My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 45 -MBV -


__ADS_3

8 bulan kemudian.


Setelah banyak hal yang terjadi di Istana belakang ini, akhirnya kehidupan di Istana kembali damai. Tidak ada lagi para pengkhianat, tidak ada pula para kaum yang haus akan kekuasaan.


Semua tampak damai meski ada beberapa masalah kecil, hal itu cukup lumrah mengingat Negara Aleister bukanlah Negara yang sempurna.


Untuk Avi dan kakaknya, Venus sendirilah yang membuat keputusan. Lewat nasehat Jenderal Virendra dan Letnan Dean, Venus akhirnya memutuskan untuk menghukum Avi.


Avi dijatuhi hukuman penjara seumur hidupku, sedangkan kakaknya diberi pekerjaan menjadi petani karena terbukti tidak bersalah.


Venus merasa lega karena selama 8 bulan ini semua berjalan lancar. Bayi yang dia kandung berjenis kelamin laki-laki sehingga menambah suka cita rakyat Negara Aleister.


"Bagaimana keadaanmu dan anak kita?" tanya Jenderal Virendra yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Kami baik," Venus tersenyum manis menyambut kedatangan Jenderal Virendra.


Jenderal Virendra mendekat, mengelus lembut perut Venus yang semakin membesar. Menurut perkiraan dokter, Venus akan melahirkan beberapa hari lagi.


"Dia suka Ayah menyentuhnya seperti ini," bisik Jenderal Virendra tersenyum lebar saat merasakan tendangan cukup kuat dari bayinya.


Venus ikut tersenyum lebar walau pada akhirnya harus meringis kesakitan.


"Dia terlalu bersemangat." Ucap Venus mengelus lembut perutnya, berusaha menenangkan sang anak yang masih berada di dalam kandungannya.


"Aku hampir lupa, seharusnya malam ini kau sudah menginap di rumah sakit. Dokter Tessa mengatakan alat-alat sudah siap, ayo bersiap ke rumah sakit."


Jenderal Virendra dengan semangat membantu Venus mengganti pakaiannya dan segera pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Kandungan Venus memang sehat dan tidak bermasalah, akan tetapi Dokter Tessa mengatakan usia Venus yang masih muda sangat beresiko karena itulah para dokter kandungan terbaik di Negara Aleister bersiap untuk membantu Venus melahirkan.


"Vir, apa kau sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Venus saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit.


"Ada beberapa nama, aku tidak mau mengatakan sekarang karena harus menjadi kejutan untukmu." Jawab Jenderal Virendra mencubit gemas pipi Venus yang semakin chubby.


"Baiklah, aku ikut saja. Semoga nanti dia akan menjadi anak yang baik dan bisa menjadi pemimpin yang hebat sepertimu."


Venus menggenggam erat tangan Jenderal Virendra, mulai menceritakan impiannya nanti bersama sang anak. Venus memang ingin mendidik anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang karena Venus tahu dengan pasti Jenderal Virendra akan mendidik keras anak mereka nantinya.


Venus tidak ingin anaknya merasakan apa yang Jenderal Virendra dulu rasakan. Hidup sebagai perwaris tahta tentu tidak mudah dan banyak tekanan yang dialami. Venus ingin anaknya bisa tumbuh seperti anak lainnya, meski dia adalah pewaris tahta Negara Aleister.


*


*


"Baik ... hanya sedikit takut," bisik Venus agar tidak didengar oleh Jenderal Virendra.


"Tidak perlu khawatir, ada saya dan para dokter hebat yang akan membantu. Tenangkan pikiran Nyonya agar semua bisa berjalan dengan baik." Dokter Tessa tersenyum lembut sembari membantu Venus untuk tidur di atas ranjang rumah sakit.


"Jika butuh sesuatu katakan padaku, aku akan berjaga di sini." Jenderal Virendra mendekat mengecup pelan kening Venus, berusaha menenangkan sang istri.


Jenderal Virendra tahu pasti perasaan Venus saat ini. Dokter Tessa sudah mengatakan beberapa resiko yang mungkin akan di hadapi oleh Venus.


Hamil diusia muda tentu tidaklah mudah, terlihat diawal kehamilan Venus harus menghadapi banyak masalah. Tekanan itu membuat Dokter Tessa sedikit khawatir apalagi mengingat riwayat Venus yang menderita anemia.


Untuk itulah Jenderal Virendra menyiapkan segala hal yang terbaik untuk membantu Venus melahirkan. Jenderal Virendra ingin anak dan istrinya selamat dan sehat.

__ADS_1


Tiba-tiba Venus tersentak, merasakan sakit yang tidak biasa. Jenderal Virendra yang melihat hal itu menjadi panik dan khawatir akan kondisi Venus.


Dokter Tessa dan beberapa perawat segera memeriksa kondisi Venus yang ternyata sudah kontraksi.


Jenderal Virendra tidak bisa melakukan apapun selain berdiri di sisi Venus seraya menggenggam erat tangan istrinya itu.


Para dokter dan perawat menyiapkan berbagai alat bantu untuk Venus yang akan segera melahirkan. Rasanya seperti mimpi ketika Jenderal Virendra melihat dokter dan perawat yang sibuk membantu, hingga suara tangis nyaring terdengar membuat Jenderal Virendra seolah tersadar dari mimpinya.


Seorang bayi laki-laki tampan, sehat dan sempurna telah lahir, pewaris tahta Negara Aleister. Venus menangis terharu menatap bayinya, sedangkan Jenderal Virendra membisu karena merasa seperti mimpi.


"Varest Aryan ... namanya Varest yang artinya penguasa yang terbaik." Ucap Jenderal Virendra memberi nama sang anak sembari menyentuh lembut tangan kecil itu.


Rasanya sangat mengharukan, kini Jenderal Virendra memiliki anak dari wanita yang dia cintai. Kebahagiaannya telah lengkaplah sudah.


TBC


Novel ini akan tamat beberapa bab lagi. Author sudah menyiapkan novel baru lagi judulnya "Marriage with(out) Love". Jangan lupa mampir ya dan dukung author terus 😊


Untuk kisah Rio, Gabby dan Ella akan segera hadir juga bulan depan 🤗😊



Blurb :


Elnara wanita cantik yang begitu pandai hingga dikagumi oleh banyak orang terutama kaum Adam. Sayangnya, kecantikan dan kepintaran Elnara tidak bisa menaklukan hati Zayan. Segala cara Elnara lakukan demi bisa menikah dengan Zayan, termasuk menggunakan kekuasaan keluarganya agar Zayan mau menikah dengannya.


Mampukan Elnara menaklukan hati Zayan? Atau justru Elnara memilih menyerah dan membebaskan Zayan dari belenggu pernikahan tanpa cinta?

__ADS_1


__ADS_2