My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 78 -MBV -


__ADS_3

Velly membiarkan Via melakukan apapun yang wanita itu mau, termasuk persiapan pernikahan yang masih terus berlanjut.


Penantian yang Via tunggu setelah sekian lama akhirnya tiba juga. Hari ini adalah hari pernikahan Jenderal Virendra dan Via yang akan dilaksanakan di aula pernikahan istana.


Para tamu sudah hadir dan bersiap menunggu jalannya acara pernikahan. Di depan aula sudah berdiri Via yang menunggu Jenderal Virendra untuk datang. Namun, sudah 2 jam menunggu Jenderal Virendra tidak kunjung datang membuat Via gelisah.


"Ibu, Ayah ... bagaimana ini, Jenderal belum juga datang. Apakah pernikahan ini akan dibatalkan?" tanya Via dengan gelisah pada kedua orang tuanya yang sama gelisah.


"Tidak mungkin, jika Jenderal membatalkan maka dia sama saja membuat dirinya malu. Ayah yakin ada hal mendesak yang harus segera Jenderal selesaikan." Ucap Ayah Via menggenggam erat tangan putrinya agar bisa lebih tenang.


"Benar, kau harus bersabar. Lagipula, jika pernikahan ini dibatalkan seharusnya sudah ada pengumuman. Sabarlah sedikit lagi, ingat kebahagiaan yang kau mimpikan sudah di depan mata." Ibu Via berbisik pelan ikut berusaha menenangkan sang anak.


Via sudah akan kembali protes ketika keributan menyita perhatiannya. Via menoleh dan segera terkejut ketika mendapati sosok Jenderal Virendra yang baru saja masuk ke dalam aula pernikahan menggunakan seragam militernya.


Semua tamu berbisik lirih, Jenderal Virendra tidak seperti seorang pria yang akan menikah melainkan seperti seorang pria yang hendak berperang.


"Terima kasih untuk para tamu yang sudah hadir pada hari ini. Ada sedikit keterlambatan karena aku menyiapkan kejutan khusus untuk wanita yang spesial." Jenderal Virendra berucap dengan tenang yang justru berhasi mengudang keributan.


Via yang mendengar ucapan Jenderal Virendra berbunga-bunga, dia merasa Jenderal Virendra benar-benar mencintainya hingga menyiapkan kejutan khusus.


"Untuk wanita spesial yang aku cintai, kemarilah sayang." Jenderal Virendra berdiri di tengah aula seraya mengulurkan tangannya bermaksud menyambut sang wanita spesial itu.

__ADS_1


Via dengan percaya diri melangkah maju menuju Jenderal Virendra yang tenaga menunggu. Namun, baru beberapa langkah Via justru dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang melangkah dengan anggun menuju Jenderal Virendra. Dia adalah Venus, Venus yang tampak cantik dengan gaun birunya meski wajah cantik itu masih tertutup cadar.


Semua bisa mengenali Venus dengan mudah karena mata biru milik Venus adalah satu-satunya mata yang dimiliki wanita dari Negara Aleister.


"Sambutlah wanita spesial ini, dia adalah Venus. Dia adalah istri dan ibu dari anak-anakku." Jenderal Virendra sedikit membungkuk ketika Venus menerima uluran tangannya.


Semua tampak terkejut, tidak ada yang menyangka hal ini akan terjadi. Sedangkan Via dan kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Terima kasih untuk sambutan kecil ini, Jenderal. Aku merasa bersyukur karena bisa kembali ke Istana ini sebagai istri dan ibu dari anak-anakku." Venus berucap dengan lembut dan tidak lupa senyum indah yang meski terhalang cadar tetapi bisa memancarkan aura bahagia.


"Nyonya telah kembali, hormat kami Nyonya!" Secara serentak para tamu, pelayan serta pengawal menunduk hormat pada Venus.


Banyak yang tidak menyangka hal ini akan terjadi. Sebagian besar merasa senang, sedangkan yang lain merasa terancam contohnya saja Via dan kedua orang tuanya.


Jenderal Virendra tidak menjawab, bahkan untuk menatap wajah Via saja enggan dia lakukan. Jenderal Virendra sudah muak dengan semua drama ini, sudah waktunya dia memberi pelajaran untuk sekumpulan tikus menjijikan yang tidak tahu malu.


"Untuk kejutan istimewa untuk istri, aku telah menyiapkan sesuatu. Letnan Dean, kemarilah!" perintah Jenderal Virendra.


Letnan Dean segera masuk bersama beberapa pengawal. Pria itu membawa sebuah amplop coklat yang segera diberikan kepada Jenderal Virendra.


"Ini adalah kejutan istimewa untuk istriku dan semua orang yang berada di sini." Jenderal Virendra segera memberi kode kepada pelayan yang langsung menyebarkan beberapa lembar bukti kejahatan yang telah Via dan orang tuanya lakukan.

__ADS_1


"Itu semua adalah bukti yang selama beberapa bukan ini aku dan Letnan Dean kumpulkan. Bukti kejahatan yang wanita ini lakukan. Untuk itu para pengawal seret mereka semua yang terlibat dan masukkan ke dalam penjara bawah tanah!"


"Jenderal, Anda tidak bisa melakukan ini pada kami. Via adalah gadis baik dan dialah yang pantas menjadi istri Anda!" teriak Ayah Via yang membuat Jenderal Virendra menatapnya tajam.


"Jenderal, jangan lakukan ini pada saya! Saya adalah calon istri Anda, ini semua bohong! Saya tidak pernah melakukan kejahatan itu!" Via berteriak dengan air mata yang mengalir, wanita itu terus memberontak tidak ingin masuk ke dalam penjara.


"Benar-benar tidak tahu malu!" ucap Jenderal Virendra dengan sinis.


Semua hanya bisa menatap ketiganya dengan jijik. Benar-benar keluarga tidak tahu malu yang menghalalkan segala cara untuk menjadi istri seorang Jenderal besar seperti Jenderal Virendra.


Ketika semua fokus pada penangkapan itu, sosok anak kecil yang baru tiba segera berlari menuju Venus. Dia adalah Varest yang baru diizinkan keluar dari kamarnya.


"Ibu!" Varest berteriak dan segera memeluk Venus dengan erat, menyalurkan rasa rindu yang tidak bisa dia bendung lagi.


"Varest, putraku." Venus memeluk Varest dengan erat, sekuat tenaga mencegah agar tidak menangis.


Orang-orang menatap keduanya dengan haru. Mereka ikut merasakan sakit ketika melihat pertemuan mengharukan ini. Sayangnya, Jenderal Virendra segera membubarkan orang-orang karena dia tahu Venus tidak nyaman.


Setelah semua pergi, kini tersisa mereka bertiga yang saling berpelukan dengan erat.


"Drama keluarga yang mengharukan," ucap seseorang di depan pintu aula pernikahan.

__ADS_1


Jenderal Virendra menoleh dan menatap tidak suka pada sosok itu, sedangkan Venus hanya mampu tersenyum lembut.


TBC


__ADS_2