My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 73 - MBV -


__ADS_3

Tidak ada yang tahu seperti apa isi pikiran Jenderal Virendra. Tidak ada pula yang menyangka Jenderal Virendra akan mengambil keputusan ini. Ketika Bibi Martha bertanya, Jenderal Virendra hanya menjawab jika putrinya membutuhkan sosok Ibu dan hanya inilah solusi yang dimiliki saat ini.


Benar, Jenderal Virendra memilih untuk menikahi Via. Jangan tanya bagaimana kecewa dan sakit hatinya Bibi Martha karena wanita tua itu sampai menolak untuk bertemu dengan Jenderal Virendra. Sebagai orang tua yang merawat dan membesarkan Venus tentu Bibi Martha merasa sakit hati akan keputusan Jenderal Virendra.


"Bibi, kenapa kau terlihat murung?" tanya Velly yang baru tiba dan melihat wajah sedih Bibi Martha.


"Kau sudah mendengar berita yang beredar?" tanya balik Bibi Martha dengan suara pelan.


"Ya, Bibi ... aku sangat kecewa mendengarnya, ku harap Jenderal memiliki rencana lain selain menikahi Via." Velly menunjukkan wajah sedih, tidak percaya Venus akan melewati masa-masa sulit seperti ini.


“Semoga saja seperti itu, Bibi merasa sangat kecewa dan sakit hati karena Bibi sudah menganggap Venus seperti putriku sendiri.”


“Menurut Bibi, jika Jenderal ingin menikah lagi, apakah kita bisa membatalkan pernikahan itu? Aku tidak sanggup melihat Venus tersakiti.”


“Sebenarnya Bibi memiliki rencana lain, tapi Bibi belum berani mengambil resiko.” Bibi Martha merapatkan duduknya di samping Velly dan berbisik pelan.


Velly mendengarkan rencana Bibi Martha dengan serius, kemudian wanita itu tersenyum misterius. Rencana Bibi Martha patut dicoba nantinya, mereka berharap semoga saja berhasil karena hanya inilah yang bisa mereka lakukan.


*

__ADS_1


*


1 minggu sejak pembicaraan di aula pertemuan itu, Jenderel Virendra memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Jauh dilubuk hatinya Jenderal Virendra tentu tidak ingin menyakiti Venus, tapi di sisi lain rakyat dan beberapa pejabat penting terus mendesaknya. Belum lagi putri kecilnya yang sampai saat ini belum mendapatkan kasih sayang seorang Ibu.


Dengan segala pertimbangan itu, akhirnya Jenderal Virendra mengumumkan kabar pernikahannya dengan Via yang akan digelar beberapa bulan lagi. Dia sengaja tidak mempercepat pernikahannya karena berharap Venus akan segera bangun dari tidur panjangnya.


Jenderal Virendra akan menikah dengan Nona Via dalam kurun waktu 3 bulan lagi.


Begitulah kira-kira pengumuman yang terpampang di luar istana. Dengan disebarkannya berita itu Jenderal Virendra berharap rakyat sedikit lebih tenang dan tidak terus memaksanya.


"Kau sudah lihat pengumuman itu?" tanya salah satu pelayan Istana pada pelayan lainnya.


"Benar, aku pikir Jenderal sangat mencintai Nyonya. Kasihan Nyonya harus mengalami hal ini, jujur saja aku sangat kecewa dengan hal ini."


"Aku setuju denganmu, entah bagaimana nanti saat Nyonya sudah sadar dan harus menerima ini semua."


"Kalian ini berpendapat sesukanya, memang kenapa jika Jenderal menikah dengan Nona Via? Tidak ada yang salahkan? Nona Via itu wanita cantik dan baik, sangat pantas menjadi istri Jenderal!" kalimat itu datang dari salah satu pelayan yang bertugas di kediaman Via, sepertinya dia sangat setia dengan Nonanya itu.


"Wanita cantik dan baik tidak akan mau menikah dengan pria yang jelas-jelas sudah memiliki istri!" sindir pelayan yang lainnnya.

__ADS_1


"Kau ini tidak tahu apa-apa, jangan berkomentar sembarangan!"


"Memang seperti itu kenyataannya!"


"Hei, kau--"


"Kenapa kalian jadi ribut seperti ini? Berhenti berdebat dan urus pekerjaan masing-masing!"


Pada akhirnya kerumunan para pelayan itu dibubarkan. Mereka masih saling berbisik mengutarakan pendapat masing-masing.


Istana saat ini sedang kacau karena terbagi menjadi 2 kubu. Ada yang berpihak pada Venus dan ada pula yang berpihak pada Via.


Sementara itu Velly yang baru melihat pengumuman itu sangat marah. Wanita itu segera pergi mencari keberdaan Jenderal Virendra yang sayangnya tidak tahu berada di mana.


"Kau benar-benar keterlaluan, Jenderal! Aku sangat kecewa padamu!" Velly berucap marah, menatap pintu ruang kerja Jenderal Virendra yang tertutup rapat.


Mata Velly berkaca-kaca, dia merasa begitu sakit hati. Selama ini dia menganggap Venus seperti adiknya sendiri karena itulah dia sangat marah melihat Jenderal Virendra menyakiti Venus.


TBC

__ADS_1


__ADS_2