
"Jadi, Jenderal bisa tolong jelaskan apa yang sudah Anda rencanakan?" Velly berkata dengan sangat lembut meski wajahnya memancarkan aura suram.
Perlu diingatkan bahwa Velly masih marah atas tindakan Jenderal Virendra yang ingin menikah lagi.
"Aku akan menjelaskan semuanya nanti, sekaran biarkan Venus beristirahat." Jenderal VIrendra segera menggandeng Venus dan Varest keluar dari aula pernikahan.
"Ayah, boleh Varest menemani Ibu istirahat? Varest janji tidak akan mengganggu Ibu." pinta Varest yan tentu saja mendapatkan izin dari Jenderal Virendra.
Velly hanya mampu mentap ketiganya dengan senyum kecil. Rasanya melegakan karena semua berjalan baik seperti apa yang dia rencanakan.
Velly sudah akan pergi kembali ke kamarnya ketika sebuah suara yang sangat dia kenali memanggil namanya dengan lembut. Siapa lagi kalau bukan suamniya yang begitu bodoh, Sean.
"Velly," suara lirih itu terdengar begitu lembut.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Velly tanpa mau menatap lawan bicaranya yang saat ini berdiri tepat di belakangnya.
"Maaf karena aku sudah bertindak bodoh. Jangan siksa aku dengan terus menjauh seperti ini." ucap Sean dengan sangat menyedihkan.
"Kau yang memaksaku untuk pergi, sepertinya kita benar-benar tidak cocok untuk bersama."
"Velly, aku mohon jangan berkata seperti itu."
"Aku lelah, jangan menggangguku. Yang aku butuhkan saat ini hanyala istirahat, kita akan membicarakan hal ini nanti."
__ADS_1
Velly segera melangkah pergi meninggalkan Sean yang tersiksa dengan rasa bersalah. Sean tidak akan bisa hidup tanpa Velly di sisinya, akan dia lakukan apapun untuk membuat Velly memaafkannya.
*
*
Venus menatap Jenderal Virendra dengan penasaran, dia ingin tahu apa yang sebenarnya pria itu rencanakan.
Saat ini mereka tengah duduk berdua menghabiskan waktu bersama. Varest sudah tertidur lebih dulu, sedangkan putri kecil mereka tertidur pulas dalam gendongan Venus.
"Saat aku menyelidiki apa yang terjadi padamu, aku menemukan banyak kejanggalan. Letnan Dean juga menemukan sebuah surat yang terjatuh di depan pintu kamar. Aku semakin yakin pelakunya adalah orang terdekat dan keyakinan itu diperkuat dengan adanya berita yang tersebar bahwa wanita itulah yang selama ini merawat serta menjaga Varest dengan tulus."
Venus hanya diam mendengarkan setiap cerita serta rencana Jendera Virendra dan Letnan Dean. Suaminya itu juga berkata dengan sengaja merahasiakan hal ini dari Velly karena mereka tidak ingin Velly berbuat nekad. Setelah semua rencana berjalan baik barulah mereka memberitahu Velly bahwa bukti kejahatan Via sudah ditemukan dan saatnya membawa Via serta orang tuanya ke dalam penjara.
"Hanya trik kecil agar wanita itu dan orang tuanya merasa senang. Setidaknya persiapan pernikahan membuat mereka lengah hingga mempermudah kita untuk menemukan segala bukti kejahatan mreka."
Venus menarik napas lega, setidaknya Jenderal Virendra tidak benar-benar ingin menikah lagi. Sebagai seorang istri tentu saja dia tidak rela suaminya menikah lagi.
"Tenanglah, aku tidak akan menikah dengan wanita manapun. Bagiku hanya kau yang pantas menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku. Aku hanya mencintaimu seorang."
Jenderal Virendra mendekat hendak mencium Venus yang sayangnya harus gagal karena putri kecil mereka menangis. Venus tersenyum lembut, menenangkan sang putri agar tertidur kembali.
"Putri kita belum memiliki nama?" tanya Venus setelah sang putri kembali tertidur pulas.'
__ADS_1
"Aku sengaja menunggumu untuk memberinya nama. Sekarang waktunya kau memberi nama untuk putri kecil kita."
Venus tersenyum penuh haru, dia tidak menyangka Jenderal Virendra akan menepati janjinya dengan membiarkan Venus memberi nama untuk putri mereka.
"Vanya, artinnya hadiah dari Tuhan. Putri kita adalah hadiah dari Tuhan yang sangat indah." Venus menatap penuh cinta pada putrinya yang begitu cantik dan menggemaskan.
"Terima kasih karena sudah kembali bersama kami," bisik Jenderal Virendra lirih.
Keduanya berpelukan dengan erat, menyalurkan rasa cinta dan kerinduan mereka. Hati mereka sangat lega karena bisa kembali bersatu kembali menjadi keluarga yang utuh.
"Ehmm ... VIr, bagaimana dengan Sean? Aku sudah mendengar ceritanya dari Velly." ucap Venus ketika teringat dengan nasib Sean.
"Aku sudah menyiapkan hukuman khusus untuknya. Besok dialah yang akan memberi hukuman untuk para penjahat itu, kita biarkan dia merasa tersiksa dengan rasa bersalah setelah itu kita bisa memberinya kesempatan untuk memperbaiki apa yang sudah dia rusak."
Venus sedikit lega karena Sean tidak menjalani hukuman berat. Bagaimanapun dia mengerti seperit apa perasaan Sean, lagipulla Sean tidak melakukan kesalahan yang besar. Pria itu hanya terlalu mempercayai orang yang dia anggap keluarga. Selain itu, sudah ada hukuman berat yang Velly berikan untuk Sean dan Venus tahu betapa tersiksanya pria iu saat ini.
TBC
Judul : Cinta untuk Gabriella
*Seumur hidup Gabby hanya mencintai Rio seorang, sayangnya pria itu mencintai wanita lain. Meski begitu, Gabby tetap setia menunggu Rio membalas cintanya. Namun, harapan Gabby pupus saat Rio menikahi wanita lain.
__ADS_1
Disisi lain, ada Ella yang justru terjebak dalam permainan Rio. Ella di hadapkan pilihan berjuang sendiri melawan Rio atau memasrahkan diri dalam belenggu dendam pria itu*.