
Hanya dibutuhkan waktu beberapa jam untuk menangkap siapa pelaku yang mencampur obat penggugur kandungan dalam minuman Venus. Ya, pelakunya adalah Avi.
Sean segera menyeret gadis itu ke hadapan Jenderal Virendra yang sudah menunggu di ruang eksekusi. Mata Jenderal Virendra berkilat penuh dendam saat melihat Avi yang terduduk lemah di hadapannya.
"Seekor tikus mencoba bermain-main denganku?" sinis Jenderal Virendra.
Avi tidak berani bersuara karena dia sudah tahu akan resiko ini. Apa yang dia perbuat jelas akan berakibat fatal pada kehidupannya.
"Jenderal, Letnan sudah berhasil menangkap saudaranya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari." Lapor Sean yang sengaja berbicara di hadapan Avi.
Gadis itu tampak terkejut dan gemetar ketakutan. Dia tidak menyangka Jenderal Virendra akan menangkap kakaknya. Satu-satunya keluarga yang dia miliki di dunia ini.
"Jenderal, saya mohon jangan menghukum kakak saya. Saya yang bersalah di sini Jenderal ... tolong biarkan kakak saya hidup bebas di luar sana." Avi segera bersujud memohon ampun pada Jenderal Virendra yang tampak tidak terpengaruh.
"Ini adalah resiko dari kejahatan yang sudah kau perbuat. Bukankah Velly sudah mengingatkanmu?" Sean menatap sinis pada Avi yang masih bersujud dan menangis memohon ampun pada Jenderal Virendra.
"Kau tahu apa saja kesalahanmu? Mengkhianati Venus yang begitu tulus padamu dan kau bahkan berani mencelakainya. Nyalimu begitu besar karena berani mencelakai dua orang yang paling berharga untukku."
Suara Jenderal Virendra terdengar begitu dingin, hingga membuat Avi bahkan Sean bergidik takut. Jenderal Virendra begitu marah hingga rasanya ingin segera melenyapkan gadis di hadapannya itu.
Terdengar suara pintu diketuk dan tidak lama Letnan Dean segera masuk seraya membawa seorang pria berpenampilan lusuh.
__ADS_1
"Jenderal, pria ini adalah saudara pelayan itu," lapor Letnan Dean.
"Jenderal, ini semua karena saya. Saya mohon jangan hukum adik saya, dia melakukan semua itu demi menghidupi saya." Pria lusuh itu bersujud memohon ampun, sayangnya Jenderal Virendra tidak tersentuh.
"Mencoba melenyapkan calon pewaris Negara Aleister termasuk menghidupimu?" tanya Jenderal Virendra sinis.
Pria lusuh itu tampak terkejut, terlihat dia tidak tahu menahu mengenai perbuatan keji Avi.
"Aku sudah muak melihat kalian berdua. Sean bawa pengawal kemari dan masukan keduanya ke dalam sel tahanan. Setelah kondisi Venus membaik, mereka akan segera diadili."
Jenderal Virendra segera pergi usai memberi perintah. Pria itu memikirkan kondisi Venus dan sangat khawatir karena Venus belum sadarkan diri.
"Selamat menikmati hasil perbuatanmu," ucap Sean meledek Avi yang tidak bisa berkata-kata.
*
*
Venus baru sadarkan diri dan masih tampak lemas. Wajah cantiknya terlihat pucat meski kondisinya sedikit membaik.
"Syukurlah kau sudah sadar," ucap Jenderal Virendra penuh kelegaan saat melihat Venus sudah sadar.
__ADS_1
"Vir, bagaimana dengan anak kita?" Tanya Venus khawatir seraya menyentuh perutnya sendiri.
"Dia baik-baik saja ... dia kuat seperti Ibu dan Ayahnya." Jenderal Virendra mengelus lembut perut Venus, berusaha menengkan sang istri.
"Syukurlah ...." Venus menangis terharu tidak menyangka calon anaknya masih bisa bertahan.
Semalam rasa sakit itu begitu mengerikan hingga membuat Venus merasa putus asa. Venus takut jika calon anaknya akan pergi bahkan sebelum dia bisa memeluknya. Ternyata Tuhan masih menyayanginya karena telah memberikan anugerah yang begitu indah.
"Tapi Jenderal, apa yang sebenarnya terjadi semalam? Mengapa tiba-tiba Venus perut terasa begitu sakit?" tanya Venus ingin tahu.
"Ada yang mencampur obat penggugur kandungan ke dalam teh yang kamu minum semalam." Jawab Jenderal Virendra sambil membantu Venus untuk duduk bersandar.
Venus begitu terkejut, tidak menyangka akan hal itu. Beruntung dia hanya meminum sedikit teh itu karena entah mengapa perasaanya tiba-tiba tidak nyaman.
"Siapa pelakunya?" tanya Venus lagi.
"Pelayan itu, dialah yang melakukannya. Dia diam-diam menyelinap ke dapur dan mencampur obat itu ke dalam teh yang kau minum."
Venus kembali terkejut mendengar ucapan Jenderal Virendra. Seolah belum cukup dengan rasa kecewa yang ditorehkan oleh Avi, kini gadis itu berhasil membuat Venus merasa sangat sakit hati.
Venus menyayangi Avi seperti saudaranya sendiri karena selama ini hanya Avi yang selalu bersamanya. Venus pikir Avi akan setia dan selalu ada untuknya, sayangnya Avi justru berbalik menyerangnya tanpa ampun.
__ADS_1
Kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Venus saat ini. Wanita hamil itu hanya bisa menangis, menyalurkan rasa sakit hati dan kecewanya.
TBC