
Sebelum kejadian Venus terjatuh dari tangga.
Venus tengah bersiap untuk bertemu dengan Bibi Martha dan Velly. Dia mengajak keduanya untuk minum teh bersama sembari menikmati pemandangan sore hari.
Saat Venus ingin melangkah keluar kamar, kakinya menginjak sesuatu. Venus menunduk dan melihat sebuah gulungan kertaslah yang dia injak. Dengan rasa penasaran Venus mengambil kertas itu walaupun sedikit sulit karena terhalang perutnya yang besar.
"Kertas apa ini?" Gumam Venus sambil membuka gulungan kertas itu dan membaca isi surat di dalamnya.
Temui aku di gudang belakang. Ada sebuah rahasia yang menyangkut anak dan suamimu. Datang sekarang juga atau nyawa anakmu yang terancam!
Jantung Venus berdebar kencang usai membaca surat itu. Venus tahu ini bukan sekedar surat biasa, dia bisa merasakan ancaman dari tulisan tersebut. Tanpa pikir panjang Venus segera keluar kamar san menuju gudang belakang seorang diri.
"Nyonya, Anda mau kemana?" tanya seorang pelayan yang kebetulan lewat dan mendapati Venus berjalan seorang diri.
"Ada sesuatu yang harus saya urus. Kau tolong sampaikan pada Bibi Martha dan Velly kalau aku akan terlambat menemui mereka. Katakan pada mereka aku akan datang setelah urusanku selesai." Ucap Venus memberi perintah sembari terus berjalan menuju gudang belakang.
"Nyonya sendirian, biarkan saya menemani Nyonya." Pelayan tersebut terus mengikuti langkah kaki Venus, dia tidak bisa membiarkan sang Nyonya pergi seorang diri.
"Tidak perlu, aku tidak pergi jauh. Lagipula ini hanya sebentar, kau sekarang pergi temui Bibi Martha dan Velly sampaikan ucapanku tadi." Venus menghentikan langkahnya dan dengan paksa meminta pelayan tersebut untuk pergi.
__ADS_1
Venus harus datang seorang diri atau seseorang yang mengancamnya itu akan berbuat nekat. Dia tidak ingin Varest kembali menjadi korban.
Dengan hati-hati Venus melangkah menuju gudang belakang. Jalan menuju gudang belakang harus melewati anak tangga yang lumayan tinggi. Melihat tidak ada siapapun di sana Venus memutuskan untuk segera pergi. Venus dengan pelan menuruni tangga, dia takut tergelincir dan jatuh.
Saat di pertengahan tiba-tiba Venus merasa ada seseorang di belakangnya. Venus berbalik dan belum sempat dia bersuara, seseorang yang memakai topeng itu mendorongnya dengan keras.
Semua terjadi dengan cepat tanpa bisa Venus cegah. Tubuhnya terguling ditangga dan berakhir tergeletak di jalan. Venus merasa sakit yang begitu menyakitkan di perutnya, disisa kesadarannya Venus melihat orang yang mendorongnya tengah tersenyum puas.
"Vir ... tolong--sa--sakit ...." Venus merintih kesakitan sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
*
*
"Tolong! Siapapun tolong!" Pelayan tersebut segera berlari mencari pertolongan.
Jenderal Virendra yang baru kembali segera mendekat. Perasaannya tidak enak, entah mengapa Jenderal Virendra tiba-tiba dilanda rasa takut.
"Jenderal ... tolong Nyonya! Nyonya terjatuh dan tidak sadarkan diri!" ucap pelayan itu dengan tubuh bergetar ketakutan.
__ADS_1
Jenderal Virendra bergegas menuju tempat yang pelauan itu maksud. Seketika jantung seperti berhenti berdetak melihat keadaan Venus.
"Venus!" Jenderal Virendra berteriak kaget dan segera mengangkat Venus kedalam gendongannya.
Pelayan dan pengawal yang bertugas di kediaman Jenderal Virendra segera mendekat. Dengan cepat mereka membantu Jenderal Virendra menuju mobil. Tidak ada yang berani bersuara saat melihat betapa mengerikannya wajah Jenderal Virendra.
Jenderal Virendra jelas sangat marah dan begitu khawatir dengan keadaan Venus. Tadi selesai pertemuan dengan para menteri, Jenderal Virendra memutuskan untuk segera kembali ke kediamannya. Perasaannya tidak nyaman dan sepertinya perasaan tidak nyaman itu dikarenakan keadaan Venus yang sangat menyedihkan.
"Tolong bertahan, aku mohon!" Jenderal Virendra menggenggam erat tangan Venus yang tidak sadarkan diri.
Saat ini mereka menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Jenderal Virendra terus bergumam meminta Venus untuk kuat dan bertahan.
Sedangkan di Istana, Bibi Martha juga tidak sadarkan diri karena terkejut mendengar berita tentang Venus. Wanita tua itu mengalami serangan jantung ringan dan sekarang sedang diperiksa dokter.
Varest yang baru pulang latihan hanya bisa menangis mendengar berita tentang Ibunya. Pria kecil itu meraung, meminta siapa saja membawanya pada sang Ibu. Varest tidak bisa tenang sebelum melihat keadaan Ibunya.
Istana berduka, semua merasakan kesedihan yang mendalam, kecuali satu orang. Hanya orang itulah yang tersenyum bahagia melihat keadaan Venus.
TBC
__ADS_1