My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 71 - MBV -


__ADS_3

Velly menatap berani pada Sean terlihat begitu marah. Velly tidak akan pernah takut jika dia merasa tidak berbuat kesalahan apapun.


“Aku tidak akan meminta maaf karena aku tidak melakukan kesalahan apapun!” ucap Velly tegas.


“Kau kelewatan, Velly! Apa begini caramu bersikap pada adik ipar?” Sean menatap tajam Velly berusaha untuk membuat istrinya itu mengerti bahwa dia sangat marah saat ini.


“Ini adalah sikapku jika berhadapan dengan wanita tidak tahu malu yang berlindung dari balik topeng polosnya.” Velly menatap sinis pada Via yang menundukkan kepala, wanita itu bersikap seolah dia adalah wanita yang lemah.


“Jaga ucapanmu, Velly! Dia adalah adikku dan dia wanita baik-baik! Sekali lagi aku mendengar kau berbicara kasar terhadap Via, aku tidak akan memaafkanmu!” ancam Sean yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Velly.


Velly tersenyum sinis, menatap kedua orang di hadapannya ini dengan tatapan meremehkan. Velly adalah bagian dari pasukan khusus, jelas dia wanita yang kuat dan tidak akan bisa ditindas.


"Dengarkan aku, jika nanti adik tersayang kau ini menunjukkan sifat aslinya, aku jamin kau adalah orang pertama yang akan sangat menyesal!" Velly berkata dengan tegas, sebelum pergi wanita itu kembali melayangkan tatapan tajam pada Sean dan Via.


Setelah Velly pergi dengan segera Via kembali berakting menyedihkan. Via menangis tersedu-sedu, merasa paling tersakiti dan Sean dengan bodohnya mempercayai setiap perkataan Via.


Sepertinya apa yang dikatakan oleh Velly benar, suatu saat nanti Sean akan menyesal karena terlalu bodoh mempercayai Via.


*

__ADS_1


*


Jenderal Virendra masih terus setia menemani Venus yang belum juga siuman. Setiap harinya Jenderal Virendra akan menceritakan apa saja yang telah dia dan kedua anak mereka lalui. Jenderal Virendra berharap dengan menceritakan hal ini bisa membuat semangat untuk bisa kembali pulih.


"Varest sudah bisa mengatur emosinya, aku benar-benar salut dia bisa bersikap dewasa. Kau harus cepat pulih agar bisa melihat bagaimana kedua anak kita melewati hari-hari mereka. Aku dan anak-anak membutuhkanmu."


Jenderal Virendra mengecup pelan kening Venus, kemudian dengan lembut membisikkan kata cinta.


"Aku mencintaimu, tolong tetap bertahan."


Dokter yang merawat Venus mengatakan ada sedikit perkembangan, akan tetapi Venus belum juga sadarkan diri. Jenderal Virendra yakin saat ini Venus tengah berjuang melawan rasa sakitnya, dia yakin Venus bisa melewati ini semua karena wanita yang dia cintai itu sangat hebat dan kuat.


"Jenderal, maaf menggangu waktu Anda." Ucap Letnan Dean yang baru masuk dan segera menunduk hormat pada Jenderal Virendra.


"Ada apa?" tanya Jenderal Virendra tanpa mengalihkan perhatiannya dari Venus.


"Ada sedikit kekacauan diantara para menteri. Mereka ingin Jenderal mengadakan pertemuan karena ingin membahas masalah yang penting."


Jenderal Virendra berbalik menatap tajam pada Letnan Dean yang hanya bisa menunduk hormat. Letnan Dean tahu arti tatapan itu.

__ADS_1


"Letnan Dean, ada hal yang ingin aku tanyakan pada kau," ujar Jenderal Virendra.


"Silahkan, Jenderal."


"Apakah ada yang kau sembunyikan dariku?" pertanyaan Jenderal Virendra membuat Letnan Dean sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan.


"Maafkan saya, Jenderal. Maaf karena telah berbuat lancang, saya sedang mengusut berita yang beredar di luar. Mereka mengatakan bahwa Via adalah wanita yang baik dan dia pantas menjadi istri Jenderal."


Jenderal Virendra menangguk paham, dia tahu masalah ini karena itulah dia bersikap tenang. Dia juga tahu bahwa apa yang dilakukan Letnan Dean agar tidak menambah beban pikirannya, Jenderal Virendra menghargai semua usaha Letnan Dean.


"Lalu, apa yang ingin dibahas para menteri?"


"Mereka ingin Anda mempertimbangkan Via untuk menjadi istri Anda."


Jenderal Virendra tersenyum sinis, ternyata permainan mereka terlalu jauh dan dia terlalu baik hati karena membiarkan para tikus kotor itu bertindak sesuka hati.


"Baiklah, katakan pada mereka untuk hadir di aula pertemuan malam ini. Aku ingin lihat apa yang mereka miliki hingga berani berbicara omong kosong." Jenderal Virendra berdesis marah, pria itu mengepalkan tangannya penuh dendam seolah siap meremukan orang-orang yang tidak tahu diri itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2