
Kondisi Venus berangsung-angsur membaik. Setelah bangun dari koma, secara mengejutkan kesehatan Venus meningkat drastis. Velly benar-benar bersyukur atas apa yang terjadi dan untuk melindungi Venus dari orang-orang yang mengincarnya, Vellly sengaja merahasiakan hal ini.
"Bagaiman keadaanmu hari ini?" tanya Velly yang baru saja tiba di rumah sakit.
Venus tersenyum sebelum menjawab, "lebih baik dari sebelumnya."
"Bosan?" tanya Velly saat melihat Venus yang hanya bisa menatap kosong ke arah taman rumah sakit yang sepi.
"Kapan aku bisa keluar?" tanya balik Venus dengan suara lirih.
"Bersabarlah, hanya tinggal menghitung hari dan semuanya akan kembali membaik. Ada sedikit berita baik di Istana, Tuan muda mulai memberontak karena tidak menerima pernikahan Jenderal. Jika berita ini tersebar keluar Istana, aku yakin rakyat bisa menilai alasan mengapa Tuan muda menolak pernikahan itu."
"Terima kasih Kak Velly karena sudah berbuat banyak hal untukku. Aku senang karena mendapat seorang kakak yang sangat baik seperti Kak Velly."
Venus tersenyum tulus, menatap penuh kasih pada Velly yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Velly selalu tahu apa yang dia butuh dan apa yang mengganggunya, Velly selalu berada dipihaknya.
"Jadi, apakah kau sudah siap untuk kejutan besar lainnya?" tanya Velly dengan senyum misteriusnya.
*
__ADS_1
*
Istana benar-benar kacau karena Varest tidak terima pernikahan Jenderal Virendra dengan Via. Pria kecil itu bahkan mengurung di kamarnya dan menolak untuk makan.
Tidak ada yang bisa membujuk Varest karena baik Velly maupun BIbi Martha enggan untuk ikut campur. Mereka justru mendukung aksi Varest karena sama-sama menolak pernikahan itu.
Jenderal Virendra sendiri tidak pernah ada di Istana selama 3 bulan ini. Pria itu disibukkan dengan berbagai pekerjaan dan beberapa hal lainnya yang dia lakukan di luar Istana.
"Nyonya Velly, tolong bantu kami membujuk Tuan muda untuk makan. Ini sudah malam hari dan Tuan muda tidak mau makan." Pinta salah satu pelayan yan sampai bersujud di depan Velly agar mau membantunya.
Velly sendiri tersenyum kecil, orang-orang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Varest tentu sudah makan dan bahkan terlihat baik-baik saja di dalam kamar. Apa yang dilakukan Varest adalah bagian dari rencana Velly serta Bibi Martha.
Velly tidak menjawab melainkan langsung menutup pintu kamarnya. Dia sudah cukup lelah beberapa hari ini mengurus persiapan untuk menjatuhkan Via. Biarlah para pelayan sibuk membujuk Varest hitung-hitung melatih kesabaran mereka.
Di depan kamar Varest sudah berdiri Via yang terlihat ragu untuk mengetuk pintu kamar itu. Tadi seoran pelayan datang dan memintanya membujuk Varest untuk makan. Awalnya Via menolak, tapi perkataan Ibunya untuk mengambil hati Varest membuat Via mau tidak mau harus membujuk anak itu.
"Tuan muda, bukalah pintunya. Anda harus makan atau Anda akan sakiit dan tentu saja Jenderal tidak suka jika Anda sampai sakit." Via berbicara dengan pelan dan dengan terpaksa.
Tidak ada sahutan dari dalam sana, sudah pasti Varest tidak memedulikan ucapan Via.
__ADS_1
Via hanya bisa mendesah pasrah, dia tidak bisa membuju anak kecil yang sedang marah. Selama beberapa bulan mengasuk Varest tidak pernah sekalipun anak itu marah.
"Bagaimana Nona Via? Tidak berhasil membujuk Tuan muda?" Velly yang baru tiba langsung menunjukkan senyuman penuh ejekan pada Via yang tidak bisa membalas perkataannya.
Banyak pelayan dan pengawal tentu saja Via harus menjaga sikap atau akan ada berita buruk yang beredar nantinya.
"Kakak ipar, jika tidak bisa membantu lebih baik Kakak ipar kembali saja. Aku akan berusaha untuk membujuk Tuan muda, aku yakin sebentar lagi Tuan muda akan membuka pintuk kamar."
"Kau rupanya masih tidak sadar kalau kau adalah sumber masalah di sini. Semua karena kau yang ingin menikah dengan Jenderal, jadi jangan terlalu banyak tingkah. Lihat bagaimana aku akan membuat Tuan muda membuka pintu kamarnya."
Via menahan diri untuk tidak membalas perkataan Velly. Dia akan menunggu Velly membujuk Varest karena dia yakin Velly tidak mampu membuat anak itu mau membuka pintu kamarnya.
"Tuan muda, ini saya Velly." Ucap Velly dengan sopan sambil mengetuk pintu dengan pelan.
Tidak membutuhkan waktu lama pintu kamar Varest terbuka. Velly segera masuk dan tidak lupa sebelum itu memberi senyum meremehkan pada Via yang benar-benar kalah telak.
Via akan mengalah kali ini karena pernikahannya sudah di depan mata.Dia tidak akan membuat onar lagi, cukup melanjutkan persiapan pernikahan yang akan digelar dalam beberapa hari lagi.
"Setelah aku berhasil menggeser posisi Venus, kau adalah orang pertama yang aku tendang dari Istana ini Velly!" ucap Via penuh dendam.
__ADS_1
TBC