My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.14 - Mak Comblang


__ADS_3

Sambil menunggu Daisy berbicara dengan Manajernya, Charles bertanya pada anaknya," kamu punya rencana apa hah?"


Mendengar papa nya bertanya Evan hanya menjawab sekedarnya," mau makan sama Daisy, memangnya apalagi," terpancar senyuman licik di wajah Evan.


Daisy tidak tahu kalau dua orang di depannya adalah orang penting yang menyelenggarakan acara tadi. Charles Mahesa adalah pembisnis muda tampan dengan talenta luar biasa walaupun bukan perusahaan yang besar tapi kabarnya dia adalah pengusaha yang baik dan berwibawa, tidak hanya sukses banyak orang yang mengaguminya. Dan dia menikah di usia muda saat berumur 26 tahun, di kabarkan istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu. Hanya saudara dan kerabat dekatnya saja yang tahu kalau dia sudah punya anak.


Evan Mahesa putra lelaki dari Charles Mahesa, wajahnya imut dan sangat mirip dengan papa nya. Dia menangis di pojokan karena tersesat, dia sangat membenci perempuan, baginya perempuan itu makhluk menjijikan dan merepotkan. Ya dia memang anak kecil, tapi punya insting yang tajam, sering kali dia melihat kalau ada wanita yang berusaha menggoda papa nya, dan para wanita itu selalu memakai parfum menyengat membuatnya tak nyaman. Karena tidak ingin mempublikasikan anaknya maka Evan di akui sebagai keponakannya pada publik.


Mereka memutuskan untuk makan steak dan memesannya di Hotel Restoran, tidak banyak orang disana dan mereka memilih Vip Room karena Charles tidak mau ada berita yang sampai menangkap mereka bertiga dan tersiar kabar tak sedap.


Sesungguhnya Daisy tidak punya niatan untuk makan bersama mereka, mengingat dia sudah menikah dan ingin menjaga jarak dengan lelaki manapun, tapi melihat Evan menangis membuat hatinya pilu. Dia menjadi rindu dengan ayahnya.


Melihat Daisy yang jadi diam Evan pun memecah keheningan," Kak Daisy, kenapa diam aja. Kamu gak bisa motong dagingnya ?"


Daisy yang kaget pun menjawab," bisa kok, cuma lagi nunggu Evan biar kita makan bareng."


Aduh calon mamah ku perlu dibantu." Pah, bantuin kak Daisy potong dagingnya dong. Kok malah asik makan sendiri."


Charles yang kaget karna perhatian anaknya pada wanita didepannya hanya bisa menurutinya," Daisy, biar ku potongkan dagingnya," langsung mengambil piring Daisy.


Merasa sungkan tapi juga tidak enak jika menolak jadi Daisy hanya tersenyum dan berucap," terima kasih, maaf merepotkan Pak Charles."


"Kak Daisy jangan panggil pak dong, papah ku masih muda dan single." Entah kenapa anak seusianya sangat pandai berbicara, lidahnya begitu licin. Anak jaman sekarang terlalu menyeramkan.


"Panggil saja aku Charles, maaf ya Evan memang gak sopan." Mulai mengerti maksud anaknya, Charles pun mulai memperhatikan Daisy dari ujung rambut sampai kaki. Sempurna, pikirnya.


"Kak Daisy sudah punya pacar belum," tanya Evan tanpa ragu.


Charles dan Daisy keduanya tersedak atas pertanyaan bocah kecil itu.


Anak ini kok jadi gak tahu malu yah, siapa yang didik dia jadi begini. " Evan gak sopan ah, minta maaf sama kak Daisy gih."


Bukan pacar sih tapi suami gumam Daisy dalam hati, " gak punya Van, habisin makannya gih baru ngobrol."


Mata Evan dan Charles berbinar terang, bagai melihat bintang jatuh ke arah mereka. Evan pun meminta nomor whatsapp Daisy. Daisy yang tidak menaruh curiga apapun langsung memberikan nomor telponnya.


"Charles dan Evan maaf ya, aku harus kembali."


"Kak Daisy nanti kita telponan yah."

__ADS_1


"Iya, selamat tinggal Evan."


-


-


"Pah...."


"Hem...?"


"Daisy akan jadi calon mamahku."


"Iya..iya ayo masuk, sudah waktunya kamu mandi."


"Loh Evan serius loh, kalau papah gak mau biar Kak Daisy jadi istrinya Evan aja."


"Kayaknya kamu terlalu banyak bergaul sama sepupumu yah, omonganmu udah kaya orang dewasa aja. Mana mau kak Daisy sama kamu."


-


-


Daisy mampir ke minimarket untuk membeli bahan makanan, seperti biasa dia yang masak dan Zhafran yang mencuci piring.


-


-


Sesampainya di rumah dia melihat suaminya sedang duduk di sofa sambil menonton TV.


Zhafran yang melihat istrinya membawa belanjaan datang membantu dan menaruhnya di dapur.


"Lelah ?" tanya Zhafran.


Daisy memasang celemek bewarna pink lalu mengikat rambutnya," gak lelah kok, maaf ya telat tadi ke hotel dulu ada acara."


Melihat Daisy yang mulai memotong sayuran, Zhafran merasa bahagia sekali, dia merasa sangat istimewa. Daisy selalu memasak makanan untuknya walaupun kelelahan, dimatanya wanita ini sangat kuat dan setiap tindakannya sangat se ksi. Zhafran memeluknya dari belakang membuat Daisy kaget dan pisau mengenai jari nya.


"Daisy!" teriak Zhafran, padahal Daisy santuy.

__ADS_1


Darah pun menetes dari jemari Daisy. Zhafran yang melihat itu langsung syok berlari membawa P3K dan menelpon asisten serta dokter pribadinya.


Zhafran tidak berkata apapun mata dan tangannya fokus mengobati tangan Daisy, sekujur tubuhnya keluar keringat. Pertama kali dia melukai seseorang dan itu adalah istrinya sendiri.


Melihat wajah Zhafran yang pucat Daisy pun mengelus kepalanya dan berkata," Hei. Aku gak papa cuma tergores saja aku sudah terbiasa."


Kaget mendengar perkataan Daisy, dia langsung mencium jemarinya. Dia tahu Daisy pernah terluka dan dia berjanji untuk tidak akan melakukan hal yang sama, walau beda jenisnya. Baginya luka tetaplah luka pasti ada bekasnya.


Asisten Ren dan dokter pribadinya Zhafran datang, mereka masuk dengan sangat terburu-buru.


"Tuan, apa kau terluka," ucap Ren yang berlari menghampiri Zhafran.


"Woy yang luka aku bukan dia," gerutu Daisy.


"Kalian periksa istriku, dia yang terluka bukan aku."


"Ah.. Nyonya terluka, kenapa bisa ?" tanya Ren.


"Karna aku yang melukainya," jawab Zhafran tertunduk kesal, masih menyalahkan dirinya sendiri.


"Astaga cuma kegores woy," suara rintihan hati Daisy.


Ren tahu Tuannya Zhafran memang orang yang dingin dan bisa bertindak kejam tidak heran jika orang lain akan terluka, tapi melukai istrinya sendiri rasanya mustahil untuk bisa dipercaya, Ren hanya larut dalam pikirannya.


"Istriku, di depanmu adalah dokter hebat pribadiku. Percayakan jarimu padanya," melotot dingin ke arah dokter itu.


"Selamat malam Nyonya Zhafran. Nama saya Farhan, kalau boleh saya tahu kenapa jari anda terluka." Sambil memeriksa jari Daisy lalu membalutnya dengan perban. Sebenarnya dia tahu kalau lukanya tidaklah parah tapi karna dia adalah dokter berkualitas sudah seharusnya dia melalukan tanggung jawabnya dengan maksimal. Tidak meremehkan luka sekecil apapun, apalagi dari tadi ada tatapan dingin yang mengarah padanya dari belakang.


"Hanya tergores pisau saat memotong sayuran kok."


Daisy sangat malu dan merasa tidak enak, hanya luka kecil sampai merepotkan orang lain di malam hari.


"Maaf, tapi katanya Tuan yang melukai Nyonya? tanya Ren.


"Itu karna aku tiba-tiba memeluknya pas dia motong sayuran, sudah jelas salahku kan."


Orang yang terkenal dingin kini menyalahkan dirinya sendiri seperti idiot terlihat lucu di mata Farhan. Dan Ren hanya menatap mata Tuannya, dia masih berusaha mencerna perkatannya. Sejak kapan Tuan yang dia banggakan jadi se idiot ini.


Ada - ada saja ya tingkahnya Zhafran dan Evan.....

__ADS_1


Bersambung.


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca. Jangan lupa jejak berupa Like, Vote, Komen, Klik ❤ dan Rate ⭐5.


__ADS_2