
Velly benar-benar melakukan apa yang dia mau. Wanita itu datan ke rumah sakit dan memaksa untuk bisa bertemu dengan Venus. Bahkan dia sampai mengancam Jenderal Virendra jika tidak diberi izin untuk bertemu Venus, dia akan nekad mengacaukan rumah sakit dan Jenderak Virendra tahu bahwa ancaman Velly bukan hanya omong kosong belaka.
Sampailah saat ini Velly berhasil mendapat izin dan saat ini wanita itu tengah menatap sedih pada Venus yang terlihat sangat lemah. Adik kecilnya yang ceria kini harus terbaring tidak berdaya dan orang-orang di luar sana dengan kejam ingin mengganti posisi Venus.
"Bagaimana kabarmu hari ini? Bukannya ini sudah terlalu lama dan kau belum juga sadar. Apa kau tidak lelah tidur terus menerus seperti ini?" Velly berbicara seorang diri, menatap sedih pada sosok Venus tak kunjung membuka matanya.
"Bangunlah, kau harus segera sadar dan mencegah Via melangkah lebih jauh lagi. Cepatlah sadar dan sehat atau kau akan kehilangan orang-orang yang kau cintai. Via ingin merebut apa yang kau milki, suami serta anak-anakmu. Dia akan mengambil mereka dan membuatmu ditinggalkan dengan menyedihkan."
Velly terus mengucapkan kalimat-kalimat untuk memotivasi agar Venus bisa melawan sakitnya dan bisa kembali sadar. Venus harus segera sadar sebelum semuanya terlambat.
"Setidaknya bertahanlah untuk Varest dan putri kecilmu. Mereka sangat membutuhkanmu dan hanya kakulah Ibu mereka, bukan Via atau wanita lain."
Velly mematap lurus Venus, berharap adanya sebuah keajaiban yang membuat Venus sadar. Menit demi menit berlalu, menyisakan keheningan yang menyiksa Velly. Hingga sebuah keajaiban benar-benar terjadi, jemari Venus bergerak pelan.
*
*
3 bulan kemudian.
__ADS_1
Persiapan pernikahan Jenderal Virendra dan Via sudah hampir selesai. Aula pernikahan dihias sedemikian rupa hingga tampak cantik dan mewah. Pernikahan tinggal menghitung hari membuat Via sangat tidak sabar. Bahkan wanita itu sendiri yang mengawasi persiapan pernikahan ini dan Jenderal Virendra terlihat tidak peduli.
"Bukankah ini indah, Ibu?" tanya Via yang saat ini sedang di aula pernikahan bersama dengan Ibunya.
"Tentu saja putriku, Ibu tidak sabar menunggu hari di mana kau menjadi istri dari pemimpin Negara Aleister." Ujar Ibu Via sembari berjalan mengelilingi aula pernikahan dengan hati yang berbunga-bunga.
"Via juga tidak sabar, Ibu. Akhirnya semua mimpi Via menjadi kenyataan dan ini semua berkat bantuan Ayah dan Ibu."
Via tersenyum lebar, terlihat sangat bahagia atas pencapaian besarnya ini. Namun, senyum Via tidak bertahan lama ketika Varest datang bersama beberapa pengawal.
"Hancurkan tempat ini dan buang semua hiasan itu!" perintah Varest selayaknya orang dewasa.
"Apa-apaan kalian semua?" teriak Via dengan marah.
Via dan Ibunya segera mendekati Varest bermaksud untuk menghentikan apa yang pria kecil itu lakukan.
"Varest, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghancurkan persiapan pernikahan Jenderal dan aku?" tanya Via dengan tidak tahu malu.
"Panggil aku Tuan muda! Kau itu bukan siapa-siapa, tapi berani sekali memanggil namaku!" Varest berteriak marah menatap tajam pada Via yang tampak terkejut.
__ADS_1
Via tidak menyangka Varest akan seberani ini berteriak padanya. Via pikir dia akan mudah mengendalikan Varest karena anak kecil itu tampak tenang.
"Aku ini calon Ibumu, bagaimana bisa kau bicara sekasar itu?" Via menatap Varest tajam berusaha menakutkan anak itu, akan tetapi Varest bukanlah anak kecil biasa yang mudah ditaklukkan.
"Kau bukan Ibuku! Ibuku hanya Ibu Venus, jadi jangan berbicara sembarangan!" Varest kembali berteriak marah mengundang perhatian para pelayan serta pengawal.
Mereka hanya bisa menonton tanpa berani memisahkan. Varest memang sangat mengerikan jika marah, sama seperti Ayahnya. Sebagian pelayan dan pengawal juga bersyukur karena Varest berani melawan Via yang sok berkuasa.
"Tuan muda, tidak baik berbicara seperti itu. Jenderal akan menikah dengan Via dan tentu saja dia akan menjadi Ibumu." Ibu Via berjalan mendekati Varest, berusaha menenangkan meski dia sendiri ketakutan.
"Tidak akan ada pernikahan antara Ayahku dan wanita itu! Terus hiasi aula ini dan aku akan terus datang menghancurkan!" Varest mengancam dengan tegas kemudian segera pergi meninggalkan aula pernikahan.
Tidak ada yang berani bersuara termasuk Via dan Ibunya. Varest adalah pewaris tahta pemimpin Negara Aleister dan menyakiti Varest sama saja dengan mengantarkan nyawa secara suka rela.
"Ibu apa yang harus Via lakukan?" tanya Via panik pada Ibunya yang tidak bisa berbuat banyak hal.
Diam-diam ada seseorang yang mengintip dari balik pintu. Orang itu tersenyum puas atas apa yang telah Varest lakukan. Satu rencana berhasil dilakukan, tinggal menjalankan rencana yang lainnya.
TBC
__ADS_1