
Venus mengelus dengan lembut perutnya yang masih terlihat rata. Tidak pernah ada dalam benak ya akan menjadi Ibu diusia yang masih muda seperti ini.
Jenderal Virendra yang baru tiba hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah Venus. Rasanya masih seperti mimpi melihat Venus tumbuh dewasa dan kini menjadi istrinya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Jenderal Virendra tiba-tiba.
Venus menoleh kaget dan segera tersenyum lebar melihat kehadiran Jenderal Virendra.
"Venus baik ... di dalam sini juga baik." Jawab Venus sembari mengelus perutnya.
Jenderal Virendra mendekat dan merengkuh Venus dalam pelukan hangatnya. Belakangan ini, baik Jenderal Virendra maupun Venus mulai terbuka mengenai perasaan masing-masing.
"Rasanya seperti mimpi memelukmu seperti ini," bisik Jenderal Virendra.
Dalam pelukan Jenderal Virendra, Venus tersenyum lebar. Merasa sangat bahagia dengan hubungan mereka saat ini.
"Venus juga tidak menyangka bisa memeluk Jenderal seperti ini."
Jenderal Virendra mengurai pelukannya, menatap wajah Venus yang terlihat semakin cantik.
"Venus ... aku mencintaimu ... sangat mencintaimu," ucap Jenderal Virendra begitu tulus dan penuh kasih.
Pipi Venus merona malu mendengar ungkapan cinta dari Jenderal Virendra.
"Jenderal ... Venus juga mencintai Jenderal," balas Venus berbisik pelan karena terlalu malu.
__ADS_1
Jenderal Virendra tersenyum dengan lembut dan menatap Venus dengan tatapan penuh cinta. Waktu seakan berhenti berputar dan dunia terasa milik mereka berdua.
"Mulai saat ini, jangan memanggilku dengan sebutan Jenderal. Panggil namaku, Vir ... aku ingin kau memanggilku seperti itu." Pinta Jenderal Virendra seraya membelai lembut pipi Venus yang semakin merona malu.
"Ya, akan Venus coba ... Vir,"
Kemudian keduanya tersenyum lembut, menyalurkan cinta lewat tatapan mata yang tulus. Untuk pertama kalinya mereka saling jujur akan perasaan masing-masing. Keduanya berharap tidak akan ada lagi cobaan untuk mereka.
*
*
Venus terbangun karena rasa sakit diperut yang tiba-tiba menyerangnya. Rasanya begitu menyakitkan hingga membuat Venus berkeringat dingin.
Jenderal Virendra yang merasa pergerakan di sisinya segera terbangun dan mendapati wajah pucat Venus.
"Sa-sakit ... Vir," jawab Venus terbata karena rasa sakit yang luar biasa.
Jenderal Virendra bergerak cepat memanggil penjaga untuk segera mencari dokter.
Sembari menunggu dokter, Jenderal Virendra menggenggam tangan Venus dengan erat. Jenderal Virendra berusaha untuk menenangkan Venus yang semakin terlihat pucat.
Tidak lama seorang Dokter kandungan kepercayaan Jenderal Virendra bernama Tessa datang. Dokter Tessa segera memeriksa keadaan Venus dan memberi wanita sebuah obat khusus.
Tidak butuh waktu lama, Venus segera tenang dan tertidur. Melihat keadaan Venus yang sedikit membaik Jenderal Virendra menghela napas lega.
__ADS_1
"Jenderal, saya ingin berbicara secara pribadi." Ucap Dokter Tessa yang segera membereskan barang-barangnya.
Jenderal Virendra mengangguk dan segera memerintahkan para penjaga serta pelayan untuk keluar.
"Ada apa, Dokter?" tanya Jenderal Virendra begitu semua orang pergi.
"Apa yang baru saja dimakan atau minum oleh Nyonya?"
"Tidak ada yang spesial, semua seperti biasa. Hanya saya dia meminum sedikit teh sebelum tidur," ucap Jenderal Virendra sembari mengingat-ingat.
"Sepertinya ada yang sengaja mencampur teh yang diminum Nyonya dengan obat penggugur kandungan."
Jenderal Virendra tampak terkejut mendengar penjelasan Dokter Tessa. Bagaimana mungkin dia kecolongan seperti ini?
"Bagaimana dengan kandungannya?" Jenderal Virendra bertanya dengan khawatir.
"Sepertinya Nyonya meminum dengan jumlah yang sedikit sehingga masih bisa terselamatkan. Obat yang Nyonya minum tadi untuk meredakan nyeri dan untuk menguatkan kandungan. Setelah Nyonya merasa lebih baik kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar tidak terjadi kemungkinan buruk lainnya."
Usai menjelaskan dan memberi beberapa vitamin untuk Venus, Dokter Tessa segera pamit.
Sepeninggalnya Dokter Tessa, Jenderal Virendra segera memanggil Letnan Dean dan Sean. Mereka harus menemukan pelaku yang berani menyerang Venus serta calon anaknya.
"Selidikit siapa saja yang bertugas hari ini dan siapa saja yang berhubungan langsung dengan Venus!" perintah Jenderal Virendra yang terlihat sangat marah.
"Baik, Jenderal!" Sahut Letnan Dean dan Sean yang segera pergi menjalankan tugas mereka.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang karena sudah berani menyakiti istri dan calon anakku," gumam Jenderal Virendra penuh dendam.
TBC