My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 57 - MBV -


__ADS_3

Letnan Dean berhasil menemukan dalang di balik penculikan Varest. Menepati janjinya pada Jenderal Virendra, Letnan Dean benar-benar menyeret Endo yang merupakan dalang di balik penculikan Varest.


"Lapor, Jenderal! Saya menemukan dialah dalang di balik penculikan Tuan muda Varest. Pria ini sedang bersembunyi di daerah perbatasan."


Jenderal Virendra menatap Endo dengan tatapan tajamnya. Tatapan yang membuat siapa saja gemetar ketakutan, termasuk Endo. Pria itu benar-benar sial karena berhasil ditemukan oleh Letnan Dean.


"Rupanya tikus kecil ini benar-benar tidak tahu diri. Masukan dia ke penjara bawah dan siksa sampai mengaku di mana dia menyembunyikan Varest!" Perintah Jenderal Virendra dengan marah dan segera dilaksanakan oleh Letnan Dean.


Endo masih diam, enggan untuk membuka mulut. Meski sebenarnya dia sangat kekuatan sekarang, akan tetapi dia yakin John atau Gun pasti datang menyelamatkannya.


Tubuh Endo jatuh tersungkur di lantai lembar sel penjara bawah tanah. Letnan Dean tanpa ampun melempar dan memukul Endo hingga pria itu meringis kesakitan.


"Katakan, di mana Tuan muda?" Letnan Dean bertanya dengan nada datar.


"Cari tahu sendiri, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu kalian!" Endo berteriak nyaring seolah menantang Letnan Dean.


Sayangnya, Endo mungkin lupa bahwa Letnan Dean terkenal sama kejamnya seperti Jenderal Virendra. Pria itu berdarah dingin dan jika sudah marah Letnan Dean bisa menghancurkan musuh dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Teruslah berusaha menutup mulutmu itu. Kau pikir para pengkhianat itu akan membantumu lepas? Pemimpin Negara sendiri mereka khianati apalagi seekor tikus tidak berguna sepertimu!"


Letnan Dean menarik rambut Endo dengan kejam kemudian menghempaskannya begitu saja hingga wajah Endo terbentur lantai.


"Renungkan ini, aku akan kembali sepuluh menit lagi. Keputusan ada ditanganmu, jika kau masih menutup mulut maka bersiaplah merasakan sakit hingga kau memilih untuk mati!"


Usai mengatakan hal kejam itu Letnan Dean segera pergi, masih ada yang harus dia urus sebelum membersihkan tikus kotor itu.


*


*


"Varest harus keluar dari sini, Ibu pasti sedang menangis memikirkan Varest." Varest bergumam sedih sembari mengelilingi ruangan itu.


Varest sedang mencari celah untuk bisa kabur. Anak kecil itu di didik keras oleh Jenderal Virendra sehingga dia bisa membaca situasi dengan tepat. 3 hari kemarin Varest tidak bisa melakukan banyak hal karena orang-orang jahat itu terus mengawasi dan sekarang saat mereka lengah Varest berniat kabur.


"Varest yakin Ayah akan menemukan Varest, tapi Ibu pasti merindukan Varest jadi Varest harus segera pergi dari tempat ini."

__ADS_1


Varest menemukan sebuah celah, anak itu mengintip di luar dan menemukan keadaan yang sepi. Tidak ada siapapun di luar sana dan kebetulan tempat kumuh ini berada di tengah hutan.


Varest menemukan sebuah besi dan menggunakan besi itu untuk membuat lubang agar dirinya bisa keluar. Dengan tangan kecilnya butuh waktu 3 jam untuk membuat sebuah lubang seukuran tubuhnya. Tidak sia-sia Varest mendengarkan pelatihan dari Ayahnya.


Varest berhasil keluar dan segera berlari menjauh. Varest benar-benar beruntung karena tidak ada penjaga di sana. Tubuh kecil itu terus berlari tanpa arah, yang Varest pikirkan hanyalah menjauh dari gubuk kecil itu.


Tidak lama setelah Varest berhasil kabur, sekelompok orang berpakaian kumuh datang. Mereka adalah para pemberontak yang bertugas menculik serta menyembunyikan Varest.


"Cepat buka pintunya, kita harus kabar sebelum Jenderal datang dan menemukan anaknya!" Perintah salah seorang yang sepertinya pemimpin kelompok itu.


Pintu dibuka dan betapa kagetnya mereka melihat Varest sudah tidak ada di sana. Hanya terdapat sebuah lubang berukuran sedang. Mereka yakin Varest kabur lewat lubang ini.


"Kurang ajar! Cepat cari anak itu atau kalian semua ma*ti ditangan bos!"


Serentak semua orang bergegas mencari disegala penjuru hutan. Mereka semua takut jika Varest benar-benar berhasil kabur, makanya nyawa merekalah taruhannya.


Di sisi lain Varest terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Dia terus berlari sampai menemukan sebuah rumah tua yang tidak berpenghuni, tapi tampak terawat. Tanpa takut Varest masuk ke dalam rumah itu dan terkejut melihat seseorang tengah duduk seorang diri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2