My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 72 - MBV -


__ADS_3

Jenderal Virendra benar-benar mengadakan oertemuan dengan para menteri. Dia ingin tahu apa sebenarnya tujan utama mereka mendesaknya untuk mengadakan pertemuan.


Para menteri dan Kepala Departemen sudah berkupul di aula pertemuan, mereka semua siap membahas apa yang tengah ramai dibicarakan para rakyat.


"Katakan apa tujuan utama kalian mengadakan pertemuan ini?" tanya Jenderal Virendra membuka pembicaraan.


"Maaf jika kami lancang Jenderal. Di luar sudah banyak rakyat membicarkan Nyonya yang tidak kunjung sadar. Mereka merasa kasihan karena Tuan muda dan Nona muda tidak mendapat kasih sayang dari Nyonya." Ucap salah satu Menteri sambil menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap lansung wajah Jenderal Virendra.


"Benar, Jenderal. Saya mendengar sendiri apa yang rakyat inginkan, mereka hanya ingin yang terbaik untuk Tuan dan Nona muda." satuh Menteri yang lainnya.


"Apakah kalian memiliki saran lain?" tanya Jenderal Virendra memancing para Menteri.


Para Menteri dan Kepala Departemen saling menatap, mereka terlihat ragu untuk menyampaikan sesuatu. Mereka takut nyawa merekalah yang menjadi taruhannya karena hal ini menyangkut istri tercinta Jenderal Virendra.


"Mohon ampun, Jenderal ... kami hanya menyampaikan keinginan rakyat. Rakyat ingin Jenderal menikah lagi agar Tuan muda dan Nona muda ada yang merawat serta menjaga keduanya." Salah satu kepala Departemen berkata dengan hati-hati, dia sangat takut menyinggung Jenderal Virendra.


Jenderal Virendra masih terlihat tenang seolah bisa menebak apa yang akan mereka katakan. Ketenangan Jenderal Virendra tentu tidak berakibat baik untuk yang lainnya karena mereka menganggap semakin Jenderal Virendra tenang, maka akan semakin menakutkan.


"Menikah? Katakan siapa yang lebih baik dari istriku? Apakah ada wanita yang lebih baik dari istriku?" Jenderal Virendra bertanya dengan tenang.


"Maaf Jenderal, rakyat ingin Anda menikah dengan Nona Via. Mereka merasa Nona Via yang pantas menjadi istri Anda karena telah merawat dan menjaga Tuan muda serta Nona muda dengan tulus."

__ADS_1


Mendengar perkataan itu membuat Jenderal Virendra merubah ekspresinya. Mata Jenderal Virendra menatap tajam setiap orang yang berada di aula pertemuan ini.


"Merawat dan menjaga? Kalian tahu apa?" ujar Jenderal Virendra sinis.


"Jenderal, berita itu sudah tersebar keluar istana dan para rakyat mendukung Jenderal untuk menikah dengan Nona Via. Mereka menganggap Nona Via adalah wanita terbaik untuk Jenderal."


"Jenderal, di luar rakyat mulai menuntut Anda untuk segera menikah lagi. Mereka tidak ingin pewaris tidak mendapat kasih sayang seorang Ibu karena Nyonya belum sadarkan diri hingga saat ini."


"Benar, Jenderal!"


"Tolong pertimbangan, Jenderal!"


Jenderal Virendra tahu di luar sana banyak rakyat yang mulai menyuarakan pendapat mereka. Jenderal Virendra juga tahu siapa dalang di balik ini semua, tapi untuk saat ini dia tidak bisa berbuat banyak hal karena rakyat terus mendesak dan Venus tidak kunjung siuman.


Di satu sisi Jenderal Virendra ingin marah dan mengatakan tidak ada yang bisa menggantikan Venus, akan tetapi di sisi lain Jenderal Virendra mempertimbangkan saran itu karena melihat putri kecilnya yang juga membutuhkan sosok Ibu.


*


*


"Kau dengar tidak, katanya Jenderal ingin menikah dengan Nona Via?" pertanyaan itu datang dari salah satu pelayan Istana.

__ADS_1


"Iya aku mendengar berita itu, kasihan sekali Nyonya ya." sahut pelayan yang lain.


"Benar kasihan Nyonya, tapi mau bagaimana lagi ini semua keputusan Jenderal."


"Aku harap Nona Via benar-benar tulus, kasihan Tuan muda nantinya. Tuan muda sekarang sering murung dan melamun, kalau sampai Nona Via hanya berpura-pura tulus pasti Tuan muda semakin sedih."


"Sudah, kita berdoa saja yang terbaik untuk Nyonya, Jenderal, Tuan dan Nona muda."


"Iya, benar!"


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Velly yang sudah berdiri di belakang para pelayan.


Pada pelayan tampak terkejut melihat Velly yang menatap mereka tajam. Semua segera menunduk takut, mereka tahu siapa sosok Velly yang sebenarnya dan seperti apa jika wanita itu marah. Semua percakapan para pelayan itu didengar oleh Velly yang kebetulan lewat.


"Maafkan kami, Nyonya Velly. Kami hanya membicarakan hal yang kami dengar." Jawab salah satu pelayan sambil tetap menunduk takut.


"Jadi, ini semua benar?" tanya Velly tidak percaya.


Velly sangat terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Batin Velly bertanya-tanya, apakah harus sejauh ini mereka melangkah?


TBC

__ADS_1


__ADS_2