My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 39 - MBV -


__ADS_3

Venus tampak terkejut melihat Jenderal Virendra sudah berdiri di belakangnya. Suaminya itu menatap Venus seolah tidak ada yang salah.


"Jenderal, silahkan duduk." Ucap Bibi Martha mempersilahkan Jenderal Virendra untuk duduk di samping Venus.


"Jadi, siapa yang cemburu dan kecewa?" tanya Jenderal Virendra mengulang pertanyaan yang belum terjawab.


Venus memilih diam, tidak mau menjawab pertanyaan dari Jenderal Virendra. Sejujurnya, wanita itu merasa malu jika harus mengakui perasaannya pada Jenderal Virendra.


"Selesaikan masalah kalian, Bibi mau istirahat dulu." Bibi Martha berlalu begitu saja, mengabaikan Venus yang terlihat enggan ditinggal berdua dengan Jenderal Virendra.


"Ada apa, Venus?" tanya Jenderal Virendra dengan lembut.


"Kenapa Jenderal bisa bersama Nona Sella? Apa gosip itu benar?" Venus akhirnya membuka suara, mengatakan hal yang mengganjal hatinya.


"Ada hal penting yang harus aku kerjakan. Seharusnya kau mendengarkan perkataanku untuk tidak percaya pada gosip yang beredar."


Venus menunduk lesu, masih merasa kecewa pada Jenderal Virendra. Venus tidak suka melihat tatapan kemenangan dimata Sella yang seolah tengah mengejeknya.


"Kau cemburu?" tebak Jenderal Virendra tepat sasaran.


Wajah Venus sontak memerah karena malu. Venus semakin menunduk, berusaha untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya.

__ADS_1


"Jenderal, sebaiknya tidak perlu membahas masalah ini." Ucap Venus mengalihkan pembicaraan, wanita itu sudah bersiap untuk pergi meninggalkan Jenderal Virendra.


Melihat Venus akan pergi, Jenderal Virendra segera menarik tangan wanita itu.


"Aku katakan sekali lagi, baik delapan tahun yang lalu, saat ini dan dimasa yang akan datang aku hanya memilihmu." Jenderal Virendra berbisik pelan, suaranya terdengar serius membuat Venus semakin berdebar.


*


*


"Bagaimana?" tanya Perdana Menteri ketika melihat Sella datang dengan ekspresi bahagia.


"Berjalan lancar, Ayah. Sepertinya Jenderal sudah terpesona padaku." Sella menjawab dengan begitu percaya diri, merasa dirinya begitu cantik sehingga Jenderal Virendra terpesona.


"Ayah, bagaimana jika kita mengundang Jenderal untuk makan malam bersama?" Usul Sella dengan sangat antusias, rasa percaya dirinya naik drastis.


"Kau atur saja, Ayah senang jika memang bisa membawa Jenderal untuk makan malam bersama."


"Terima kasih, Ayah!" Sella berseru dengan bahagia, memeluk Perdana Menteri dengan erat seolah mengatakan bahwa saat ini dia sangat bahagia.


Kedua tidak sadar bahwa mereka telah masuk ke dalam perangkap Jenderal Virendra. Mereka salah karena telah bermain-main dengan seorang Jenderal yang terkenal cerdik dan sangat kejam. Hukuman untuk setiap perbuatan jahat di masa lalu sedang menanti.

__ADS_1


*


*


"Jenderal, semua bukti sudah terkumpul. Mata-mata yang bertugas di kediaman Perdana Menteri telah berhasil menyelinap dan menemukan bukti yang kuat ." Lapor Letnan Dean, menyerahkan setumpuk dokumen usang dan sebuah memori card yang berisi bukti pembunuhan orang tua Venus.


"Bagus ... besok pagi sebarkan salinan dokumen ini kepada rakyat. Aku akan mengadakan pertemuan pagi dan aku ingin memutar rekaman ini. Perintah pasukan untuk mengepung seluruh istana dan kediaman para penjahat ini."


Jenderal Virendra berkata dengan tegas. Raut wajahnya mengeras, terlihat pria itu menahan amarah yang siap meledak. Akhrinya, setelah sekian lama kejahatan mereka bisa terungkap juga.


Hanya satu hal yang Jenderal Virendra sesali, yaitu membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menguak kejahatan yang tersimpan rapat dalam istana.


Ketika Letnan Dean pergi untuk melaksanakan perintah, Jenderal Virendra masih duduk termenung di ruang kerjanya.


Mata tajam milik Jenderal Virendra menatap foto Ayahnya yang tergantung di dinding ruang kerja. Foto terakhir sebelum Ayahnya menyerah karena merasa putus asa dengan misteri kematian Ayah Venus.


"Ayah, aku membuktikan janjiku padamu dan pada Venus. Lihatlah, mereka akan membayar semua ini. Aku harap Ayah bahagia di sana dan berdamai dengan luka Ayah."


Jenderal Virendra merasa beban berat yang selama ini dia pikul telah terangkat. Dia telah membayar janji pada Ayahnya dan Venus. Kini tugasnya hanya dua, menjaga Venus dan memastikan sang istri bahagia.


Mungkin dia akan mulai membuka diri dan menunjukkan perasaannya pada Venus. Membuat wanita itu merasakan betapa besar cinta yang dia miliki hanya untuk Venus seorang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2