My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 24 - MBV -


__ADS_3

Jenderal Virendra tahu para petinggi yang ingin berkuasa itu tentu saja tidak akan tinggal diam. Jenderal Virendra yakin, sebentar lagi akan ada kerusuhan yang mereka ciptakan.


Ya, begitulah orang-orang politik yang haus akan kekuasaan. Mereka tidak akan bisa tenang sebelum keinginan mereka terwujud.


Lihatlah sekarang, Letnan Dean kini sudah berdiri di hadapan Jenderal Virendra hendak menyampaikan sebuah berita penting.


"Lapor, Jenderal. Saat ini beberapa petinggi Negara sedang meminta waktu untuk mengadakan pertemuan. Mereka mengatakan ingin membahas sesuatu yang sangat penting." Ucap Letnan Dean menyampaikan laporan dengan suara tegasnya.


Jenderal Virendra menajamkan tatapannya, seolah ingin membunuh musuh lewat tatapan tajamnya.


"Adakan pertemuan mendadak besok malam. Aku ingin lihat permainan apalagi yang ingin mereka mainkan." Perintah Jenderal Virendra masih dengan tatapan tajamnya.


Letnan Dean menunduk hormat dan segera melaksanakan perintah Jenderal Virendra. Letnan Dean sangat tahu bahwa saat ini Jenderal Virendra tengah memendam amarahnya.


Letnan Dean tidak habis pikir dengan orang-orang yang haus akan kekuasaan, apakah mereka tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah mereka terima selama ini?


*


*


Venus mendengar desas desus itu. Desas desus tentang pertemuan para petinggi Negara. Pertemuan yang mungkin akan membahas mengenai dirinya yang tidak pantas menjadi pendamping Jenderal Virendra.


Venus mungkin terlihat cuek dan biasa saja, akan tetapi dia tetap seorang gadis biasa yang memiliki perasaan. Venus tentu saja merasa sedih dan kecewa karena dirinya tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jenderal Virendra yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Venus.


Venus menoleh kaget mendapati Jenderal Virendra duduk di sampingnya. Venus bahkan tidak sadar dia sudah melamun dan tidak menyadari kedatangan Jenderal Virendra.


"Maaf, Jenderal. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Venus," jawab Venus pelan.

__ADS_1


"Ada apa, Venus?" tanya Jenderal Virendra lagi.


"Venus mendengar akan diadakan pertemuan dengan petinggi Negara. Apakah pertemuan itu akan membahas mengenai Venus?" Venus bertanya dengan hati-hati takut jika menyinggung perasaan Jenderal Virendra.


"Dari mana kau tahu hal ini?" tanya Jenderal Virendra balik.


"Banyak yang membicarakan hal ini, bagaimana mungkin Venus tidak tahu? Jadi, apa benar pertemuan itu akan membahas mengenai Venus?" Venus kembali bertanya dengan penasaran.


"Aku sendiri tidak tahu, mereka ingin mengadakan pertemuan secara mendadak. Mungkin mereka ingin membahas hal lain. Kau tidak perlu khawatir mengenai hal ini, bukankah sudah ku katakan kau hanya perlu percaya padaku saja."


Venus mengangguk mengerti, mencoba untuk tidak memikirkan hal ini meski tentu saja batinnya bertanya-tanya.


"Baiklah, Venus tidak akan memikirkan hal ini lagi. Venus menaruh kepercayaan pada Jenderal, jadi tolong jangan merusak rasa percaya itu." Pinta Venus dengan sungguh-sungguh.


"Ya, cukup percaya padaku. Satu hal lagi, apapun yang terjadi kau hanya cukup bertanya padaku bukan pada orang lain. Apapun yang akan terjadi nanti, kau harus ingat, hanya kaulah yang pantas menjadi istriku, bukan orang lain."


Perkataan Jenderal Virendra seolah menghipnotis Venus. Kata-kata manis yang sarat akan maksud tertentu, Venus tahu itu.


*


*


Firasat Venus benar, pertemuan ini memang membahas mengenai dirinya.


Jenderal Virendra baru saja memulai acara pertemuan ini dan para petinggi Negara segera menyerangnya.


"Mohon maaf, Jenderal. Kami hanya menyampaikan pendapat mengenai apa yang seharusnya terjadi. Kami dan para rakyat ingin Jenderal segera memiliki keturunan." Perkataan itu datang dari petinggi Negara tetangga yang menjalin kerja sama dengan Negara Aleister.


Jenderal Virendra menatap tajam, seolah ingin melubangi kepala para petinggi Negara itu.

__ADS_1


"Benar, Jenderal. Para Jenderal terdahulu memiliki keturunan diusia muda agar bisa melatih pewaris. Ayah Jenderal bahkan sudah memiliki Jenderal diusia dua puluh tiga tahun."


Jenderal Virendra hanya diam, menunggu mereka menyelesaikan kalimat-kalimat omong kosong.


"Mohon segera dipertimbangkan, Jenderal." Kali ini utusan Raja Negara Selatan yang berbicara dengan sangat berani.


"Kalian seharusnya tenang saja, bukankan aku sudah memiliki istri." Jenderal Virendra berucap dengan tenang, akan tetapi wajahnya mengeras menahan amarah didada.


"Jenderal, maaf jika lancang. Nyonya, masih terlalu belia untuk bisa memberi keturunan. Bukankah peraturan Negara Aleister melarang wanita dibawah usianya dua puluh tahun untuk melahirkan." Bantah utusan Raja Negara Selatan.


"Jangan mengajariku," desis Jenderal Virendra penuh amarah.


"Jenderal, mohon pertimbangan lagi. Nyonya masih terlalu muda dan hal itu beresiko, menunggu Nyonya hingga siap bukankah masih terlalu lama?"


"Lancang sekali kalian!" Bentak Jenderal Virendra marah, pria itu bahkan menggebrak meja dengan keras.


"Jenderal," bantahan itu dibungkam dengan tatapan tajam Jenderal Virendra.


"Sampai kapanpun, Venus adalah istriku dan hanya dialah yang berhak melahirkan pewaris!" Jenderal Virendra berkata dengan tegas tidak ingin mendengar bantahan apapun.


TBC


Rekomendasi lagi nih untuk kalian, novel keren dan seru karya author Hilmiath_


Judul : ATMOSPHERE



Blurb :

__ADS_1


Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?


__ADS_2