My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 63 - MBV -


__ADS_3

Mendengar kabar Venus sudah sadar dan kesehatannya membaik, Varest begitu antusias. Anak itu meminta Bibi Martha membantunya menyiapkan sambutan untuk Venus yang akan segera kembali ke Istana.


"Nenek, apakah Ibu benar-benar akan kembali besok?" tanya Varest untuk kesekian kalinya.


Bibi Martha tersenyum, Varest benar-benar menggemaskan dengan wajah penuh harapnya itu.


"Ya, Ibu Venus akan kembali ke Istana besok. Sekarang Varest harus istirahat, biarkan pelayan yang meneruskan hiasan ini."


"Baiklah, Varest akan istirahat. Nenek juga harus istirahat, Ibu pasti sedih kalau Nenek sakit." Varest berucap dengan polos sembari menarik tangan Bibi Martha untuk masuk ke dalam kamarnya.


Dulu Varest berjanji pada Venus untuk selalu menjaga dan menyayangi Bibi Martha sepenuh hati. Venus juga meminta Varest untuk Bibi Martha seperti Nenek kandungannya sendiri, karena itulah Varest hingga saat ini tidak bisa jauh dari Bibi Martha.


Velly hanya bisa tersenyum menatap Varest dan Bibi Martha. Wanita itu lega bisa melihat Varest kembali tersenyum seperti semula. Sedang asik menatap Varest dan Bibi Martha, Velly dikejutkan dengan pelukan hangat dari seseorang yang sangat dia kenali.


"Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya pria yang memeluk Velly dengan erat, dia adalah Sean yang baru pulang kerja.


"Senang melihat Varest kembali ceria seperti itu," jawab Velly sembari menikmati pelukan hangat Sean.


"Varest sangat menggemaskan dengan segala tingkahnya." Ucap Sean yang kini melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata indah milik Velly.

__ADS_1


"Aku juga ingin memiliki anak seperti Varest," bisik Velly sedih.


Sean terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa yang menyemangati Velly. Sean sendiri merasa sangat sedih melihat Velly yang terus berharap agar segera diberi keturunan.


5 tahun menikah dan Velly harus menerima pil pahit bahwa dia sulit memiliki anak setelah keguguran yang dia alami. Segala cara sudah Sean dan Velly coba, tapi ternyata Tuhan masih ingin menguji mereka.


"Bersabarlah, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita." Hanya kalian itulah yang bisa Sean katakan pada Velly, berharap sang istri bisa menerima dengan ikhlas atas takdir yang sudah Tuhan gariskan.


*


*


Di rumah sakit, Venus dan Jenderal Virendra menghabiskan waktu berdua. Setelah dokter memberi izin pada Venus agar bisa melakukan perawatan di Istana, Jenderal Virendra semakin terlihat protektif pada Venus.


"Vir, aku merindukan Varest." bisik Venus tiba-tiba.


"Dia juga sangat merindukanmu. Dia bahkan tidak sabar menunggumu pulang, karena itulah kau harus beristirahat agar besok bisa kembali ke Istana."


"Apakah Varest baik-baik saja?" tanya Venus.

__ADS_1


"Dia baik, walau sempat terpukul melihat keadaanmu. Sekarang dia sudah kembali seperti Varest kita, dia bahkan dengan antusias menyambutmu besok."


Jenderal Virendra tersenyum sembari mengelus lembut rambut Venus. Keduanya membayangkan betapa antusianya Varest dan betapa repotnya Bibi Martha mengurus kelincahan putra mereka.


"Aku sangat ingin memeluknya dan mengatakan kalau Ibunya baik-baik saja. Aku juga tidak sabar bermain bersamanya." Venus tersenyum riang membayangkan waktu yang dia habiskan untuk bermain bersama Varest.


"Sayang, untuk saat ini dan sampai kau benar-benar sehat, aku melarangmu untuk mengurus Varest. Aku akan mencari pengasuh yang terbaik untuk Varest." Ucapan Jenderal Virendra berhasil membuat Venus merengut tidak suka.


"Vir, apa kau berniat memisahkan kami? Aku ingin mengurus Varest seperti biasa, kau tenang saja ada pelayan yang akan membantuku."


"Tidak bisa, ini sudah keputusanku dan dokter juga mendukung hal ini. Kau tenang saja, Varest tetap berada dalam pengawasan kita, tapi kau tidak bisa mengurusnya seperti biasa."


"Tapi Vir--"


"Tidak ada bantahan!" ucap Jenderal Virendra memotong protesan Venus.


"Baiklah, tapi bagaimana kita akan mencari pengasuh yang bisa kita percaya?" Venus akhirnya memilih mengalah, lagi pula dia tidak benar-benar melepaskan Varest begitu saja.


"Aku sudah menemukan orang yang tepat. Aku yakin kita bisa mempercayainya, aku juga sudah lama mengenalnya." Jawab Jenderal Virendra yang kemudian menyerahkan sebuah foto seorang wanita pada Venus.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Venus tidak tahu.


TBC


__ADS_2