
Venus dalam keadaan kritis. Banyak dokter terbaik sudah didatangkan Jenderal Virendra untuk memeriksa keadaan Venus.
Tangan Jenderal Virendra bergetar takut, dia benar-benar takut ketika melihat Venus berlumuran darah. Dia tidak ingin kehilangan Venus dan juga calon anaknya.
Yang saat ini Jenderal Virendra bisa lakukan hanyalah menunggu sampai dokter menjalankan tugasnya. Tidak lupa Jenderal Virendra terus bedoa agar Venus dan calon anak merek bisa selamat.
Tidak lama dokter yang menangani Venus keluar dengan wajah tegang. Jenderal Virendra segera menghampiri dan bertanya keadaan Venus.
"Bagaimana keadaan istri dan anakku, Dokter?" tanya Jenderal Virendra dengan panik.
"Maaf Jenderal, saya harus menyampaikan ini. Kondisi Nyonya sedang kritis, benturan yang dialami Nyonya memicu pendarahan dan mengharuskan kami untuk melakukan operasi. Bayi Nyonya harus segera dikeluarkan, kami memohon izin pada Jenderal untuk menandatangani surat ini."
Dokter tersebut berkata dengan gemetar sembari menyerahkan surat pernyataan. Jujur saja, dia takut jika terjadi sesuatu pada Venus dan dialah yang harus menanggung akibatnya.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk istri dan anakku. Selamatkan mereka!" Jenderal Virendra berkata dengan tegas membuat sang Dokter semakin takut.
Ketika Dokter pergi, Letnan Dean yang sedari tadi memantau segera mendekat. Ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan Jenderal Virendra.
"Jenderal." Panggil Letnan Dean sembari menunduk hormat.
"Bagaimana, Letnan?" tanya Jenderal Virendra langsung.
"Seperti kecurigaan Jenderal, ada seseorang yang memancing Nyonya untuk bertemu di gudang belakang. Sepertinya orang ini sudah merencanakan dengan matang, saya yakin dialah yang mendorong Nyonya dari tangga."
"Cari apapun yang bisa membawa kita pada pelaku. Aku yakin dia bersembunyi di dalam kediamanku. Perintahkan pada Sean untuk mencari tahu diantara pelayan!" perintah Jenderal Virendra.
__ADS_1
"Baik, Jenderal!" Letnan Dean menunduk hormat lagi dan segera bersiap untuk pergi.
"Letnan Dean, katakan pada Varest untuk tidak menunggu Ibunya. Untuk sementara biarkan Velly yang menjaga Varest." Ucapan Jenderal Virendra menghentikan langkah kaki Letnan Dean.
Pria itu mengangguk patuh sebelum akhirnya benar-benar pergi menuju Istana. Setelah Letnan Dean pergi, Jenderal Virendra menghembuskan napas kasar. Sangat banyak beban yang dia pikul saat ini.
Dalam hati Jenderal Virendra kembali berjanji untuk membalaskan rasa sakit yang diterima oleh Venus. Dia sendiri yang akan memastikan penjahat itu mendapatkan balasan yang lebih mengerikan.
Ini adalah janji seorang Jenderal besar sekaligus suami yang istrinya disakiti, batin Jenderal Virendra penuh dendam.
*
*
"Tuan Muda, tolong berhenti menangis, anda akan sakit jika menangis terus. Saya yakin Nyonya akan baik-baik saja, berhentilah menangis." Bujuk Via yang sembari memeluk Varest.
Varest hanya menggeleng lemah, menolak untuk berhenti menangis. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada Ibunya.
"Tenanglah, Anda harus beristirahat. Ada saya yang akan menemani Anda di sini, Jenderal meminta saya untuk menjaga Tuan muda."
"Kata siapa kau yang diminta untuk menjaga Tuan muda?" Pertanyaan itu datang dari Velly yang baru saja masuk ke dalam kamar Varest.
Velly menatap tidak suka pada Via yang berbohong. Gadis itu pikir dia siapa sampai Jenderal Virendra memintanya untuk menemani Varest.
"Kau salah paham kakak ipar, aku hanya ingin menenangkan Tuan muda." Bantah Via memasang senyum manis dan wajah polosnya.
__ADS_1
Velly muak melihat wajah sok polos yang sering ditampilkan oleh Via. Wajah itulah yang selalu membuat Sean menuruti keinginan adik sepupunya itu.
"Sudahlah, aku tidak ingin ribut. Kau sebaiknya kembali ke kamar karena aku yang yang menjaga Tuan muda." Velly mengi akan tangannya, memberi isyarat agar Via segera pergi.
"Aku akan tetap di sini menemani Tuan muda. Mungkin kakak ipar lupa, aku adalah pengasuh Tuan muda jadi sewajarnya aku berada di sini menemani Tuan muda." Via menggeleng dengan keras kepala, menolak untuk pergi dari kamar Varest.
"Hanya pengasuh sementara dan perlu kau ketahui, Jenderal memerintahkanku untuk menjaga Tuan muda karena beliau lebih percaya padaku."
"Kau pikir aku percaya?"
"Terserah kau percaya atau tidak, yang jelas kau harus pergi dari kamar ini sekarang juga!"
"Aku tidak akan pergi!" Via berteriak dengan marah hingga menimbulkan keributan.
"Kenapa kalian ribut?" tanya Letnan Dean yang kebetulan lewat di depan kamar Varest.
"Tanyakan itu pada adik sepupu Anda, Letnan Dean." Jawab Velly kesal dan segera mendekati Varest yang masih menangis.
"Kau lebih baik pergi dari sini. Velly yang akan menjaga Tuan muda sementara waktu," ucap Letnan Dean datar.
"Kakak aku--" Via tidak melanjutkan bantahannya karena Letnan Dean sudah pergi menjauh.
Via hanya bisa menatap kesal pada punggung Letnan Dean. Sedari dulu Letnan Dean memang tidak pernah menyukainya, hanya Sean yang mau berbaik hari padanya. Letnan Dean benar-benar mirip Jenderal Virendra yang tidak bisa sembarang orang mendekati.
TBC
__ADS_1