My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 51 - MBV -


__ADS_3

Venus dinyatakan hamil. Seharusnya kabar ini membawa kebahagian untuk Jenderal Virendra, akan tetapi kenyataan bahwa kehamilan kedua Venus ini beresiko tentu membuat Jenderal Virendra kalut.


Venus sudah mengetahui hal ini karena Jenderal Virendra lebih dulu memberitahu. Namun, semuanya yang sudah terjadi Venus anggap sebagai anugerah dari Tuhan. Apapun yang akan terjadi nanti, Venus berharap akan yang terbaik untuknya dan Jenderal Virendra.


"Melamun?" tanya Bibi Martha yang sudah duduk di hadapan Venus.


Bibi Martha baru selesai menemani Varest bermain dan sekarang anak itu tertidur karena kelelahan.


Venus mendesah lirih sebelum bersuara, "menurut Bibi, apa yang harus Venus lakukan?"


"Bibi tidak tahu harus mengatakan apa. Yang Bibi yakini, ini semua adalah takdir Tuhan. Percayalah apapun yang akan terjadi nantinya pasti terbaik untuk kalian."


Venus mengangguk, mengerti ucapan Bibi Martha. Namun, Jenderal Virendra jelas belum siap dengan kabar ini. Setelah mengetahui Venus hamil, pria itu segera pergi dan sampai saat ini belum juga kembali.


"Biarkan Jenderal menenangkan hatinya. Kau tahu pasti seperti apa ketakutan yang dia miliki."


Venus kembali mengiyakan ucapan Bibi Martha. Mungkin benar, saat ini dia harus memberi waktu untuk Jenderal Virendra menenangkan hatinya.


"Bibi, tolong jangan katakan apapun pada Varest. Setelah Vir siap, kami yang akan menyampaikan kabar ini." Pinta Venus yang menggenggam erat tangan milik Bibi Martha.

__ADS_1


Bibi Martha mengangguk setuju, memang benar untuk saat ini lebih baik Varest tidak tahu kehamilan Venus. Mereka harus menyelesaikan masalah satu per satu lebih dulu.


*


*


Di ruang kerjanya, Jenderal Virendra tampak duduk termenung. Sekali lagi dia harus dihadapkan 2 pilihan. Semua ini benar-benar mengejutkan Jenderal Virendra karena selama 5 tahun dia sudah mengantisipasi agar Venus tidak hamil lagi.


Sayangnya, takdir berkata lain. Venus hamil dan segala resiko yang akan terjadi sudah tergambar jelas dimata Jenderal Virendra.


"Jenderal?" suara Letnan Dean berhasil menuadarkan Jenderal Virendra dari lamunannya.


"Ada apa, Letnan Dean?" tanya Jenderal Virendra.


Jenderal Virendra menghela napas, dia membutuhkan teman untuk bercerita dan orang yang tepat adalah Letnan Dean.


"Venus hamil," gumam Jenderal Virendra yang masih bisa didengar Letnan Dean.


"Ya? Hamil?" Letnan Dean tampak terkejut, tidak menyangka akan hal ini.

__ADS_1


Letnan Dean tahu pasti keadaan Venus dan bagaimana Jenderal Virendra mengusahakan agar Venus tidak hamil lagi.


"Aku bingung, semua terasa mendadak. Terlebih semua usaha yang ku lakukan untuk mencegah Venus agar tidak hamil lagi berakhir sia-sia."


"Jenderal, bukankah ini semua disebut takdir? Saat manusia bekerja keras untuk mendapatkan apa yang dia mau, tetapi Tuhan justru menggariskan hal lain. Kita tidak bisa menentang takdir Tuhan karena yang tahu dengan pasti kehidupan kita setelahnya hanyalah Tuhan."


"Apa yang harus kulakukan? Dokter mengatakan kehamilan kedua Venus sangat beresiko dan mungkin aku akan disuruh memilih salah satu diantaranya."


Letnan Dean terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sebagai sahabat yang telah bertahun-tahun bersama, tentu saja Letnan Dean tahu seperti apa kegelisahan Jenderal Virendra saat ini.


Cinta besar yang Jenderal Virendra miliki untuk Venus tentu membuat pria itu tidak bisa memelepaskan Venus suatu saat nanti. Satu-satunya pilihan hanyalah melepaskan sang anak yang masih berusia muda. Mungkin hanya inilah pilihan yang Jenderal Virendra miliki.


"Jenderal, saya tahu apa yang Anda pikirkan. Sayangnya, saya tidak setuju dengan pikiran Anda. Tolong jangan membuat keputusan yang pada akhirnya akan melukai kalian berdua." Letnan Dean berkata dengan tegas berusaha mengingatkan Jenderal Virendra akan keputusan yang nanti dia ambil.


"Biarkan aku memikirkan hal ini lagi," ucap Jenderal Virendra lirih.


Pria itu segera berlalu menuju perpustakaan pribadinya. Jenderal Virendra masih membutuhkan waktu untuk mengambil keputusan. Semua terasa berat, keputusan qpapun yang akan Jenderal Virendra ambil sama-sama akan melukai dirinya dan Venus.


Apakah Jenderal Virendra memilih Venus dan mengorbankan calon anaknya? Atau Jenderal Virendra justru membiarkan Venus hamil dengan resiko dia akan kehilangan istri yang sangat dia cintai?

__ADS_1


Pilihan mana yang akan Jenderal Virendra ambil?


TBC


__ADS_2