
Namanya Via, berusia 25 tahun dia adalah adik sepupu Letnan Dean dan Sean. Cantik, terlihat sangat dewasa dan bertutur kata lembut. Itulah penilaian Venus saat pertama kali bertemu dengan Via. Alasan Via mengajukan diri menjadi pengasuh sementara Varest adalah untuk mengisi kekosongan. Sebagai putri tunggal, Via merasa begitu kesepian karena itulah dia berusaha mencari kesibukan lain.
"Kau tidak masalah menjadi pengasuh Varest? Maksudku, kau cantik dan masih muda, juga berpendidikan tinggi. Apakah tidak masalah bagimu? Aku bisa meminta Jenderal untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik untukmu." Venus berkata pelan, dia terlihat ragu akan Via.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya suka anak kecil karena itulah saya bersedia menjadi pengasuh Tuan Muda." Via tersenyum lembut, berusaha untuk meyakinkan Venus yang masih tampak ragu.
"Baiklah, aku menerimamu. Aku akan memberi tahu beberapa hal tentang putraku, setelah itu pelayan aku mengantar kau ke kamar."
Venus mulai memberitahu beberapa informasi penting mengenai Varest. Tentang apa yang putranya itu sukai dan tidak dia sukai, tentang alerginya dan beberapa hal penting lainnya. Diam-diam Jenderal Virendra mengamati kegiatan Venus, dia merasa sedikit lega karena Venus mau menerima pengasuh untuk Varest. Jenderal Virendra hanya ingin Venus benar-benar beristirahat total karena kandungannya yang semakin besar.
*
*
__ADS_1
Selama 1 bulan menjadi pengasuh Varest membuat Via sangat dekat dengan pria kecil itu. Kedekatan yang sukses membuat Venus merasa iri. Walaupun Varest selalu mengunjungi Venus dan bermain sebentar, tapi tetap saja sebagai seorang Ibu dia merasa sedih karena waktu bersama sang anak terbatas.
Seperti saat ini, Varest tengah berkunjung ke kamar Venus begitu anak itu pulang dari latihan. Sayangnya, hari sudah sore hingga tidak banyak waktu yang bisa mereka habiskan bersama. Venus merasa sangat sedih, tapi tidak bisa berbuat banyak.
"Ada apa?" tanya Jenderal Virendra yang baru saja di kamarnya dan langsung disambut wajah sedih Venus.
Venus menggeleng pelan, enggan untuk menjawab.
"Katakan ada apa? Aku tahu ada yang mengganggu pikiranmu saat ini." Ujar Jenderal Virendra yang saat ini sudah duduk di samping Venus.
Jenderal Virendra tersenyum kecil, kemudian menarik Venus ke dalam pelukannya.
"Kau sedang cemburu karena merasa putra kita lebih sering bersama pengasuhnya? Tidak apa-apa itu hal yang wajar karena kau seorang Ibu, tapi jangan terlalu memikirkannya."
__ADS_1
"Ya, mungkin aku terlalu berlebihan. Karena itulah bolehkah aku meminta satu hal? Aku ingin Varest tidur bersama kita." pinta Venus penuh harap.
"Baiklah, dia bisa tidur bersama kira di hari sabtu dan minggu. Sekarang jangan terlalu dipikirkan, aku tidak mau kau sakit lagi."
Venus mengangguk pelan disetai senyum manisnya. Dia sedikit merasa lega akan hal ini, menurutnya mungkin tidur bersama Varest bisa meringankan kesedihannya.
"Vir, ada satu hal yang mau aku tanyakan." Venus menatap Jenderal Virendra dengan serius.
"Apa itu?" tanya Jenderal Virendra sedikit tersenyum melihat ekspresi serius dari Venus.
"Setelah aku melahirkan, bolehkah aku meminta Via untuk tidak menjadi pengasuh Varest lagi? Aku hanya ingin merawat kedua anakku sendiri."
Jenderal Virendra mengiyakan permintaan Venus tanpa beban. Lagi pula Jenderal Virendra akan menyiapkan pelayan khusus nantinya untuk membantu Venus.
__ADS_1
Sedangkan Venus sebenarnya memiliki makna lagi dari permintaannya. Selama Via menjadi pengasuh Varest, entah mengapa Venus selalu merasa tidak nyaman. Seolah ada sesuatu didiri Via yang bukan hal baik. Entahlah, apakah ini hanya insting seorang Ibu dan Istri atau hanya rasa cemburu belaka?
TBC