My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 70 - MBV -


__ADS_3

Hanya butuh waktu 1 minggu untuk membuat rakyat memihak pada Via. Mereka mulai menyukai Via yang dinilai sangat baik dan tulus, bahkan ada beberapa yang berharap Via bisa menikah dengan Jenderal Virendra.


Letnan Dean sendiri sudah menyelidiki hal ini dan dugaannya benar, dalang di balik ini semua adalah orang tua Via. Mereka sengaja ingin mengambil simpati rakyat dan mendukung Via untuk menjadi istri Jenderal Virendra.


Letnan Dean ingin segera bertindak, tapi saat ini dia hanya sendirian. Dia membutuhkan seseorang untuk membantunya karena fokus Letnan Dean terbagi.


"Sedang memikirkan apa, kakak ipar?" tanya Velly yang tiba-tiba muncul di hadapan Letnan Dean.


Velly tadi tidak sengaja lewat dan melihat Letnan Dean yang tengah melamun. Ini jelas bukan kebiasaan seorang Letnan Dean, jadi wajar jika Velly merasa aneh.


Letnan Dean menatap Velly dengan serius, sampai sebuah ide muncul diotaknya. Ya, dia bisa meminta bantuan pada adik iparnya ini.


"Kau tahu ada berita tentang Via yang begitu baik hati merawat dan menjaga Tuan muda?" tanya Letnan Dean memancing Velly untuk bercerita.


"Tentu saja tahu, berita sampah itu menyebar dengan cepat. Jadi, apa kakak ipar ingin berbuat sesuatu karena jujur saja aku tidak suka dengan berita yang beredar."


Letnan Dean tampak puas mendengar ucapan Velly. Keputusannya untuk mengajak Velly bekerja sama adalah hal yang tepat.


"Aku sedang merencanakan sesuatu, tapi hal ini hanya diketahui kita berdua. Jangan sampai Sean tahu karena aku yakin dia akan membela adik kesayangannya itu."


Kemudian, Letnan Dean menceritakan rencananya pada Velly. Keduanya saling bertukar pikiran agar bisa menyebabkan masalah ini dengan cepat.


*


*

__ADS_1


Jenderal Virendra menatap nanar bayi kecilnya yang tertidur pulas tertidur pulas di samping ranjang Venus. Rasanya sangat menyakitkan melihat anaknya yang belum merasakan sentuhan tangan Venus. Bahkan, namapun belum Jenderal Virendra berikan karena dia ingin Venus sendiri yang memberi nama anak kedua mereka.


Selama 1 bulan ini Velly yang merawat bayi kecil itu dan disiang hari Velly akan membawanya ke rumah sakit agar lebih dekat dengan Venus. Velly berharap hal itu bisa membantu Venus agar cepat sadar.


"Venus, lihatlah putri kecil kita sepertinya dia merindukan kau. Cepatlah sadar agar kau bisa memeluknya dengan erat." Bisik Jenderal Virendra sembari terus menggenggam erat tangan Venus.


Jenderal Virendra merasa seperti suami yang tidak berguna. Sejujurnya, Jenderal Virendra sudah mengetahui berita yang beredar di luar sana. Jenderal Virendra juga tahu banyak yang mendukung jika dia menikah lagi.


Ingin rasanya Jenderal Virendra marah dan mengatakan bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Venus. Namun, Jenderal Virendra memilih untuk berdiam diri. Saat ini dia akan fokus pada Venus dan untuk masalah lain akan dia urus nanti.


Sedang asik Jenderal Virendra menatap Venus dan putrinya, tiba-tiba pintu ruang rawat Venus terbuka. Jenderal Virendra menolah dan mendapati Varest yang tengah berdiri menatap sedih kearah Venus yang masih terbaring tidak sadarkan diri.


"Ibu!" Varest berlari menghampiri Venus dengan linangan air mata.


Setalah 2 bulan akhrinya Jenderal Virendra mengizinkan Varest untuk menemui Venus. Pria itu pikir Varest sudah bisa mengendalikan emosinya.


"Berikan ciuman untuk Ibumu agar dia tahu kau datang." Jenderal Virendra segea menggendong Varest dan membantu sang anak untuk memberikan kecupan kecil dikedua pipi Venus.


"Varest sanga merindukan Ibu," bisik Varest lirih.


Jenderal Virendra merasa sangat terluka melihat betapa rapuh putranya. Dia juga pernah diposisi ini dan merasa sangat putus asa hingga tidak ingin untuk hidup. Jenderal Virendra tahu seberapa dalam luka di hati Varest.


*


*

__ADS_1


"Jadi, wanita tidak tahu malu ini berniat untuk menjadi pahlawan wanita kesiangan?" Ejek Velly ketika bertemu dengan Via di taman Istana.


"Apa maksud, kakak ipar?" tanya Via polos.


"Jangan berpura-pura polos, kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau mainkan di belakangku?"


Mendengar ucapan Velly membuat Via akhrinya terseyum sinis. Rupanya Velly sudah membaca permainannya.


"Apapun itu, aku rasa bukan urusan aku! Jangan ikut campur atau aku bisa membuat Kak Sean membencimu!" ancam Via yang justru sambut tawa dari Velly.


"Kau pikir aku takut mendengar ancaman dari wanita murahan sepertimu?" tanya Velly sinis.


"Jaga ucapanmu! Aku bukan wanita murahan!" Via mulai berteriak seolah memancing seseorang untuk mendekat kearah mereka.


Velly tahu apa coab dilakukan oleh Via karena itulah dia akan mengikuti permainan wanita itu.


"Wanita yang menginginkan suami orang lain adalah seorang wanita murahan. Kau adalah wanita murahan!"


"Velly!" Teriakan itu berasl dari Sean yang entah sejak kapan sudah bediri di belakang Velly.


Velly berbalik dan menatap Sean dengan datar. Dia tidak takut pada Sean karena merasa apa yang sudah dia lakukan adalah hal yang benar.


"Kenapa?" tanya Velly santai seolah tidak melakukan kesalahan apapun.


"MInta maaf pada Via! Sekarang!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2