
Venus mencoba untuk tidak terlihat cemburu dengan kedekatan Varest dan Via. Dia hanya perlu bersabar sampai 2 bulan kedepan. Sepertinya jadinya, Jenderal Virendra akan mengizinkan dia merawat kedua anaknya nanti.
Varest sendiri seolah tahu apa yang mengganggu ketenangan Ibunya. Pria kecil itu selalu menyempatkan diri mengunjungi sang Ibu sebelum dan sesudah latihan. Seperti saat ini, sepulang latihan Varest segera menuju kamar Ibunya tanpa memedulikan Via yang terus memanggilnya.
"Ibu!" Varest berseru senang mendapati sang Ibu sedang menanti kedatangannya.
"Putraku yang tampan, kemari sayang." Venus berdiri merentangkan, menyambut sang putra kedalam pelukan hangatnya.
Varest berlari kecil dan langsung memelik Venus dengan erat meski harus terhalang perut Venus yang sudah membesar.
"Bagaimana latihan hari ini?" tanya Venus tanpa melepaskan pelukannya.
"Seperti biasa, Ibu. Ayah terus saja memarahi Varest, tapi Varest senang karena sudah bisa memanah. Kata Ayah, nanti jika sudah besar Ayah akan mengajari Varest menembak dan menggunakan pedang."
Varest terus berceloteh dengan gaya khasnya yang begitu menggemaskan. Tanpa sadar Venus meneteskan air mata, dia merasa telah melewatkan banyak moment berharga bersama putranya.
"Ibu menangia? Kenapa Ibu menangis?" Varest melepaskan pelukannya, kemudian dengan hati-hati tangan kecilnya menyeka air mata Venus.
"Maaf, Ibu tidak bisa menemani Varest. Seharusnya Ibu melihat bagaimana Varest berlatih, Ibu ingin merasakan kebanggaan itu."
__ADS_1
Varest menggeleng pelan, tidak terima jika sang Ibu menyalahkan diri sendiri.
"Kata Ayah, Ibu sakit dan harus banyak beristirahat. Varest tidak mau Ibu sakit, tidak apa jika Ibu tidak bisa menemani Varest asalkan Ibu bisa sehat lagi. Adik Varest juga harus sehat, Nenek Martha bilang adik Varest akan segera lahir."
"Iya, sayang. Adik Varest sebentar lagi lahir, Varest harus menjadi kakak yang baik agar bisa menjaga dan menyayangi adiknya."
Dengan penuh semangat Varest mengangguk yakin. Dia sangat tidak sabar menantikan adiknya lahir.
"Ibu jangan bersedih lagi ya, ada Varest yang akan selalu menemani Ibu. Ibu jangan khawatir, setiap hari Varest akan mengunjungi Ibu dan menceritakan tentang latihan Varest."
Venus mengembangkan senyumnya, merasa sangat terharu dengan perhatian Varest. Putra kecilnya terlihat sangat dewasa diusia yang masih muda. Venus yakin ini semua berkat didikan Jenderal Virendra dan dia merasa bangga pada kedua prianya.
*
*
Rasanya juga sedikit tidak masuk akal Via bersedia menjadi pengasuh Varest, sedangkan wanita itu berpendidikan dan bukan dari keluarga biasa. Namun, Velly tidak bisa berbuat banyak karena tidak memiliki bukti apapun.
"Ada apa, Velly?" tanya Bibi Martha mengejutkan Velly yang sedang asik melamun.
__ADS_1
"Tidak, Bibi. Velly hanya memikirkan sesuatu, tapi Bibi tenang saja tidak ada masalah berat apapun." Jawab Velly sambil menikmati tehnya yang sudah mulai dingin.
Saat ini Bibi Martha dan Velly berada di kediaman Jenderal Virendra. Mereka ingin minum teh bersama Venus atas permintaan wanita hamil itu. Sayangnya, sampai sekarang Venus belum juga datang. Pelayan bilang Venus sedang mengurus sesuatu yang sangat penting dan dia akan segera datang jika urusannya selesai.
"Bibi, kenapa Nyonya belum datang? Velly merasa tidak enak, velly takut terjadi sesuatu pada Nyonya." Velly berkata dengan khawatir, dia sudah berdiri siap untuk mencari Venus.
"Benar juga, sebaiknya kau menyusul Venus. Pelayan tadi tidak mengatakan di mana Venus, sepertinya dia sengaja merahasiakan urusannya itu." Ucap Bibi Martha yang kini sudah ikut berdiri siap mencari Venus.
Saat keduanya siap pergi mencari Venus, tiba-tiba seorang pelayan berlari tergesa-gesa. Firasat Bibi Martha dan Velly mengatakan ada hal buruk yang telah terjadi.
"Ada apa?" tanya Velly ketika pelayan itu tiba di hadapan mereka.
"Nyonya ... Nyonya jatuh dari tangga dan tidak sadarkan diri. Sekarang Nyonya menuju rumah sakit!" Ucap pelayan tersebut setelah berhasil menenangkan dirinya.
Bibi Martha dan Velly sontak terkejut, keduanya segera berlari ingin menyusul Venus. Firasat mereka ternyata benar, ada sesuatu yang terjadi.
Seluruh istana dibuat heboh oleh kejadian itu. Tidak ada yang tahu mengapa Venus bisa terjatuh dari tangga. Pelayan yang menemukan Venus hanya mengatakan Venus sudah tergeletak tidak sadarkan diri dan mengeluarkan banyak darah. Tidak ada siapapun di sana yang bisa menjadi saksi.
Kejadian mengerikan itu telah berhasil membuat Jenderal Virendra sangat marah. Pria itu mengurus Sean untuk segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak akan memberi ampun pada siapapun yang telah membuat Venus terluka seperti ini.
__ADS_1
TBC