My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 60 - MBV -


__ADS_3

Jenderal Virendra berhasil mengalahkan para pemberontak dan mengambil alih daerah kekuasaan mereka. Beberapa orang yang selamat dijadikan tawanan oleh Jenderal Virendra, dia berniat mencari lebih banyak informasi mengenai siapa dalang di balik pemberontakan ini.


Usai berperang, Jenderal Virendra tidak segera mengistirahatkan tubuhnya. Dia segera mengganti pakaiannya dan berniat mencari Venus dan Varest seorang diri. Dia bertekad akan menemukan Venus dan Varest malam ini juga.


"Letnan Dean, aku serahkan sisanya pada kau dan Sean."Jenderal Virendra segera memberi perintah ketika selesai mengganti pakaiannya.


"Anda mau kemana Jenderal? Hari sudah mulai gelap, apakah Anda ingin kesuatu tempat? tanya Sean penasaran setelah melihat Jenderal Virendra tampak terburu-buru.


"Aku akan mencari anak dan istriku sendiri. Jika ada yang bertanya, katakan aku sedang beristirahat." Jawab Jenderal Virendra yang segera pergi meninggalkanmu markas sebelum Sean kembali membuka mulut.


"Aku tidak menyangka Jenderal benar-benar lebih manusiawi ketika mengenal arti keluarga." Sean berkomentar lirih sembari sibuk mengganti pakaiannya.


"Kau pikir selama ini Jenderal tidak manusiawi?" tanya Letnan Dean menatap tajam pada Sean.


Sean menatap kesal Letnan Dean, saudaranya itu sama persis seperti Jenderal Virendra.


"Kau tahu tidak artinya manusiawi?" Sean bertanya dengan kesal.


"Lebih baik kau menutup mukulmu itu. Kau terlalu sering berkomentar tidak jelas, aku tidak percaya kau saudara kandungku." Letnan Dean berucap sinis mengudang gerutu Sean.


"Aku lebih tidak percaya kalau kau itu saudaraku. Kau terlalu kaku sama seperti Jenderal, tapi sekarang Jenderal lebih baik lagi karena terlihat lebih manusiawi. Sedangkan kau sungguh menyedihkan, sana cari wanita dan bangun keluarga sendiri."


Sean menatap sinis pada Letnan Dean sebelum pergi meninggalkan pria itu. Sedangkan Letnan Dean hanya bisa menghela napas pasrah. Sean benar-benar terlalu banyak mengomentari orang lain.

__ADS_1


*


*


Jenderal Virendra menyusuri kota dalam diam. Mengamati setiap sudut, berharap bisa menemukan Venus dan Varest. Jenderal Virendra merasa sangat khawatir pada kesehatan Venus yang belakangan ini memburuk. Belum lagi keadaan Varest yang entah berada dimana.


Saat sedang menyusuri jalan, Jenderal Virendra berhenti di pinggir hutan tempat di mana ada sebuah danau indah. Danau yang menjadi saksi pertama kalinya dia bertemu dengan Venus.


Entah mengapa langkah kaki Jenderal Virendra membawanya pada danau itu. Saat Jenderal Virendra semakin dekat dengan danau, dia melihat punggung seseorang yang dia rindukan.


"Venus?" Jenderal Virendra memanggil pelan seolah takut ini semua hanya ilusi.


Venus yang mendengar suara Jenderal Virendra segera menoleh. Tanpa bisa dicegah Venus menangis menatap Jenderal Virendra. Hilang sudah semua gelisah yang menggelayuti hatinya.


"Ayah!" Varest yang tertidur dalam pelukan Venus segera bangun dan berlari menyambut Jenderal Virendra.


"Vir, ya Tuhan. Ini benar-benar kau?" Venus mendekat, itu memeluk Jenderal Virendra bersama dengan Varest.


Jenderal Virendra memeluk keduanya dengan erat, dia takut jika keduanya kembali hilang. Tidak ada yang lebih melegakan selain bertemu dua orang yang sangat Jenderal Virendra cintai.


"Kalian baik-baik saja?" Tanya Jenderal Virendra melepas pelukannya dan segera memeriksa keadaan Venus dan Varest.


"Kami baik-baik saja," jawab Venus membuat Jenderal Virendra mendesah penuh kelegaan.

__ADS_1


"Jangan menangis, Nak." Menyadari Varest yang kini menangis, Jenderal Virendra segera menghapus air mata putranya itu.


"Maaf karena terlambat menemukan kalian," ucap Jenderal Virendra penuh sesal.


Venus menggeleng tidak ingin Jenderal Virendra menyalahkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku Vir karena pergi tanpa memberitahumu, aku terlalu mengkhawatirkan Varest."


"Tolong jangan seperti itu lagi," pinta Jenderal Virendra pelan. Jenderal Virendra segera menggendong Varest dan menggenggam erat tangan Venus, mengajak keduanya untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Sekarang, ayo kita kembali ke Istana." Ajak Jenderal Virendra membawa keduanya menuju mobil.


Ketika tiba di samping mobil, langkah Venus terhenti. Wanita itu memegang perutnya, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya.


"Vir--tolong sakit--sa--sakit sekali!" Venus merintih menahan rasa sakit diperutnya.


Jenderal Virendra menoleh dengan panik, pria itu segera membawa Varest masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Varest berada di dalam mobil, kini Jenderal Virendra menuntun Venus untuk ikut masuk ke dalam mobil. Namun, rasa sakit itu membuat Venus semakin melemah dan berakhir pingsan.


"Venus! Ya Tuhan, Venus tolong sadar!" Jenderal Virendra berteriak panik mengangkat tubuh Venus dan membawanya ke dalam mobil.


Kini mereka menuju rumah sakit terdekat. Varest sudah menangis, menggenggam erat tangan Venus yang semakin dingin.


"Ayah, tangan Ibu sangat dingin!" ucap Varest khawatir disela tangisnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong selamatkan istri dan calon anakku." Jenderal Virendra membawa mobil dengan panik sembari terus bedoa. Rasa takut kehilangan kembali mengantuinya.


TBC


__ADS_2