untuk sedikit berbincang-bincang.


"Bagaimana harimu?" tanya Jenderal Virendra membuka percakapan.


"Menyenangkan seperti biasa, Jenderal." Jawab Venus disertai senyum manisnya.


"Suasana istana sedang damai saat ini, mungkin kau juga merasakannya."


"Ya Jenderal, terlihat damai dan begitu tenang. Ehm ... Jenderal, bolehkah Venus menanyakan sesuatu?" Venus bertanya dengan hati-hati, gadis itu terlihat sedikit ragu.


"Tanyalah, tidak perlu ragu seperti itu. Bukankah kita sudah memutuskan untuk saling diri." Jawab Jenderal Virendra dengan tenang, matanya tak lepas memandang wajah polos Venus.


"Bagaimana masa kecil, Jenderal?" Tanya Venus dengan suara kecil seolah takut ada yang mendengarnya, akan tetapi Jenderal Virendra masih bisa mendengar suaranya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya balik Jenderal Virendra.


Jenderal Virendra sendiri tampak puas mendengar ucapan Venus. Terlihat gadis itu benar-benar berusaha ingin memulai hubungan mereka dengan baik. Jenderal Virendra menghargai usaha Venus.


"Tidak ada yang menarik dari kehidupan seorang calon pewaris." Jawab Jenderal Virendra pada akhirnya.


"Kenapa seperti itu, Jenderal?" tanya Venus lagi.


"Kehidupan seorang pewaris tidaklah jauh dari latihan ketangguhan dan itu sangat membosankan." Jawab Jenderal Virendra dengan jujur, masa kecil memang sangat membosankan dan hampir tidak ada hal istimewa yang dia lalui.


"Benarkah? Jenderal pasti sangat kesepian saat kecil." Venus berkata dengan pelan, turut prihatin dengan kehidupan Jenderal Virendra yang membosankan.


"Kau sendiri bagaimana kehidupan masa kecilmu?" Tanya Jenderal Virendra balik, terlihat pria itu ingin mendengar kisah masa kecil Venus.


"Venus tidak mengingatnya dengan jelas. Yang Venus ingat hanya ketika Bibi Martha dengan baik hati mau merawat Venus. Sama seperti Jenderal, kehidupan masa kecil Venus juga membosankan. Bibi Martha tidak pernah mengizinkan Venus bermain di luar seperti anak-anak yang lainnya."

__ADS_1


Mendengar ucapan Venus membuat Jenderal Virendra menatap gadis itu dengan dalam. Mata Jenderal Virendra berkilat, seolah ada sesuatu yang ingik disampaikan pria itu.


"Kau benar-benar tidak bisa mengikuti kehidupanmu saat sebelum bertemu Martha?" tanya Jenderal Virendra seakan memastikan sesuatu.


"Ya, Jenderal. Mungkin sangat aneh rasanya, tapi itulah yang terjadi. Bibi Martha sendiri tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalu Venus." Jawab Venus dengan penuh keyakinan, gadis berusaha meyakinkan Jenderal Virendra bahwa ceritanya benar dan tidak ada yang ditutupi.


"Suatu saat kau akan kembali mengingatnya," ucap Jenderal Virendra tajam seakan ada makna yang tersimpan di dalamnya.


TBC


Rekomendasi novel menarik untuk kalian baca, yuk mampir dan jangan lupa dukungannya 😊


Judul : PERAWAN LIMA RATUS JUTA


"*Jangan pernah menghindari Ku, Kakak kamu akan mendapatkan perawatan dan pengobatan ekslusif. Asalkan kamu bersedia menjadi teman tidur ku selama dua Minggu. ucap Daniel Gladuks.


Kelamnya masa lalu telah membentuk Daniel Gladuks menjadi seorang laki-laki yang sangat tidak percaya dengan namanya cinta. Itu sebabnya ia kerap memandang rendah pada wanita. Dan selalu menganggap wanita itu hanya mainan saja. Hal itu yang membuat Daniel Gladuks selalu bergonta ganti pasangan untuk memuaskan nafsu birahinya.


Tetapi Olivia Jason hadir di kehidupannya dengan membawa segala ketulusan yang ia punya.


Akankah Olivia Jason mampu membuat Daniel Gladuks berubah dan dapat percaya bahwa cinta tulus dari seorang wanita benar-benar ada?


Simak ceritanya di "Perawan 500 juta


Original by Morata


FB.nolan s


Ig.sihalohoherlita*


__ADS_1


__ADS_2