My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 52 - MBV -


__ADS_3

Venus merasa Jenderal Virendra menghindarinya. Selama beberapa hari ini Jenderal Virendra akan kembali ke kamar saja tengah malam dan pergi bekerja sebelum matahari terbit.


Tingkah Jenderal Virendra membuat Venus sadar bahwa suaminya itu tengah menghindar. Venus tidak bisa berbuat banyak karena tahu Jenderal Virendra pasti membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


Bibi Martha yang menyadari tingkah pasangan suami istri itu hanya bisa menghela napas lelah. Banyak cobaan yang mereka hadapi.


"Jenderal masih menghindar?" tanya Bibi Martha pada Venus yang tampak melamun.


"Begitulah, Bibi. Venus tidak tahu harus berbuat apa," Venus menjawab dengan lirih.


"Tidak apa-apa, bicarakan ini pelan-pelan." Bibi Martha tersenyum hangat kemudian memeluk Venus dengan erat berusaha menenangkan wanita itu.


"Ya, nanti Venus akan membicarakan hal ini. Rasanya sangat tidak nyaman berlarut-larut seperti ini."


Bibi Martha mengangguk setuju. Memang benar masalah ini harus segera dibicarakan karena tidak baik dibiarkan berlarut-larut. Bibi Martha berharap keduanya bisa menemukan jalan keluar yang baik tanpa harus ada yang tersakiti.


*


*

__ADS_1


Venus sengaja tidak tidur demi menunggu Jenderal Virendra kembali ke kamar. Malam ini mereka harus segera menyelesaikan masalah yang ada.


Tidak lama pintu kamar terbuka dan masuklah Jenderal Virendra masih dengan pakaian kerjanya. Pria itu segera membersihkan diri dan mengganti pakaian tanpa menyadari ada Venus yang sedang menunggu di atas ranjang.


Ketika Jenderal Virendra selesai dengan semua kegiatannya, Venus segera membuka suara agar suaminya itu ada Venus yang tengah menunggunya.


"Vir!" Panggil Venus yang sudah berdiri di belakang Jenderal Virendra membuat pria itu menoleh kaget.


"Kau belum tidur?" tanya Jenderal Virendra cukup terkejut melihat Venus belum tidur diwaktu selarut ini.


"Venus menunggumu, ada hal yang harus kita bicarakan." Ucap Venus langsung seraya menuntun Jenderal Virendra untuk duduk di atas ranjang.


Venus menggeleng tegas, menolak untuk menuruti ucapan Jenderal Virendra.


"Kau menghindariku Vir," Venus berbisik lirih.


Wanita itu menampilkan wajah sedih. Rasanya benar-benar menyedihkan saat suami menghindar karena istri yang mengandung anak kedua mereka.


"Venus, maaf aku membuatmu bersedih. Aku butuh waktu untuk mengambil keputusan, semua terlalu mendadak den membuatku bingung."

__ADS_1


"Vir, tidak yang perlu kita takuti. Venus tahu semua terasa mendadak karena kau sudah berusaha membuatku tidak hamil lagi. Sayangnya, kau lupa ada Tuhan yang mengatur semuanya. Percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap umat-Nya. "


Jenderal Virendra tertunduk lesu. Apa yang dikatakan Venus memang benar, tapi bayang-bayang Venus meninggalkannya terus mengantui Jenderal Virendra.


"Aku takut kau meninggalkanku ... kau tahu kehamilan ini beresiko. Apa yang harus aku lakukan, Venus? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan?"


"Hidup dan mati seseorang sudah Tuhan atur bahkan sebelum kita dilahirkan. Tidak ada yang harus kita takuti, biarkan semua berjalan sesuai apa yang Tuhan gariskan. Percayalah apapun yang terjadi nanti semua adalah yang terbaik untuk kita. Tuhan tahu apa yang baik untuk kita."


"Setelah Ibu, adik dan Ayahku meninggal aku takut kehilangan lagi. Rasanya sangat menyakitkan jika aku harus kehilangan untuk kesekian kalinya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, semua terasa berat."


Venus tersenyum menenangkan Jenderal Virendra, wanita itu memelik erat tubuh hangat sang suami. Siapa yang tidak takut kehilangan? Rasanya semua manusia di dunia ini takut akan kehilangan. Venus sudah merasakannya dan dia tentu tidak ingin merasakan rasa sakit itu lagi. Namun, setiap manusia tidak bisa menentang kematian. Suka tidak suka, semua sudah jalan yang Tuhan gadis untuk setiap umat-Nya.


"Vir, hanya satu keinginan Venus saat ini. Tolong biarkan Venus mengandung dan melahirkan anak kedua kita. Venus percaya, ada hal indah yang sudah Tuhan siapkan untuk kita nantinya."


Venus menatap mata Jenderal Virendra dengan teduh. Mata biru yang indah itu selalu mampu membuat Jenderal Virendra jatuh cinta.


Permintaan Venus sederhana, akan tetapi tetap berat untuk Jenderal Virendra kabulkan. Apa yang harus dia lakukan untuk membuat Venus bahagia tanpa harus kehilangan salah satunya? Istri atau calon anak yang masih berusia beberapa minggu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2