My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 61 - MBV -


__ADS_3

Jenderal Virendra tiba di rumah sakit pukul 10 malam. Dengan tergesa-gesa Jenderal Virendra menggendong Venus menunju IGD. Di belakangnya tampak Varest berlari kecil sembari menangis mengikuti setiap langkah kaki Jenderal Virendra.


"Jenderal!" Seorang Dokter yang berjaga di IGD segera menyambut dan memberi hormat.


"Panggilakan Dokter terbaik di rumah sakti ini!" perintah Jenderal Virendra tegas.


Dengan hati-hati Jenderal Virendra membaringkan Venus di atas ranjang rumah sakit. Sudah ada Dokter yang memeriksa keadaan Venus yang tampak semakin melemah.


Menunggu Venus selesai diperiksa, Jenderal Virendra mengalihkan perhatiannya pada Varest masih menangis. Jenderal Virendra tidak tega melihat wajah khawatir putranya.


"Pulanglah, Ayah akan meminta Paman Sean menjemputmu. Kau harus istirahat, biar Ayah yang menunggu Ibu di sini." Jenderal Virendra berjongkok di hadapan Varest, menghapus air mata putranya itu.


Varest menggeleng pelan, menolak untuk meninggalkan Venus.


"Varest ingin menunggu Ibu, biarkan Varest di sini Ayah. Ini semua gara-gara Varest, Ibu sakit gara-gara Varest."


Varest kembali menangis, merasa bersalah pada Ibunya yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Jangan menyalahkan diri sendiri, ini semua bukan salah Varest. Jika Ibu mendengar Varest menyalahkan diri sendiri dia pasti sedih. Lebih baik Varest kembali ke Istana dan istirahatlah. Jangan lupakan doakan Ibu agar kembali sehat."


Tidak lama Sean datang bersama dengan Velly yang segera berlari memeluk Varest. Beribu-ribu syukur Velly ucapkan atas kembalinya Varest dengan keadaan selamat.


"Sean, bawa kembali Varest ke Istana. Aku akan menunggu Venus di sini, katakan pada Bibi untuk menjaga Varest sementara waktu." Jenderal Virendra berucap pelan.


"Baik, Jenderal!" Sean memberi hormat mengikuti perintah dari Jenderal Virendra.


Varest mau tidak mau harus kembali ke Istana. Dalam gendongan Velly, Varest terus menatap pintu ruangan tempat Venus diperiksa. Dalam hatinya dia berdoa agar sang Ibu bisa kembali sehat seperti dulu.


*


*


"Jenderal, maafkan saya. Saya sudah berusaha sebaik mungkin, hanya saja kondisi Nyonya sangat lemah. Terlebih kandungan Nyonya juga semakin melemah. Hanya ada dua pilihan Jenderal, membiarkan kandungan Nyonya sampai melahirkan atau menggugurkan kandungan Nyonya. Ini semua menyangkut nyawa Nyonya dan calon bayinya."


Penjelasan Dokter membuat Jenderal Virendra semakin pusing. Dia tidak tahu harus memilih apa, disatu sisi dia ingin Venus selamat, disisi lain Venus pernah meminta untuk mempertahankan kandungannya dan membiarkan dirinya melahirkan.

__ADS_1


"Berapa waktu yang tersiksa?" tanya Jenderal Virendra tajam.


"Dua hari, jika dalam waktu empat puluh delapan jamnya kondisi Nyonya tidak membaik maka kita harus segera mengambil tindakan."


"Kalau begitu aku akan menunggu dalam dua hari. Sampai tiba saatnya aku memilih, teruslah berusaha membuat istriku sadar!"


"Baik, Jenderal!" jawab sang Dokter dengan gugup.


"Aku akan masuk ke dalam, tutup ruangan di lantai ini sampai istriku kembali sadar!" Usai memberi perintah Jenderal Virendra segera masuk ke dalam ruang rawat Venus.


Begitu tiba di dalam ruangan, Jenderal Virendra disuguhi pemandangan menyakitkan. Di atas ranjang sana, tubuh rapuh Venus terbaring lemah. Wajah cantiknya terlihat pucat, tidak ada lagi rona merah dipipi wanita itu.


"Kenapa kau selalu menerima kesakitan seperti ini?" tanya Jenderal Virendra pada sosok Venus yang masih tidak sadarkan diri.


"Kau bilang Tuhan itu adil, tapi kenapa hanya kau yang menderita seperti ini? Tolong jangan siksa aku seperti ini, sadarlah sayang. Bangun dan kembali sehat seperti dulu, aku mohon jangan menyiksaku seperti ini." Jenderal Virendra berlutut di sisi ranjang Venus, kepalanya tertunduk lesu.


Malam begitu sunyi, hanya ditemani suara detak mesin penopang hidup Venus. Jenderal Virendra kembali terjaga seorang diri menemani sosok wanita yang sangat dia cintai, Jenderal Virendra berharap esok pagi Venus bisa kembali seperti dulu. Jenderal Virendra begitu takut jika harus kehilangan orang sangat dia cintai.

__ADS_1


Ketakutan paling besar dalam hidup adalah takut ditinggal oleh orang yang kita cintai.


TBC


__ADS_2