My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 56 - MBV -


__ADS_3

Sudah 2 hari Varest diculik dan anak itu masih belum ditemukan. Semua hal sudah Jenderal Virendra lakukan demi mencari keberadaan Varest. Sayangnya, kali ini musuh bergerak lebih cepat hingga dengan mudah menyembunyikan Varest.


Di sisi lain kesehatan Venus semakin menurun. Venus masih berada di tempat persembunyian bersama dengan Bibi Marta, Velly dan juga Dokter Sifa. Ketiga wanita itu bertugas menemani dan menjaga Venus.


"Varest ...." Venus bergerak pelan, merasa gelisah di alam mimpinya.


Bayang-bayang wajah polos dan tawa menggemaskan Varest semakin membuat Venus sesak. Dia merindukan outra kecilnya.


"Venus, bangunlah. Kau harus minum obat agar kesehatanmu membaik." Bibi Martha mengusap lembut rambut Venus, berusaha membangunkan wanita hamil itu.


Venus membuka matanya perlahan, matanya menatap sekeliling yang tampak asing. Saat ingat di mana saat ini dia berada, wanita seketika menangis. Tangis seorang Ibu yang merindukan anaknya, terdengar begitu memilukan dan menyayat hati.


"Bibi, di mana Varestku? Aku merindukannya, Bibi ...." Venus menangis menatap penuh permohonan pada Bibi Martha agar wanita tua itu membawa Varest padanya.


Bibi Martha ikut menangis, menatap pilu pada sosok yang dia kenal ceria kini harus menangis menyedihkan seperti itu.


"Nyonya, tolong jangan menangis lagi. Velly mohon jangan menangis lagi, percayalah Jenderal pasti akan membawa Tuan muda kembali." Velly bersimpuh di sisi ranjang tempat Venus terbaring.

__ADS_1


Ketiganya menangis bersama, merasakan sakit yang tidak bisa digambarkan. Venus bertanya-tanya mengapa Tuhan memberinya takdir mengerikan seperti ini. Jika saja bisa memilih, Venus lebih baik hidup sebagai orang biasa agar keselamatan anaknya terjamin.


Dokter Sifa yang melihat hal itu ikut bersedih. Sebagai seorang dokter kandungan, tentu Sifa tahu tangisan Venus adalah tangisan putus asa seorang Ibu.


"Nyonya, tolong jangan menangis lagi. Kesehatan Anda semakin menurun dan itu sangat berpengaruh pada janin yang Anda kandung." Dokter Sifa mendekat, membawa beberapa jenis obat serta vitamin untuk Venus.


"Apa yang dikatakan Dokter Sifa benar. Tolong jaga kesehatanmu demi bayi yang kau kandung. Minumlah obat dan beristirahat yang cukup, percayakan semua pada Jenderal. Jenderal pasti akan melakukan yang terbaik untuk putra kalian."


Bibi Marta dengan hati-hati membantu Venus duduk dan bersandar di atas ranjang. Venus hanya mampu menuruti perkataan Bibi Martha karena apa yang wanita paruh baya itu katakan benar.


Sekali lagi Venus mempercayakan semuanya pada Jenderal Virendra. Dia harus yakin Jenderal Virendra pasti melakukan berbagai cara agar putra mereka kembali dengan selamat.


*


*


"Jenderal, para penyusup yang saya kirim tidak menemukan hal aneh di tempat pengasingan. Semua berjalan seperti biasa, seolah tidak ada hal aneh." Sean segera memberikan laporan, informasi yang membuat Jenderal Virendra semakin pusing.

__ADS_1


Jenderal Virendra tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia baru saja menerima kabar bahwa kesehatan Venus semakin memburuk dan kandungannya semakin melemah.


"Sean, perintahkan para prajurit untuk menghabisi pemberontak itu tanpa sisa. Aku sudah muak memberi mereka keringanan!" Jenderal Virendra memberi perintah dengan tegas dan segera dilakukan oleh Sean.


Kini hanya tinggal Jenderal Virendra dan Letnan Dean di dalam markas. Letnan Dean tahu saat ini pasti Jenderal Virendra merasa sangat frustasi, memikirkan putranya yang diculik dan sang istri yang kesehatanya semakin memburuk.


"Jenderal, izinkan saya melewati perbatasan. Saya sendiri yang akan turun tangan menyeret mereka ke hadapan Jenderal." Letnan Dean membungkuk menandakan dia sangat memohon pada Jenderal Virendra.


Jenderal Virendra tampak berpikir sejenak. Daerah perbatasan tentu saja daerah yang terlarang karena jika melewati tanpa izin bisa menyebabkan peperangan antar Negara.


"Baiklah, aku mengizinkanmu." Ucap Jenderal Virendra pada akhirnya seraya menyerahkan sebuah lencana khusus pertanda izin dari Jenderal Negara Aleister. Dengan lencana itu Letnan Dean akan lebih leluasa.


Letnan Dean segera menerima lencana itu, memberi hormat pada Jenderal Virendra sebelum akhirnya pergi menuju daerah perbatasan.


Jenderal Virendra menatap kosong pada pintu markas yang tertutup rapat. Untuk pertama kalinya Jenderal Virendra merasa begitu lelah. Di satu sisi Jenderal Virendra ingin bergerak cepat dan menemukan Varest, sedangkan di sisi lain pikiran Jenderal Virendra tertuju pada Venus.


"Maafkan aku Venus karena sekali lagi harus membuatmu menderita. Maaf karena cintaku yang begitu besar ini menyeretmu dapat kehidupan yang penuh derita." Jenderal Virendra bergumam pelan, menunduk penuh penyesalan.

__ADS_1


Jenderal Virendra benar-benar merasa gagal menjadi seorang suami dan Ayah yang baik.


TBC


__ADS_2