
Jenderal Virendra tidak tahu harus menjawab apa. Dia tidak ingin menyakiti hati Venus, akan tetapi berbohong bukanlah hal yang baik karena pada akhirnya Venus tetap akan tersakiti.
"Kita akan membicarakan hal ini nanti," Jenderal Virendra menjawab santai seolah tidak ada beban.
Mau tidak mau hanya itulah yang bisa Jenderal Virendra katakan. Beruntung Venus tidak memaksa lebih lanjut, wanita itu hanya mengangguk tanpa berniat membantah.
Diam-diam Bibi Martha menghela napas lega, "Venus, lebih baik kau beristirahat. Varest juga sepertinya sudah mengantuk."
"Baiklah, Venus kembali ke kamar dulu." Ucap Venus kemudian segera kembali ke kamar bersama Varest yang sudah tampak mengantuk.
"Jenderal, sebaiknya Anda mengatakan dengan jujur kondisi kesehatan Venus. Saya tidak mau jika Venus berharap yang akan berakhir menyakiti hatinya."
Jenderal Virendra hanya mengangguk setuju atas saran dari Bibi Martha. Jujur saja, sedari awal Jenderal Virendra sudah ingin mengatakan hal itu. Namun, Jenderal Virendra tidak ingin membuat Venus menambah beban pikiran dan bersedih lagi.
*
*
Venus tertidur pulas di samping Varest yang juga tidur dengan pulas. Jenderal Virendra menatap keduanya penuh kasih, hatinya menghangat menatap pemandangan indah ini.
"Maaf belum bisa menjadi suami yang baik untukmu." Bisik Jenderal Virendra sembari mengelus lembut rambut panjang Venus.
Venus menggeliat pelan merasakan sentuhan Jenderal Virendra, kemudian wanita itu membuka matanya.
__ADS_1
"Maaf membangunkanmu," ucap Jenderal Virendra penuh sesal.
Venus menggeleng pelan sembari berusaha untuk duduk bersandar di atas ranjang.
"Venus tertidur nyenyak, bahkan sampai lupa memindahkan Varest." Venus tersenyum kecil menatap wajah Varest yang begitu menggemaskan.
"Biar aku yang memindahkan." Jenderal Virendra dengan hati-hati menggendong Varest dan memindahkan putranya itu ke tempat tidur khusus.
Venus memperhatikan sikap Jenderal Virendra dengan seksama. Hatinya menghangat melihat betapa baiknya Jenderal Virendra, pria itu berubah menjadi lebih hangat dan perhatian sejak menyatakan cinta.
"Vir," panggil Venus lembut ketika tiba-tiba teringat suatu hal.
Jenderal Virendra menoleh, "ya?"
"Ya, ada pemberontakan. Kau tahu, Negara Selatan belum sepenuhnya melepaskan kita. Meski Raja mereka telah lengser, nyatanya masih banyak tikus yang bersarang di sana."
"Mereka juga menaruh dendam pada Jenderal?" tanya Venus dengan polosnya.
Jenderal Virendra tersenyum kecil sebelum menjawab, "bisa dikatakan seperti itu."
"Kenapa?" tanya Venus lagi.
"Venus, di dunia ini setiap yang haus akan kekuasaan pasti menyimpan hal buruk untuk melainkan suatu hal. Menjadi pemimpin Negara yang makmur tentu membuat Negara yang lain merasa tersaingi hingga menciptakan dendam tersendiri."
__ADS_1
"Kalau begitu, apakah mereka akan menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang mereka inginkan?"
"Tentu saja, karena itulah kita harus selalu waspada. Ingat, kejahatan bisa datang dari manapun dan bisa dilakukan oleh siapapun."
"Ya, Venus mengerti. Cukup satu pengkhianat yang berhasil melukai hati Venus," Venus bergumam sedih mengingat Avi yang dia percaya justru berkhianat.
"Tidurlah, ini sudah malam. Jangan mengingat hal yang sudah berlalu." Jenderal Virendra tersenyum mengusap lembut kepala Venus dan mengecup kening wanita itu.
Jenderal Virendra segera merebahkan dirinya, bersiap untuk tidur. Namun, pertanyaan Venus selanjutnya membuat Jenderal Virendra membuka mata lebar.
"Vir, apakah Varest ikut merasakan persaingan itu?"
Jenderal Virendra kembali duduk mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Venus.
"Apa maksudmu?" Jenderal Virendra bertanya pelan seolah tidak mengerti maksud dari ucapan Venus.
"Varest tidak akan menjadi korban selanjutnyakan?" tanya Venus hati-hati. Inilah yang ingin dia tanyakan belakangan ini, pertanyaan yang mengganggu ketenangannya.
Pertanyaan Venus berhasil menampar Jenderal Virendra dengan kuat. Benar, feeling Venus sebagai seorang Ibu tidaklah bisa diragukan. Sebagai pewaris tahta Negara Aleister, status Varest sangatlah tinggi dan resiko yang ditanggung bayi itu jugalah besar.
Jenderal Virendra tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Dia bahkan melupakan peristiwa kelam bertahun-tahun yang lalu. Peristiwa yang menorehkan luka cukup dalam pada Jenderal Virendra dan meninggal trauma tersendiri. Peristiwa pahit yang menjadi hari terkelam untuk Jenderal Virendra.
TBC
__ADS_1