
Venus merasa tidak nyaman, entah mengapa rasanya ada hal yang tidak beres. Pertemuan Jenderal Virendra dengan para petinggi Negara berlangsung lama.
Sudah hampir jam sebelas malam, tetapi pria itu belum juga kembali. Kedua pelayan Venus bahkan sudah kembali ke kamar masing-masing. Venus tidak tenang, tapi dia tahu tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Aku merasa akan ada masalah baru lagi. Ya Tuhan, kenapa banyak sekali cobaan dalam rumah tanggaku. Apakah kami sebenarnya tidak bisa untuk bersama?"
Venus berbicara pada dirinya sendiri, mengungkapkan kegelisahan hati. Mungkin benar bahwa dia tidak pantas menjadi pendamping seorang Jenderal besar seperti Jenderal Virendra. Bagaimanapun juga Venus hanyalah gadis biasa yang tidak tahu asal usulnya.
*
*
Suasana di aula pertemuan kian memanas. Jenderal Virendra terlihat begitu marah karena manusia-manusia yang haus akan kekuasaan itu seakan ingin menjadikan Jenderal Virendra boneka mereka.
"Sudah cukup ucapan bodoh kalian itu. Kalian pikir kalian bisa mengaturku?" Sinis Jenderal Virendra yang kini sudah berdiri, bersiap pergi meninggalkan aula pertemuan.
"Jenderal, mohon untuk dipertimbangkan. Kami membicarakan hal ini demi Negara Aleister." Perdana Menteri segera berdiri, masih berusaha memengaruhi Jenderal Virendra.
"Kau pikir kau siapa?" Jenderal Virendra memandang rendah Perdana Menteri seolah pria paruh baya itu sangat mengganggu.
"Jenderal," ucap Perdana Menteri pelan, masih berusaha untuk membujuk Jenderal Virendra.
"Kalian ingin aku menikah lagi demi mencapai tujuan kalian. Ingat baik-baik, di dunia ini hanya akan ada satu wanita yang pantas melahirkan seorang penerus Negara Aleister dan wanita itu adalah Venus, istriku!"
Usai mengatakan hal itu, Jenderal Virendra segera pergi meninggalkan aula pertemuan dengan rasa marah yang bergejolak di dadanya.
Mereka yang haus akan kekuasaan itu sangat menjijikkan, begitulah pikir Jenderal Virendra.
__ADS_1
"Jenderal, sepertinya mereka tidak akan menyerah begitu saja." Ucap Letnan Dean yang masih setia mengikuti langkah kaki Jenderal Virendra.
"Aku tahu itu, manusia tidak tahu malu seperti mereka pasti sudah menyiapkan rencana lain." Jawab Jenderal Virendra yang kini menghentikan langkah kakinya.
Saat ini kedua pria itu tengah berdiri di bawah pohon, menatap jauh kearah kediaman Jenderal Virendra. Mereka tahu Venus pasti sedang menunggu Jenderal Virendra.
"Mereka pasti memprovokasi rakyat untuk mendesak Jenderal. Saya akan segera mengirim mata-mata untuk mengawasi rakyat." Letnan Dean kembali berpendapat yang segera disetujui oleh Jenderal Virendra.
"Ya, perintahkan mata-mata untuk mengawasi setiap gerak gerik rakyat. Untuk sementara biarkan rakyat menyuarakan pendapat mereka, tapi jangan sampai ada yang melewati batas. Kirim juga mata-mata di kediamanku, aku yakin salah satu pelayan Venus adalah seorang pengkhianat."
"Baik, Jenderal!" Jawab Letnan Dean dengan tegas yang kemudian segera pamit untuk melaksanakan tugasnya.
Jenderal Virendra masih berdiri di tempatnya, memikirkan banyak hal untuk memastikan Venus aman dan nyaman. Sampai kemudian Sean datang memberi hormat.
"Bagaimana?" tanya Jenderal Virendra langsung.
"Dia pasti mengambil peran dalam rencana ini. Kirim orang untuk mengawasinya, untuk sementara biarkan dia bebas, tapi jangan sampai dia mendekati Venus."
"Baik, Jenderal!"
"Satu lagi, sekarang kau harus menjaga Venus dari jarak dekat. Pastikan kedua pelayannya tidak memengaruhi Venus, aku yakin ada seorang pengkhianat di sana." Ucap Jenderal Virendra memberi perintah dan segera berlalu setelah Sean menyanggupi tugas yang dia berikan.
*
*
Jenderal Virendra tiba di kediamannya tepat pukul dua belas malam. Venus yang memang menunggu kedatangan Jenderal Virendra segera menyambut meski wajah gadis itu terlihat lelah.
__ADS_1
"Kau belum tidur?" tanya Jenderal Virendra cukup terkejut karena Venus menyambutnya.
"Venus menunggu Jenderal pulang," jawab Venus pelan.
"Seharusnya kau tidur, aku tahu kau mengantuk. Tidurlah, masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan." Ucap Jenderal Virendra yang tanpa sadar kini mengelus rambut Venus dengan lembut.
Venus membeku, terkejut dengan perlakukan manis itu. Jenderal Virendra sendiri sama terkejutnya, akan tetapi pria itu bisa menguasai diri.
"Venus ... kalau begitu Venus tidur lebih dulu." Venus segera berbalik, gadis itu terlihat salah tingkah karena tindakan manis Jenderal Virendra.
Jenderal Virendra menahan senyum melihat sikap malu-malu yang Venus tunjukkan. Keduanya sadar akan perasaan masing-masing, tapi memilih untuk memendam dalam diam.
"Venus, haruskah aku jujur padamu atau lebih baik seperti ini saja?" tanya Jenderal Virendra pada dirinya sendiri.
Jenderal Virendra sadar bahwa dia terlalu banyak menyimpan rahasia terhadap Venus. Namun, untuk jujur kepada gadis itu bukanlah hal yang mudah. Venus bukan gadis sembarangan, gadis itu istimewa dan berasal dari kalangan terpandang.
Sayangnya, Venus melupakan banyak hal setelah peristiwa itu. Peristiwa yang membuat Jenderal Virendra memutuskan untuk menutup rapat masa lalu Venus dan keluarganya.
TBC
Rekomendasi novel menarik lagi untuk kalian semua karya author ingflora
yuk baca dan dukung karyanya 😊
Judul : PUISI CINTA TOPENG CINDERELLA
__ADS_1