
Berita tentang kehamilan Venus menyebar dengan cepat. Bahkan para rakyat juga mengetahui berita ini. Sebagian ada yang mendukung dan mendoakan kesehatan Venus serta calon anaknya, akan tetapi tidak sedikit pula yang menentang.
Mereka yang menentang tentu karena mengikuti peraturan yang ada. Namun, mau bagaimana lagi semua sudah terjadi dan resiko Jenderal Virendra yang menikahi wanita berusia 18 tahun.
Bagi Venus sendiri ini semua diluar dugaan. Dia tidak menyangka jika Tuhan memberinya anak secepat ini. Sedangkan Jenderal Virendra terlihat bahagia karena salah satu impiannya akan segera terwujud.
"Anda bahagia, Jenderal?" tanya Venus yang melihat senyum dibibir Jenderal Virendra.
Jenderal Virendra menoleh masih dengan senyuman bahagianya.
"Tentu, ini adalah salah satu impianku," jawab Jenderal Virendra.
"Jenderal, sejujurnya Venus sedikit takut." Ucap Venus seraya duduk di hadapan Jenderal Virendra.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Jenderal Virendra menatap lembut pada Venus.
"Venus takut tidak bisa menjadi Ibu yang baik. Jenderal tahukan, usia Venus baru delapan belas tahun dan Venus tidak tahu banyak mengenai cara menjadi Ibu yang baik."
Jenderal Virendra tersenyum lembut, membelai penuh kehati-hatian pipi Venus yang tampak pucat.
"Kau tahu, Ibuku pernah berkata bahwa menjadi orang tua yang baik tidak harus belajar, karna sesungguhnya tidak ada buku yang bisa mengajarkan kita menjadi orang tua yang baik."
__ADS_1
"Jadi apa yang harus Venus lakukan?"
"Menikmati prosesnya, menyayangi anak kita dengan sepenuh hati, menjaga dan melindunginya. Cukup itu yang kita lakukan dan sisanya akan bekerja sebagaimana feeling kita sebagai orang tua."
Apa yang Jenderal Virendra katakan benar karena menurut Venus sendiri tidak ada contoh orang tua yang sempurna. Setiap orang tua memiliki cara dan pandangan yang berbeda dalam mengasuh anak.
Saat ini yang harus Venus lakukan adalah menjaga kesehatan dan juga menjaga kandungannya. Venus harus siap dan sehat saat melahirkan nanti.
*
*
Velly menatap sinis pada Avi yang menunduk malu karena tertangkap basah sedang bertemu seseorang. Setelah beberapa hari mengikuti Avi secara diam-diam akhirnya Velly bisa menangkap basah gadis itu.
"Bukan siapa-siapa," jawab Avi begitu pelan.
"Haruskan aku meminta Tuan Sean untuk mencari tahu siapa pria itu?" Ancam Velly menunjuk pada Sean yang hanya berdiri memperhatikan kedua gadis itu.
"Sudah ku katakan dia bukan siapa-siapa. Lagi pula apa kuasamu hingga berani mengancamku!" Ucap Avi yang kini mengangkat kepalanya dan dengan berani menatap marah pada Velly.
Velly tersenyum sinis melihat keberanian Avi. Gadis itu cukup percaya diri dengan menantang seorang Velly.
__ADS_1
"Jika aku memberitahu padamu siapa diriku yang sebenarnya, aku yakin kau akan merasa lebih baik untuk mati saja."
Sean tertawa mendengar ucapan tajam Velly. Gadis di depan Sean ini memang sangat tangguh dan Sean semakin menyukainya.
"Kau terlalu percaya diri!" hina Avi yang memilih untuk tidak takut pada Velly.
Velly sudah akan membalas ucapan Avi, akan tetapi Sean segera menyela karena tidak ingin identitas Velly yang sebenarnya terbongkar.
"Pria itu saudaramu, aku sudah mencari tahu yang sebenarnya." Ucap Sean dengan tenang sambil melangkah maju dan berdiri di depan Avi.
"Dari mana Anda tahu, Tuan?" tanya Avi takut.
"Mudah saja bagiku mencari tahu tentang siapa kau. Bersiaplah setelah ini Nyonya akan memanggilmu. Permainanmu sudah berakhir dan saat ini lebih baik kau khawatirkan nasibmu itu."
Usai mengatakan hal itu Sean segera berlalu meninggalkan Velly dan Avi. Kedua gadis itu saling tatap, memancarkan aura permusuhan yang kuat.
"Waktumu sudah habis Avi, pengkhianat sepertimu tidak cocok berada di Istana ini karena tempatmu yang sesungguhnya ada di penjara sana."
Velly tersenyum sinis kemudian melangkah pergi meninggalkan Avi yang tampak menahan amarah. Avi merasa Velly terlalu berani padanya dan bahkan berani mengejeknya.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika aku ditendang dari istana ini, maka harus ada penderitaan untuk setiap anggota keluarga istana ini. Tidak ada yang bisa bahagia jika aku harus merasakan derita."
__ADS_1
Avi bergumam penuh dendam, mata gadis itu berkilat marah seolah memancarkan aura dendam yang begitu membara. Entah apa yang akan dilakukan Avi nantinya.
TBC