
Kaget dengan pernyataan suaminya, Daisy diam membisu mencoba mencerna maksud kalimat tersebut. Sulit baginya untuk percaya dengan sesuatu yang namanya cinta karena pengalaman pahitnya di masa lalu membuatnya lebih menjaga hatinya, dia takut ketika percaya dan mencintai lagi akan ada penghianatan . Selama ini dia selalu melapisi hatinya dengan tembok besi yang sulit ditembus dia bertekat untuk tidak menunjukkan perasaannya lagi pada seseorang.
Akankah seseorang bisa cemburu ketika mereka tidak saling mencintai ? ataukah hanya semacam obsesi yang mendominasi, dia tidak pernah sekalipun mengharapkan cinta tapi ketika seseorang yang mulai dekat dengannya memberikan begitu banyak perhatian dan mengucapkan kata-kata barusan dia takut akan tergoyahkan.
"Maaf Pak Zhafran lain kali saya akan lebih memperhatikan, dan tidak mengulanginya lagi di masa depan," menunduk karena tidak mampu menatap mata suaminya.
"Really, Pak Zhafran ?" Zhafran mengerutkan sebelah alisnya dengan ekspresi penuh kekesalan.
"Sepertinya bapak punya banyak pekerjaan, saya akan kembali ke ruangan saya," berbalik hendak membuka pintu untuk keluar tapi dia tidak sadar kalau lelaki dibelakangnya menahan amarah.
Hanya diam sambil menatap punggung istrinya yang berjalan pergi, Zhafran kembali duduk dan mendesah dengan posisi sikut yang menempel di meja dan memegang kepalanya dia mulai mendesah perasaannya campur aduk, selama ini dia mampu mengendalikan emosinya dan selalu bisa beragumen dengan lawan bisnisnya tapi hanya dengan Daisy dia merasa sulit mengontrol emosinya.
"Dasar wanita keras kepala," gumamnya pelan.
Zhafran tidak menyadari Ren masuk ke dalam ruangan ketika Daisy membuka pintu, Ren yang masuk keruangan sambil memegang berkas merasakan dingin yang membuatnya merinding.
"Tuan ," ucapnya pelan, Ren sedikit terkejut melihat Tuannya yang selalu berkarisma kini terduduk lemas dengan wajah murung.
Tapi dia harus segera melanjutkan pekerjaannya," bisakah anda memeriksa dokumen ini, dan apa perlu susu hangat ?" ucapnya dengan sopan sambil meletakkan dokumen di meja Zhafran.
"Hemmmm," menatap Ren dengan serius dan mengeluarkan aura dingin.
"Astaga apa aku melakukan kesalahan lagi," gumam Ren pelan, lalu segera pergi untuk menyiapkan susu hangat kesukaan Tuannya.
Beberapa menit kemudian Daisy dengan perasaan yang campur aduk sudah keluar dari ruangan bossnya, tanpa sengaja berpapasan dengan Sarah.
Keduanya masuk ke dalam lift yang sama dan Sarah menatap dingin ke arah Daisy dengan penuh rasa kebencian, Daisy yang sadar akan hal itu hanya memalingkan wajahnya dengan ekspresi datar.
"Enak ya bisa keluar masuk ke ruangan boss, pasti bisa memanfaatkan kesempatan kan ya, tapi apa kamu gak tahu kalau boss kita sudah menikah ? jangan sampai kamu di cela sebagai pelakor loh."
Daisy tersenyum kecut lalu menjawab," aku bekerja dengan baik semua hal yang ku lakukan berurusan dengan pekerjaan, jika kau tahu boss kita sudah menikah lantas kenapa masih mau mendekatinya ? apa kau tidak punya malu."
Dari mana dia tahu Zhafran sudah menikah," gumamnya dalam hati.
Sarah menjadi muram dan kaget tidak biasanya Daisy yang selalu mengabaikannya kini membalas perkataannya dengan kejam.
__ADS_1
Daisy sudah sampai dan segera keluar dari lift dengan anggun.
"Des," suara nyaring Diana mengagetkan Daisy," sudah baca email belum ? ada pengumuman heboh loh kalau boss ganteng kita si Presiden yang super sempurna itu sudah menikah."
Seharian sibuk dengan pekerjaannya mana sempat dia membuka email tapi terpancar senyuman tipis di wajahnya. Apakah suaminya sengaja melakukan itu deminya agar semua orang tahu dia sudah menikah dan tidak ada yang akan mendekatinya lagi? dia tahu kalau suaminya tengah cemburu, sulit memang untuk percaya tapi ada perasaan manis dan membuat hatinya sedikit tenang.
Sarah yang sedari tadi jengkel mengetahui boss barunya sudah menikah memikirkan berbagai cara untuk mendekatinya bahkan jika dia sudah punya istri lantas kenapa? toh Daisy lebih murahan dari pada dia. Mengingat Daisy membuatnya semakin lebih kesal, bagaimana cara menyingkirkan wanita rubah itu dan membuatnya keluar dari Perusahaan.
Daisy tahu, banyak yang mengincar suaminya tapi tidak ada yang terang-terangan seperti Sarah, seolah menunjukkan persaingan pada semua wanita yang ada disini terutama pada Daisy dia jelas memulai permusuhan. Tapi Daisy seperti biasanya tidak mau memperdulikan hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan baginya hanya membuang waktu dan tenaga.
"Astaga aku lupa bilang kalau mau makan malam dengan rekan kerja," gumamnya pelan, lalu dia mengirim chat ke suaminya," aku akan pergi makan malam dengan rekan kerja untuk perayaan kecil."
Tidak ada balasan dari suaminya, apakah dia tidak membaca chat nya karena sibuk ataukah sengaja mengabaikannya.
Akhirnya jam kerja berakhir dia segera ke minimarket untuk membeli beberapa bahan masakan untuk malam malam suaminya, tidak hanya profesional dalam bekerja tapi juga dia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri, lebih baik aku menelponnya siapa tahu dia mau makan makanan lain jadi aku tidak boros membeli asal lagi.
"Apa dia masih marah, kok lama banget diangkat."
Ketika Daisy menelpon, Zhafran sedang rapat dengan beberapa pejabat penting lalu dia memberikan isyarat dengan mengetukkan telunjuk jarinya di meja agar semua orang yang ada disana diam dan menjawab telponnya," hemm ?"
"Kau ingin makan apa ? aku sedang di minimarket."
Ren dan Ran yang mendengar perkataan Tuannya seketika merinding bukan karena takut tapi karena merasa tidak biasa dengan pernyataan yang didengar dari bossnya, mereka tahu Zhafran sangat pembersih dan sangat pemilih soal urusan makan.
Para pejabat yang hadir di rapat tidak mendengar jelas percakapan dari Zhafran, mereka hanya menyembunyikan tatapan heran. Biasanya Zhafran tidak akan pernah menerima telpon saat rapat apalagi memasang ekspresi lembut seperti tadi.
"Tindak lanjuti lebih dalam, kita akhiri rapat hari ini," ucapnya tegas memecah keheningan.
Zhafran segera bergegas keluar dan kedua asistennya mengikutinya dari belakang.
"Tuan ada hal mendesak apa ?" tanya Ren memasang ekspresi khawatir.
"Aku harus cuci piring," ucap Zhafran pelan.
Ran dan Ren semakin syok dan tidak bisa berkata- kata apakah Tuannya sedang bercanda tapi tidak mungkin, mereka tahu Zhafran adalah seorang pangeran muda yang selama hidupnya selalu dilayani tentunya dia tidak pernah sekalipun mencuci piring. Apakah hal tersebut berhubungan dengan telpon barusan ? Ran dan Ren semakin penasaran tapi tidak punya keberanian untuk bertanya.
__ADS_1
Sesampainya dirumah Zhafran buru-buru menuju dapur. Dilihatnya istrinya yang manis mulai memasak mengenakan celemek bewarna pink, dengan rambut dikuncir kebelakang memprlihatkan leher kecilnya yang putih
"Daisy aku pulang," Zhafran berjalan mendekat ke arah dapur.
Sambil memasak dia berkata," mandilah sebentar lagi makanan siap."
"Daisy." Zhafran menatap Istrinya dengan hangat.
"Ya?" menjawab tanpa memandang.
"Emm, aku akan mandi." Zhafran berjalan pergi.
Perasan Zhafran tidak pernah sebaik ini ketika ada orang yang memasakkan makanan untuknya, rasanya apapun bisa dia makan asal istrinya yang membuatnya, setelah mandi dan berpakaian dia melihat makanan sudah siap dengan rapi di meja makan, dia melahap semua makanannya kecuali kecambah. Zhafran tidak menyukai kecambah semenjak dia kecil.
"Habiskan kecambahnya itu sangat sehat loh untuk tubuh jadi makanlah lebih banyak," mengambil kecambah dan meletakkan dipiring suaminya.
"Ok," Jawab Zhafran sambil mengangguk.
Ada perasaan sedikit sedih walaupun makanan lain dilahap habis tapi Zhafran sama sekali tidak menyentuh kecambahnya.
"Apa dia alergi kecambah atau gak suka ? kenapa gak ngomong," gumannya dalam hati.
"Malam ini aku akan pergi keluar untuk makan malam bersama rekan."
Tidak ada jawaban dari Zhafran, dia masih sibuk menikmati makanannya. Daisy tahu Zhafran jarang berbicara saat makan tapi apakah ini tidak berlebihan, ketika seseorang bertanya seharusnya dia segera menjawabnya.
Suasana menjadi hening lagi, Zhafran yang telah selesai makan mengusap mulutnya dengan tisu dan mulai berkata," bukankah kita baru saja makan."
Zhafran melanjutkan membersihkan meja dan mencuci piring dengan wajah serius, lalu Daisy mendekat dan berkata," ya aku tahu."
Tidak ada reaksi dari suaminya Daisy merasa terabaikan, mungkin baginya itu bukanlah urusannya jadi di masa depan Daisy tidak akan meminta izin padanya, karena hubungan mereka belum sampai ke tahap lebih dalam dan tidak ada cinta di dalamnya. Akhirnya Daisy hanya larut dalam pikirannya dan menuju kamar mandi.
Akankah Daisy bisa keluar malam ini ?.....
Bersambung.
__ADS_1
Note :
Ingatlah hal-hal sepele di mata kita bisa melukai hati pasangan, jadi bagi kalian yang punya pasangan hargai mereka, tunjukkan kalau kalian perduli maka pasangan akan merasa dihargai. Jangan lupa like dan koment ya + klik ❤