My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 35 - MBV -


__ADS_3

Venus tidak tahu apa yang ada dipikirannya semalam. Dia hanya mengikuti apa yang Jenderal Virendra inginkan dan semua terjadi begitu saja. Jujur saja, Venus sedikit takut jika dia salah mengambil langkah.


Disisi lain, Jenderal Virendra tampak begitu tenang. Pria itu tidur dengan damai seolah apa yang terjadi semalam bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.


Dalam diam Venus menatap wajah tampan Jenderal Virendra. Salah satu alasan pria itu menjadi rebutan adalah karena wajahnya yang tampan dan tegas.


"Kau sudah bangun? Apakah tidurmu tidak nyenyak?" tanya Jenderal Virendra yang baru saja bangun dan mendapati Venus tengah menatapnya.


Venus menghela pelan, menundukkan kepalanya menghindari tatapan Jenderal Virendra. Gadis itu, ah ralat wanita itu masih malu.


Jenderal Virendra tersenyum kecil mendapati wajah merona Venus. Wajar jika Venus merasa malu setelah apa yang mereka lakukan semalam.


"Jenderal, apakah Anda merasa baik-baik saja?" tanya Venus pelan.


"Jika kau khawatir dampak dari apa yang sudah kita lakukan semalam, kau salah Venus. Kita adalah suami istri yang sah, apapun yang kita lakukan selama tidak melanggar janji pernikahannya maka tidak ada yang salah."


Jenderal Virendra berucap dengan tegas. Pria itu memaksa Venus untuk menatap matanya tanpa rasa takut.


Jika sudah begitu, Venus tidak bisa melakukan banyak hal selain menuruti perkataan Jenderal Virendra.


Jenderal Virendra merasa begitu lega ketika Venus mendengar ucapannya. Sejujurnya apa yang Jenderal Virendra lakukan semalam adalah salah satu cara mengikat Venus. Dia tidak ingin suatu hari nanti Venus memilih meninggalkannya karena masa lalu keluarganya.

__ADS_1


Jika Venus hamil nanti justru Jenderal Virendra merasa bersyukur karena dia tidak perlu menunggu lebih lama lagi. Masalah peraturan akan Jenderal Virendra bereskan dengan cepat, selain itu Jenderal Virendra juga akan menyiapkan dokter terbaik nantinya untuk Venus.


*


*


"Ayah tenang saja, aku sudah berhasil mengancam Venus. Aku yakin sebentar lagi dia akan memilih untuk pergi karena merasa malu." Sella berucap dengan percaya diri pada Ayahnya yang merupakan Perdana Menteri Negara Aleister.


"Bagus, Ayah suka dengan pergerakanmu yang cepat. Lebih cepat akan lebih baik sehingga kau bisa segera menikah dengan Jenderal."


Keduanya tersenyum penuh kepuasan karena rencana mereka berhasil. Mengenai identitas Venus, mereka mendapatkannya dengan mudah dari seorang pelayan yang memang mereka tugaskan untuk memata-matai Venus.


"Aku suka cara kerja pelayan itu Ayah. Buat dia menjadi pelayan pribadiku jika aku menikah dengan Jenderal. Pelayan itu berhasil mendapat informasi yang bagus, Ayah benar-benar hebat karena berhasil menyusupkan mata-mata." Sella kembali mengucapkan kalimat percaya dirinya. Bahkan, gadis itu sudah membayangkan kehidupan pernikahannya dengan Jenderal Virendra nanti.


Keduanya terus mengatakan khayalan mereka yang tidak ada habisnya. Tanpa keduanya sadari ada seseorang yang mendengar semua percakapan mereka. Dia adalah mata-mata yang dikirim oleh Letnan Dean.


Mata-mata itu segera pergi bermaksud menyampaikan informasi penting ini kepada Jenderal Virendra dan Letnan Dean.


Letnan Dean yang melihat kedatangan mata-mata itu segera memberi kode untuk bertemu di ruang rahasia agar tidak ada yang curiga.


"Ada apa, Letnan?" tanya Jenderal Virendra yang baru saja tiba di ruang rahasia.

__ADS_1


"Mata-mata yang saya tugaskan ingin menyampaikan informasi, Jenderal." Jawab Letnan Dean sembari memberi kode kepada mata-mata itu.


"Mohon izin, Jenderal. Tadi saya mendengar Perdana Menteri dan Nona Sella berbicara mengenai Nyonya. Nona Sella mengatakan telah berhasil mengalahkan Nyonya dan Perdana Menteri mengatakan bahwa mereka telah mengirim mata-mata yang ternyata telah berhasil mendapatkan informasi bagus."


Jenderal Virendra tampak tenang mendengar laporan dari mata-mata itu. Sepertinya dia sudah menduga akan hal ini.


"Letnan Dean, beri mata-mata ini bonus yang besar." Perintah Jenderal Virendra tenang, pria itu tidak terlihat marah ataupun gusar.


Letnan Dean segera memberikan imbalan dan menyuruh mata-mata itu kembali. Ada hal pribadi yang ingin dia bicarakan dengan Jenderal Virendra.


"Jenderal, apa yang akan Anda lakukan setelah ini?" tanya Letnan Dean setelah mata-mata itu pergi.


"Aku sendiri yang akan menangkap pelayan itu dan memberinya pelajaran. Untuk Perdana Menteri dan putrinya, lakukan seusai perintahku semalam."


Mata Jenderal Virendra berkilat penuh amarah, pria itu sudah menyiapkan hukuman yang pantas untuk para pengkhianat. Mereka akan menyesal karena telah berani bermain-main dengan Jenderal Virendra.


TBC


Rekomendasi novel menarik karya untuk kalian karya author Mphoon


yuk, mampir dan dukung karyanya 😊

__ADS_1


Judul : KEIKHLASAN HATI SEORANG ISTRI



__ADS_2