My Beautiful Venus

My Beautiful Venus
Bab 59 - MBV -


__ADS_3

Jenderal Virendra merasa sangat marah karena gagal membawa Varest kembali. Pria itu merasa menyesal karena terlambat menjemput putranya. Jenderal Virendra melampiaskan amarahnya dengan memukul kaca di depannya hingga pecah.


Tidak memedulikan darah segar yang mengalir ditangannya, Jenderal Virendra segera memanggil Letnan Dean. Dia harus melampiaskan amarahnya hari ini juga.


"Ada apa, Jenderal?" tanya Letnan Dean ketika melihat darah segar yang menetes dari tangan Jenderal Virendra.


"Kumpulan pasukan, hari ini juga kita akan menyerang para pemberontak dan mengambil alih daerah kekuasaan mereka. Tidak peduli siapapun yang terlibat dalam penculikan Varest maka dia harus merasakan sakit yang mengerikan!"


Mata Jenderal Virendra berkobar penuh amarah. Wajahnya mengeras, menambah kesan menakutkan di balik wajah tampannya.


"Siap, Jenderal!" Letnan Dean memberi hormat dan segera pergi mengundi pasukan.


Sebagai sahabat yang mengenal Jenderal Virendra selama bertahun-tahun, tentu Letnan Dean tahu apa yang akan Jenderal Virendra lakukan. Semua orang di Negara Aleister tahu betapa kejam pria itu jika sedang marah.


*


*


Jenderal Virendra sudah siap untuk pergi berperang ketika salah seorang pelayan datang menemuinya. Jenderal Virendra tahu pelayan ini dia utus untuk membantu Venus dimasa persembunyiannya.


"Jenderal, saya mohon ampun!" Pelayan itu bersujud memohon ampun di bawah kaki Jenderal Virendra.


Letnan Dean dan Sean menatap kaget. Mereka tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan pelayan ini hingga bersujud memohon ampun seperti ini.

__ADS_1


"Katakan, apa tujuan?" Jenderal Virendra bertanya dengan nada datar.


"Nyonya--Nyonya hilang, Jenderal!"


Deg...


Jantung Jenderal Virendra berdetak kencang mendengar laporan itu. Jika saja Jenderal Virendra bukan seorang Jenderal mungkin pria itu sudah jatuh pingsan.


"Apa katamu?" Sean bertanya kaget, tidak menyangka akan mendengar kabar buruk ini.


"Nyonya hilang, Jenderal. Saat saya ingin membantukan Nyonya, beliau sudah tidak ada di kamar."


"Apakah istriku diculik?" tanya Jenderal Virendra setelah bisa menguasai diri.


Mendengar informasi tersebut, Jenderal Virendra yakin istrinya itu kabur. Jenderal Virendra mengenal betapa keras kepalanya Venus dan dia tidak ragu mengatakan jika Venus kabur untuk mencari Varest seorang diri.


"Kenapa kau tidak menungguku?" Jenderal Virendra bergumam lirih, merasa sangat bersalah.


"Jenderal--" ucapan Sean terhenti ketika Letnan Dean memintanya untuk diam.


Letnan Dean tahu saat ini pikirannya Jenderal Virendra sedang tidak fokus. Dia yakin Jenderal Virendra sedang memikirkan rencana lain.


"Perintahkan pasukan khusus untuk mencari keberadaan istriku! Perang ini tetap dilanjutkan dan aku yang akan memimpin!" perintah Jenderal Virendra dengan tegas.

__ADS_1


"Siap laksanakan, Jenderal!" Letnan Dean dan Sean menjawab dengan tegas, keduanya bergegas mengatur pasukan.


"Kau pelayan, kembalilah dan katakan pada Martha untuk tetap tenang. Percayalah bahwa Venus akan segera kembali!"


"Baik, Jenderal." Pelayan tersebut menjawab dengan gemetar kemudian segera pergi setelah memberi salah penghormatan.


*


*


Di rumah lamanya, Venus bersama dengan Varest sedang menunggu waktu yang tepat untuk kembali. Venus yakin saat ini Jenderal Virendra sedang mengerahkan pasukan untuk mencarinya.


Di luar sana sangat berbahaya dan akan sangat beresiko jika Venus keluar sekarang. Dia yakin musuh saat ini sedang mencari Varest.


"Sayang, tunggulah sebentar. Ibu yakin Ayah akan datang menjemput kita. Jika sampai malam Ayah belum datang, itu artinya kita harus bergegas kembali karna Ayah tidak bisa menjemput kita."


"Baik, Ibu." Varest menjawab pelan disertai senyum polosnya.


Anak itu merasa sangat aman ketika berada dalam pelukan Ibunya. Dia juga sangat yakin jika nanti Ayahnya sendirilah yang datang menjemput mereka.


Sedangkan di luar sana, suasana tampak mencengkam karena Jenderal Virendra telah maju menyerang musuh. Dengan tangannya sendiri, Jenderal Virendra melumpuhkan musuh dan bertekuk di hadapannya.


Saat ini Jenderal Virendra sedang membalaskan dendam atas derita putranya yang diculik selama 3 hari. Jenderal Virendra akan membuat para musuh menyesal karena telah berani menyentuh putra kesayangannya. Hari ini, pria itu kembali seperti dulu, pria yang dikenal di medan perang sebagi pria berdarah dingin.

__ADS_1


TBC


__ADS_2