
Venus jatuh pingsan membuat Jenderal Virendra untuk pertama kalinya terlihat begitu panik. Avi yang tengah mencari keberadaan Venus menemukan gadis itu tergeletak tidak sadarkan diri di perpustakaan pribadi Jenderal Virendra.
"Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Jenderal Virendra yang baru saja tiba di kediamannya.
"Tidak ada yang tahu, Jenderal. Pelayan Avi menemukan sudah tidak sadarkan diri. Saya menemukan ini di dalam perpustakaan." Sean yang menyodorkan sebuah album yang dia temukan terletak di lantai perpustakaan.
Sena pikir album usang inilah yang menjadi penyebab Venus pingsan.
"Kau kembalikan ini ke perpustakaan, aku akan melihat istriku dulu." Jenderal Virendra segera pergi menemui Venus yang baru selesai diperiksa oleh Dokter pribadi Jenderal Virendra.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Jenderal Virendra.
"Sedikit shock dan mungkin Nyonya mengalami tekanan karena terlalu memaksakan diri untuk mengingat banyak hal. Seperti yang saya katakan Jenderal, lakukan perlahan agar tidak menyakiti Nyonya." Dokter bernama Bram itu mengangguk dan segera pamit usai mengatakan keadaan Venus.
Jenderal Virendra menghela napas, pria itu segera mendekati Venus yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
"Maaf karena hal ini menyakitimu. Setelah kau mengingat semuanya, mungkin akan terasa semakin menyakitkan."
Ujar Jenderal Virendra, mengelus pelan kening Venus seolah mengatakan bahwa dia turut menyesal.
Perlahan Venus membuka matanya dan menemukan tatapan penyesalan yang dipancarkan oleh Jenderal Virendra. Venus mengulurkan tangannya, mengusap lembut wajah tampan itu.
"Jenderal," Venus berbisik pelan.
"Ya, apa kau butuh sesuatu?" tanya Jenderal Virendra.
__ADS_1
Venus menggeleng pelan, berusaha untuk tersenyum meski hatinya terasa begitu sakit.
"Venus mengingat semuanya ... semua tanpa terkecuali."
Jenderal Virendra terlihat cukup terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh Venus. Dia pikir butuh waktu yang cukup lama karena Venus tidak boleh memaksakan dirinya.
"Kau ... mau mengingatnya?" tanya Jenderal Virendra memastikan dirinya tidak salah dengar.
"Ya, Jenderal. Venus mengingat semuanya ... peristiwa delapan tahun yang lalu dan semua masa lalu yang sudah Venus lewatkan."
Jenderal Virendra terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Jika Venus mengingat semuanya, maka gadis itu pasti sangat terluka.
Yang ditakutkan oleh Jenderal Virendra terbukti. Kini Venus tengah menangis, air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah juga.
Dadanya begitu sesak mengingat bagaimana dia melewatkan masa lalu yang begitu menyakitkan ini. Venus mengingat dengan jelas bagaimana orang-orang jahat itu menyakiti keluarganya.
Permintaan itu tentu saja dikabulkan oleh Jenderal Virendra. Dia juga sangat yakin, Ayah Venus bukanlah seorang pengkhianat. Dalam hati Jenderal Virendra berjanji akan segera mengungkapkan siapa dalang di balik semua ini.
*
*
Peristiwa 8 tahun yang lalu.
Usai Jenderal Virendra kembali ke Istana, keesokan harinya beberapa pria berbagi militer datang ke kediaman keluarga kecil Venus.
__ADS_1
Venus yang masih kecil tentu tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang dia ingat hanyalah ketika sang Ibu memintanya bersembunyi di balik sebuah batu besar yang berada di pinggir danau.
"Larilah, Nak. Tunggu Ibu di sana, kau tidak boleh kemana-mana sampai Ibu atau Ayah datang menjemputmu." Ucap Ibu Venus berbisik seraya menunjuk batu yang dimaksudnya.
Venus segera berlari menuju batu tersebut dan dengan sabar menunggu Ibu atau Ayahnya datang menjemput. Namun, hingga malam tiba kedua orang tuanya tidak kunjung datang menjemput.
Venus kecil begitu takut, hawa dingin dan suara hewan dari hutan membuatnya menangis. Venus ingin pergi mencari di mana orang tuanya, akan tetapi dia ingat pesan sang Ibu yang melarangnya untuk meninggalkan tempat ini sampai ada yang menjemputnya.
Esok paginya, Venus dibangunkan oleh seseorang yang dia kenali. Dia adalah Jenderal Virendra, pria itu datang ingin menemui Venus dan tidak sengaja menemukan gadis kecil itu tertidur di balik batu besar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jenderal Virendra.
Pertanyaan itu membuat Venus sadar akan satu hal. Orang tuanya tidak datang menjemput, bahkan hingga pagi menjelang.
Memberanikan diri Venus segera berlari ke arah rumahnya dan bukannya menemukan kedua orang tuanya, gadis kecil itu justru mendapati mayat dua orang yang dia sayangi.
"Ibu ... Ayah!" Venus berteriak ketakutan.
TBC
Rekomendasi lagi untuk kalian, novel keren karya author Aveeiiii
yuk, kepoin dan jangan lupa dukungannya 😊
Judul : AMBIL SAJA DIA UNTUKMU
__ADS_1