My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 36 - MBV -


__ADS_3

Venus sadar bahwa dia beresiko hamil. Namun, mau bagaimana lagi jika Jenderal Virendra yang menginginkan semua ini. Venus hanya bisa berpisah diri menuruti keinginan Jenderal Virendra.


Venus bedoa semua jika dirinya hamil nanti, rakyat sudah mau menerima sehingga tidak akan ada lagi masalah baru untuknya.


Ketika sedang asik melamun, Venus dikagetkan dengan kedatangan Avi dan Velly. Kedua pelayannya yang belakangan ini berusaha Venus hindari.


"Nyonya, kenapa Anda melamun sendirian di sini?" tanya Velly begitu tiba di hadapan Venus.


"Aku hanya ingin menenangkan diri. Terlalu banyak masalah akhir-akhir ini." Venus menjawab dengan santai, dia sudah tahu mengenai pelayannya yang berkhianat karena itulah Venus lebih bersikap waspada.


"Kami akan menemani Anda, Nyonya. Tidak baik Anda sendirian disini, kami takut Anda terluka seperti beberapa hari yang lalu." Kali ini Avi yang berbicara, gadis itu bahkan sudah mendudukkan dirinya di samping Venus.


Venus menghela napas, tidak mungkin dia mengusir kedua pelayannya karena pasti akan menimbulkan kecurigaan.


"Baiklah, tapi setelah Bibi Martha datang tolong tinggalkan kami berdua. Aku merindukan Bibiku itu dan ingin menghabiskan waktu berdua saja dengannya."


Baik Avi maupun Velly akhirnya mengangguk saja, tidak mungkin mereka membantah. Keduanya merasa akhir-akhir ini Venus seperti menjaga jarak dengan mereka.


Ketiganya memilih diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Bibi Martha datang yang artinya kedua pelayan Venus itu harus segera pergi dari sana.


"Bibi, ada hal yang ingin ku bicarakan. Ayo kita ke perpustakaan Jenderal." Ajak Venus begitu Bibi Martha tiba di depannya. Dia bahkan segera menarik lengan Bibi Martha dengan tidak sabaran.


Bibi Martha hanya bisa pasrah mengikuti kemana langkah kaki Venus membawanya.


Mereka akhirnya tiba di ruang perpustakaan pribadi milik Jenderal Virendra. Ternyata di sana sudah ada Jenderal Virendra dan Letnan Dean yang menunggu.

__ADS_1


"Ikut aku," bisik Jenderal Virendra membawa kedua wanita itu ke sebuah ruang rahasia yang berada di dalam perpustakaan pribadi Jenderal Virendra.


Keempatnya duduk bersama, siap untuk berdiskusi mengenai masalah keluarga Venus.


"Kami sudah mendapatkan bukti bahwa Ayahmu tidak bersalah. Sayangnya, untuk mengumpulkan bukti siapa dalang dibalik semua ini cukup rumit. Peristiwa itu terjadi bertahun-tahun lalu dan saat itu aku serta Letnan Dean belum memiliki kuasa apapun."


Jenderal Virendra memulai pembicaraan serius ini. Pria itu memberikan dokumen penting yang merupakan bukti bahwa Ayah Venus bukanlah seorang pengkhianat.


"Ayah benar-benar dijebak? Kenapa bisa mereka jahat sekali?" Tangan Venus bergetar memegang dokumen penting itu. Dia jelas menahan amarah yang siap meledak kapan saja.


"Selanjutnya bagaimana, Jenderal?" Tanya Bibi Martha yang kini sudah memeluk Venus, berusaha menenangkan anak angkatnya itu.


"Kami tidak bisa membuka fakta ini untuk sementara karena itu akan berbahaya bagi Venus. Mereka akan mencari identitas Venus dan jelas mereka tidak akan tinggal diam." Ujar Jenderal Virendra tenang meski matanya menatap Venus begitu dalam, ada rasa khawatir yang dirasakan oleh Jenderal Virendra.


"Apakah Jenderal dan Letnan mencurigai seseorang?" Kali ini Venus yang bertanya, wanita itu sudah lebih tenang dan bisa mengatur emosinya.


"Venus," panggil Jenderal Virendra pelan.


"Ya, Jenderal?" Venus menatap Jenderal Virendra penuh tanya, dia pikir suaminya itu tidak akan membuka suara lagi.


"Pelayanmu ... apakah ada yang kau curigai?" tanya Jenderal Virendra.


Venus terdiam sejenak, menatap Bibi Martha yang tampak tidak mengerti.


"Ada apa dengan pelayan Venus?" tanya Bibi Martha bingung.

__ADS_1


"Ada seseorang yang menjadi mata-mata dan dia adalah salah satu pelayan pribadi Nyonya." Letnan Dean kembali menjawab.


"Sebenarnya ... Venus mencurigai seseorang. Dia adalah pelayan yang sangat Venus percaya." Venus berkata dengan ragu, tidak tahu apakah firasatnya benar atau salah.


"Siapa yang kau curigai, Venus?" tanya Jenderal Virendra lagi.


"Avi ... Venus mencurigainya." Jawab Venus walau sedikit ragu, matanya melirik wajah Bibi Martha yang tampak terkejut.


"Aku rasa dialah orangnya," balas Jenderal Virendra penuh keyakinan.


TBC


Yuk, mampir kenovel menarik dan karen karya author Riskejully


kepoin dan jangan lupa dukungannya 😊


Judul : CINTA TERAKHIR DALAM HIDUPKU



*Kelanjutan dari kisah Nadhira di "Apa salahku Pa"


Rifki adalah sosok yang ahli dalam dunia beladiri dan juga dunia gaib, dia pemimpin dari sebuah geng yang diberi nama Gengcobra, sementara Theo adalah sosok yang juga ahli dalam dunia beladiri dan dia menjabat sebagai pemimpin dari geng yang diberi nama Gengters


Kedua lelaki itu saling memperebutkan Nadhira agar menjadi pasangan mereka, lantas siapakah yang akan memenangkan hati Nadhira? Akankah terjadi perkelahian ketika anggota dua geng saling bertemu?

__ADS_1


Ingin tau kelanjutannya? Yuk mampir dinovelku


Jangan lupa dukungannya ya*


__ADS_2