
Di Istana, Varest tampak termenung seorang diri. Dia yang selalu riang dan menghidupi suasana di istana kini terlihat begitu sedih. Varest juga terlihat menyendiri di dalam kamar, tidak mau berbaur dengan orang lain termasuk Bibi Martha.
Wanita paruh baya itu terlihat sedih melihat Varest yang sudah dia anggap seperti cucu sendiri terlihat begitu sedih. Dia berusaha untuk membujuk Varest agar mau berbagi cerita dengannya.
"Varest, ini Nenek Martha, biarkan Nenek masuk ya." Bujuk Bibi Martha sembari mengetuk pelan pintu kamar Varest.
Varest tidak bersuara, tapi Bibi Martha tahu Varest mendengar suaranya. Bibi Martha terus mengetuk pelan pintu kamar Varest, membujuk anak itu untuk mengizinkannya masuk ke dalam kamar.
Tidak lama pintu kamar Varest terbuka pelan. Tanpa banyak bertanya, Bibi Martha segera masuk. Dia tahu Varest memberinya izin meski tanpa kata-kata.
"Bagaimana keadaan Varest?" tanya Bibi Martha pelan.
"Varest baik, tapi Ibu tidak baik." Jawab Varest yang kini duduk di depan Bibi Martha sembari menundukkan kepalanya.
Terlihat sekali anak kecil itu sangat sedih atas apa yang terjadi pada Ibunya.
"Varest sedih dan menyalahkan diri sendiri?" tanya Bibi Martha lagi.
__ADS_1
"Iya, ini semua gara-gara Varest. Seandainya Varest bisa menjaga diri dan tidak diculik, Ibu tidak akan pergi keluar dan mencari Varest sendirian."
Bibi Martha tersenyum sedih melihat anak sekecil Varest bisa berbicara seperti ini. Varest benar-benar seperti Jenderal Virendra yang tumbuh dewasa diusia dini.
"Apa Jenderal menyalahkan Varest?" Bibi Martha kembali bertanya yang dijawab gelengan pelan dari Varest.
"Varest memang tidak salah, penjahat itu yang salah. Apa yang sudah dilakukan Ibumu adalah bentuk kasih sayang seorang Ibu terhadap anaknya. Tidak peduli dengan kondisi diri sendiri, seorang Ibu tetap akan mengutamakan keselamatan anaknya. Varest tidak boleh sedih dan terus menyalahkan diri sendiri. Ibu pasti akan sedih karena Varest menyalahkan diri sendiri."
Pada akhirnya kata-kata Bibi Martha kembali membuat Varest menangis. Anak kecil itu segera memelik Bibi Martha seolah mengatakan bahwa dia sangat terluka.
"Varest sayang Ibu, Varest tidak mau Ibu terluka." Varest melepas pelukannya dan menatap wajah Bibi Martha dengan mata berkaca-kaca.
Keduanya berpelukan, saling berbagi kesedihan. Mereka sama-sama menyayangi Venus dan tidak ingin Venus terluka. Seharian itu Varest dan Bibi Martha menghabiskan waktu untuk berdoa agar Venus kembali sehat dan bisa berkumpul bersama mereka lagi.
*
*
__ADS_1
Di rumah sakit terlihat begitu tegang. Dua puluh empat jam sudah berlalu dan Venus belum juga sadarkan diri. Jenderal Virendra terus menggenggam tangan Venus dan membisikkan kata cinta serta semangat untuk Venus bertahan.
"Bangun, sayang. Sadarlah, ada Varest yang menunggumu di Istana." Bisik Jenderal Virendra mengecup lembut kening Venus.
Jenderal Virendra hampir putus asa menghadapi kenyataan pahit ini. Namun, tiba-tiba saja Jenderal Virendra merasa tangan Venus bergerak pelan. Pria itu menunduk untuk memastikan dan benar tangan Venus balas menggenggam tangannya.
"Ya Tuhan, Venus. Sayang, kau ...." Jenderal Virendra dengan cepat menekan tombol di atas ranjang Venus untuk memanggil dokter yang berjaga.
Tidak lama seorang Dokter serta erawat masuk ke dalam dan memeriksa keadaan Venus. Dokter tersebut menoleh dengan senyum penuh kelegaan.
"Jenderal, Nyonya telah sadar dan kondisinya membaik." Dokter menjelang dengan singkat kondisi Venus yang membaik.
Seperti sebuah keajaiban dari untaian doa yang dipanjatkan orang-orang yang menyayangi Venus sepenuh hati. Dokter sendiri tidak bisa banyak berkata-kata karena merasa ini suatu keajaiban disaat kondisi Venus sudah memburuk.
Jenderal Virendra mendekat dan menatap mata biru itu yang balas menatap sendu dirinya. Venus bisa merasakan kekhawatiran, ketakutan serta kelegaan dimata tajam Jenderal Virendra.
"Vir, aku juga sangat mencintaimu." Bisik Venus lirih yang balas menggenggam erat tangan hangat Jenderal Virendra.
__ADS_1
Jenderal Virendra tersenyum haru, sepertinya Venus mendengar semua kalimat-kalimat positif yang dia ucapkan untuk memberi semangat pada wanita itu. Kalimat cinta yang tidak putus Jenderal Virendra katakan untuk Venus.
TBC