
Kehamilan Venus semakin membesar, sayangnya kondisi kesehatan Venus semakin menurun. Wanita itu harus sering memeriksakan diri ke rumah sakit agar dokter bisa memantau kesehatannya.
Seperti saat ini, Venus ditemani Jenderal Virendra sedang melakukan pemeriksaan di rumah sakit besar milik pribadi Jenderal Virendra yang fasilitasnya sangat lengkap dan canggih.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Jenderal Virendra pada Dokter Sifa yang merupakan dokter kandungan terbaik dari Negara tetangga.
"Kondisi janin baik, hanya saja Nyonya harus beristirahat dan tidak boleh stress karena hal ini memengaruhi kesehatan Nyonya dan janin. Ini ada beberapa vitamin yang harus Nyonya konsumsi." Dokter Sifa menyerahkan resep obat dan vitamin untuk Venus yang jumlahnya cukup banyak.
Venus hanya bisa menerima dengan pasrah karena semua demi kesehatan calon anaknya. Dia sendiri merasakan perbedaan saat mengandung Varest dulu yang terasa baik-baik saja. Kini diusia kandungan yang semakin besar, kesehatan Venus menurun dan dia harus sering mengkonsumsi obat serta vitamin untuk menguatkan janinnya.
*
*
Jenderal Virendra harus bisa membagi waktunya antara pekerjaan dan menjaga Venus. Terlebih saat ini sering terjadi demo dan pemberontakan yang sampai saat ini tidak bisa ditemukan siapa dalangnya.
Di sisi lain, kesehatan Venus serta kandungannya yang lemah juga ikut menyita perhatian Jenderal Virendra.
"Kau Istirahatlah, aku akan bekerja di sini sambil menemanimu." Ucap Jenderal Virendra membantu Venus merebahkan diri di atas ranjang.
Venus menggeleng pelan, menolak gagasan Jenderal Virendra yang ingin bekerja di kamar mereka.
"Vir, pergilah ke kantor. Aku baik-baik saja, di luar ada pengawal dan pelayan yang bisa membantuku." Venus mendorong pelan lengan Jenderal Virendra, berusaha membuat pria itu pergi ke kantor.
__ADS_1
"Aku tidak bisa meninggalkanmu," bantah Jenderal Virendra yang tidak ditanggapi Venus.
"Pergilah bekerja dan aku akan istirahat di sini. Kali ini dengarkan ucapanku!" Ucap Venus dengan serius membuat Jenderal Virendra menghela napas lalu mengangguk pelan.
"Baik, istirahatlah yang cukup dan jika membutuhkan sesuatu panggil pelayan." Jenderal Virendra mengecup lembut kening Venus sebelum pergi menuju kantornya.
Venus mendesah lega melihat Jenderal Virendra mengalah. Sejujurnya, dia khawatir jika pekerjaan Jenderal Virendra terganggu karena perhatian pria itu terbagi. Venus bukannya tidak tahu kerusuhan yang terjadi di luar Istana, dia hanya berpura-pura tidak tahu.
Venus merasa sedih melihat Jenderal Virendra yang terus memikul beban berat. Dia berharap kandungannya semakin kuat sehingga Jenderal Virendra tidak perlu menghabiskan banyak waktu hanya untuk menjaganya.
*
*
"Ada apa, Letnan Dean?" tanya Jenderal Virendra.
"Jenderal, saat ini para pemberontak memasuki perbatasan dan sedang menuju ke kediaman rakyat. Sepertinya mereka ingin membuat kerusuhan dan menyakiti rakyat yang tidak tahu apa-apa." Laporan Letnan Dean membuat Jenderal Virendra segera bergegas menyiapkan siasat untuk mengatasi musuh.
"Berapa jumlah mereka?" tanya Jenderal Virendra sembari menggelar peta Negara Aleister.
"Sekitar dua hingga tiga ratus orang, Jenderal." Sean yang baru datang segera menjawab. Pria itu terlihat siap dengan seragam perangnya.
"Gerakan pasukan secara diam-diam agar rakyat tidak khawatir. Kepung mereka dari sisi barat dan selatan, tangkap pemimpin dan beberapa anak buahnya. Aku ingin tahu siapa dalang di balik pemberontakan ini!"
__ADS_1
"Siap, Jenderal!" Letnan Dean dan Sean segera mengangguk hormat dan bergegas menjalan perintah Jenderal Virendra.
Jenderal Virendra yakin ada sesuatu yang mereka inginkan. Pemberontakan ini adalah pengalihan agar Jenderal Virendra tidak mengetahui tujuan utama mereka.
Memang benar sampai saat ini Jenderal Virendra tidak tahu apa sebenarnya tujuan utama mereka. Jenderal Virendra yakin mereka akan melakukan sesuatu yang besar. Sesuatu yang mungkin sudah pernah mereka lakukan.
Jenderal Virendra tampak berpikir serius, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Hingga tiba-tiba Jenderal Virendra tersentak seolah mendapat jawabannya.
Jenderal Virendra bersiap pergi menuju kediamannya, akan tetapi seorang pengawal datang tergesa-gesa bahkan lupa mengetuk pintu.
"Jenderal ... beberapa orang datang menyerang kediaman Jenderal. Banyak pengawal yang gugur-"
"Apa katamu?" Jenderal Virendra segera pergi menuju kediamannya tanpa repot-repot mendengar laporan itu lebih lanjut.
Saat sampai di kediamannya, Jenderal Virendra menyaksikan banyak pengawal dan pelayan yang gugur. Kediaman Jenderal Virendra kacau balau, banyak jasad tergeletak tidak berdaya.
"Jenderal! Varest ... Varest tidak ada di kamarnya!" Seru Bibi Martha yang datang berlari dengan linangan air mata.
Sesaat Jenderal Virendra terdiam, tubuhnya kaku mendengar laporan itu. Dunia Jenderal Virendra terasa berputar, bayangan masa lalu kembali menghantui Jenderal Virendra.
Semua sama persis seperti belasan tahun yang lalu. Saat di mana Jenderal Virendra dan adiknya diculik. Saat di mana Jenderal Virendra harus merelakan kepergian adiknya yang berkorban demi nyawanya. Semua seolah kembali terulang dan Varest harus merasakan hal yang sama seperti yang pernah dia rasakan.
TBC
__ADS_1